Seseorang yang Baru Pulih dari Sakit Tidak Dianjurkan Kerja Total
Jakarta, CNBC Indonesia - Seseorang yang telah menjalani pengobatan atau masa pemulihan, kebanyakan merasa sudah jauh lebih baik untuk melakukan berbagai aktivitas. Di mana keluhan utama berkurang, kondisi terlihat stabil, dan secara umum dinilai sudah sehat.
Namun, apakah itu berarti seseorang tersebut sudah siap kembali menjalankan pekerjaan seperti biasa? Jawabannya, belum tentu. Seseorang yang baru pulih dari sakit atau cedera mungkin sudah dapat beraktivitas sehari-hari, tetapi masih mudah lelah, belum mampu berkonsentrasi dalam waktu lama, atau belum kuat melakukan aktivitas fisik tertentu.
Kondisi tersebut tidak selalu terlihat dari pemeriksaan kesehatan umum, tetapi dapat memengaruhi kesiapan saat kembali bekerja. Bagi perusahaan, yang perlu dipastikan bukan hanya apakah karyawan sudah sembuh, tetapi juga apakah kondisi kesehatannya sudah sesuai dengan pekerjaan yang akan dijalankan.
Di sinilah penilaian fit to work oleh dokter spesialis kedokteran okupasi menjadi penting. Menurut dr. Shanti Puji Lestari, Sp.Ok., AIFO-K dari Mayapada Hospital Jakarta Selatan, sehat belum tentu berarti seseorang siap menjalankan pekerjaannya. Dalam kedokteran okupasi, fit to work berarti kondisi kesehatan seseorang sesuai dengan pekerjaan yang dijalankan.
"Penilaian fit to work perlu melihat kondisi kesehatan dalam konteks jenis pekerjaan dan aktivitas yang dilakukan. Untuk menentukannya, dokter tidak hanya melihat ada atau tidaknya penyakit, tetapi juga melakukan occupational risk assessment atau penilaian risiko kesehatan yang dapat muncul dari pekerjaan dan lingkungan kerja. Dalam proses tersebut, dokter mempertimbangkan kemampuan fisik dan mental, lingkungan kerja, serta risiko yang mungkin dihadapi pekerja," kata dr. Shanti dalam keterangan resmi, Kamis (5/11/2026).
Hasil asesmen dapat menjadi dasar untuk menentukan apakah seseorang dapat kembali bekerja seperti biasa, membutuhkan penyesuaian atau pembatasan tertentu, atau masih memerlukan pemulihan dan evaluasi lebih lanjut.
"Penyesuaian kerja bukan berarti seseorang tidak dapat bekerja. Dalam kondisi tertentu, pekerja dapat kembali secara bertahap atau dengan modifikasi tugas sesuai rekomendasi medis, sehingga pekerjaan dapat dijalankan sesuai kemampuan dan kondisi kesehatan," lanjut dr. Shanti.
Kehadiran di tempat kerja tidak selalu berarti seseorang sudah dapat bekerja secara optimal. Ada kondisi ketika pekerja tetap hadir, tetapi kemampuan fisik, konsentrasi, atau energinya masih terbatas karena belum sepenuhnya pulih. Kondisi ini dikenal sebagai presenteeism.
Karena itu, pemantauan kesehatan secara berkala juga penting, salah satunya melalui Medical Check Up (MCU) yang dapat disesuaikan dengan jenis dan kebutuhan pekerjaan. dr. Andreas Kresna, Sp.Ok dari Mayapada Hospital Kuningan menjelaskan, MCU berkala bukan hanya untuk mengetahui apakah seseorang sedang sakit.
Hasil MCU dapat membantu perusahaan memantau perubahan kondisi kesehatan pekerja dan mengenali risiko kesehatan sejak dini," jelas dr. Andreas.
Dokter Andreas kemudian menyarankan agar program MCU dirancang sesuai dengan jenis pekerjaan, faktor risiko, dan karakteristik lingkungan kerja, bukan menggunakan pemeriksaan yang sama untuk seluruh pekerja.
"Pada pekerja kantoran, misalnya, pemeriksaan dapat mencakup pengukuran tekanan darah, kadar gula darah, dan kondisi metabolik. Selain itu, posisi tubuh dan cara kerja sehari-hari, seperti posisi duduk atau penggunaan komputer, juga perlu diperhatikan karena dapat memengaruhi kesehatan. Dengan mengetahui risiko sejak lebih awal, langkah pencegahan dapat dilakukan sebelum berkembang menjadi masalah kesehatan yang memengaruhi aktivitas kerja," jelasnya.
Sebagai bagian dari upaya mendukung kesehatan pekerja secara menyeluruh, Mayapada Hospital memiliki Tim Dokter Spesialis Kedokteran Okupasi serta layanan kesehatan yang dipersonalisasi sesuai kebutuhan pekerja dan perusahaan, mulai dari pemantauan kesehatan berkala dan identifikasi risiko hingga penilaian kelayakan serta rekomendasi pencegahan dan penyesuaian kerja.
Dalam rangkaian Indonesia Human Capital & Beyond Summit (IHCBS) 2026 pada 15-16 September, Mayapada Healthcare turut memberikan edukasi bersama dokter spesialis kedokteran okupasi, yaitu dr. Shanti Puji Lestari, Sp.Ok., AIFO-K dan dr. Andreas Kresna, Sp.Ok, serta dokter spesialis kedokteran olahraga, dr. Monica Harvirza, Sp.KO, bersama berbagai dokter dan tenaga ahli terkait, yaitu dr. Haryadi Wijaya, Sp.PD; dr. Ika Safira, Sp.PD; dr. Stefanie Tarigan, M.Ked(Cardio), SpJP; Moerdiono Ramadhana Reksoprodjo, S.Psi., M.Si., M.Psi., Psikolog; dan dr. Erdy Tochrisna Satyadi, MARS, MKK.
Dalam kesempatan tersebut, Mayapada Healthcare sekaligus memperkenalkan rangkaian solusi kesehatan untuk perusahaan, mencakup Fit to Work, Back to Work, MCU & ProHealth berbasis AI, program kebugaran dan kesehatan mental, Employee Assistance Program, hingga layanan Occupational Health Center dan kegawatdaruratan 24/7.
Untuk informasi dan jadwal konsultasi, Anda dapat menghubungi Call Center 150770, WhatsApp 0817-17-150770, Emergency 150990, atau melalui aplikasi MyCare. Selain untuk mengakses layanan kesehatan, aplikasi MyCare juga dilengkapi fitur Personal Health untuk membantu memantau kebugaran melalui beberapa indikator, seperti detak jantung, jumlah langkah, kalori terbakar, hingga Body Mass Index (BMI).
(dpu/dpu)