Jutaan Kondom Asal Malaysia Ditarik dari Pasar, Diduga Tak Aman

Linda Hasibuan, CNBC Indonesia
Selasa, 03/11/2026 15:00 WIB
Foto: Ilustrasi kondom (REUTERS/Hasnoor Hussain)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah Prancis menarik sekitar 7 juta kondom dari peredaran di pasar Uni Eropa setelah ditemukan adanya cacat produksi yang berpotensi meningkatkan risiko kondom robek atau bocor saat digunakan.

Melansir Euro News, penarikan tersebut dilakukan menyusul hasil investigasi otoritas perlindungan konsumen Prancis yang menemukan masalah pada sejumlah produk kondom ultra-tipis buatan perusahaan asal Malaysia, Richter Rubber Technology.

Cacat produksi tersebut dikhawatirkan dapat mengurangi efektivitas kondom dalam memberikan perlindungan terhadap infeksi menular seksual (IMS) maupun kehamilan yang tidak direncanakan.


Dikutip dari Euronews, Senin (2/11/2026), otoritas Prancis memerintahkan penarikan 15 jenis kondom yang telah dipasarkan di sejumlah negara Eropa. Produk-produk tersebut diketahui menggunakan proses produksi yang menyebabkan ketebalan dan kualitas lapisan lateks tidak konsisten.

Hasil pengujian laboratorium menunjukkan sejumlah kondom tidak memenuhi standar pengujian tekanan, volume pecah, serta ketahanan terhadap kebocoran atau lubang di materialnya.

Otoritas Prancis juga mengungkapkan bahwa terdapat laporan dari sejumlah pengguna mengenai kondom yang pecah saat digunakan, bahkan dikaitkan dengan kasus kehamilan yang tidak diinginkan pada kelompok produk yang diuji.

Secara keseluruhan, produk yang terdampak diperkirakan mencapai 7 juta kondom di seluruh Uni Eropa. Meski demikian, tidak seluruh produk tersebut dipasarkan di Prancis.

Sebagai langkah pencegahan, pemerintah Prancis menghentikan sementara penjualan dan impor seluruh kondom ultra-tipis dari produsen tersebut yang menggunakan proses produksi bermasalah. Larangan ini berlaku selama satu tahun dan dapat diperpanjang apabila diperlukan.

Delapan Pengguna Melaporkan Kondom Robek

Penarikan terbaru ini merupakan kelanjutan dari investigasi yang dilakukan setelah gelombang pertama penarikan kondom pada akhir Mei dan awal Agustus 2026.

Dalam tahap sebelumnya, sekitar 260.000 kondom telah ditarik dari peredaran. Sejak penarikan awal tersebut, delapan pengguna melaporkan kejadian kondom robek saat digunakan.

Otoritas Prancis kemudian memperluas penyelidikan untuk mengetahui sumber permasalahan. Hasilnya mengarah pada proses produksi yang digunakan Richter Rubber Technology, yang dinilai tidak mampu menjaga konsistensi kualitas dan ketebalan lapisan lateks.

Produk-produk terdampak diketahui telah didistribusikan ke pasar Eropa dengan sejumlah merek berbeda. Pemerintah Prancis pun memerintahkan agar produk tersebut segera ditarik dari toko maupun dikembalikan oleh konsumen yang telah membelinya.

Konsumen Diminta Melakukan Pemeriksaan Kesehatan

Menyusul penarikan tersebut, otoritas Prancis mengimbau masyarakat yang pernah menggunakan kondom dari kelompok produk terdampak untuk segera mengambil langkah pencegahan.

Konsumen disarankan menjalani pemeriksaan atau skrining infeksi menular seksual (IMS) di laboratorium medis. Sementara itu, perempuan yang mengalami keterlambatan menstruasi setelah menggunakan produk tersebut dianjurkan melakukan tes kehamilan.

Masyarakat yang memiliki kekhawatiran juga diminta berkonsultasi dengan dokter atau mendatangi pusat layanan pemeriksaan kesehatan seksual gratis.

Selain itu, pengguna diminta melaporkan kejadian yang tidak diinginkan, termasuk kondom yang robek atau mengalami kebocoran saat digunakan, melalui platform pelaporan insiden kesehatan milik pemerintah Prancis.

Pihak berwenang menyatakan akan terus memantau proses penarikan produk untuk memastikan seluruh kondom yang bermasalah tidak lagi beredar di pasaran.

Kasus ini menjadi pengingat penting bahwa kualitas dan keamanan produk kontrasepsi perlu mendapat perhatian serius. Kondom yang mengalami cacat produksi dapat mengurangi perlindungan terhadap risiko penularan infeksi menular seksual maupun kehamilan yang tidak direncanakan.


(hsy/hsy)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Kosmetik Lokal Naik Kelas, BPOM Dukung Inovasi Kampus & UMKM