Ramai Warga RI Downgrade Lifestyle, Apa Saja yang Sudah Dihemat?
Jakarta, CNBC Indonesia - Fenomena downgrade lifestyle atau menurunkan standar gaya hidup belakangan ramai diperbincangkan di media sosial. Tren ini muncul seiring semakin banyaknya orang yang memilih hidup lebih sederhana demi menjaga kondisi keuangan.
Downgrade lifestyle merupakan keputusan mengurangi kebiasaan konsumtif, seperti lebih sering memasak di rumah ketimbang makan di restoran, beralih ke transportasi yang lebih hemat, hingga membatasi nongkrong di kafe. Fenomena ini tertangkap dari sejumlah obrolan warganet di media sosial Threads.
"In this economy, apa saja yang sudah kalian downgrade? Me: Dulu punya mobil Cortez dan rumah cluster, sekarang tinggal di rumah mertua dan kerja naik motor Shogun tua," tulisnya dalam unggahan pada akhir September 2026.
Unggahan akun @wulan_as17 mengalami hal serupa. Ia mengaku menjual mobil Honda HR-V miliknya dan menggantinya dengan kendaraan jenis low cost green car (LCGC) yang lebih terjangkau.
Akun @fun_funny28 mengaku mengganti merek beras yang biasa dibeli dari harga Rp470 ribu menjadi Rp370 ribu untuk kemasan 20 kilogram. Sementara itu, akun @eveedesu mengaku sebelumnya terbiasa membeli kopi dari gerai seperti Tomoro, Fore, dan Starbucks. Namun, kini ia beralih mengonsumsi kopi instan dalam kemasan sachet.
Ada pula akun @psychefeb yang mengaku tidak lagi mengikuti aktivitas pilates, yoga, dan padel serta lebih sering mencari produk atau layanan yang menawarkan promosi.
Benarkah daya beli melemah?
Ekonom sekaligus Direktur Next Policy Yusuf Wibisono menilai, ramainya masyarakat yang menurunkan standar gaya hidup tidak terlepas dari tekanan daya beli, terutama pada kelompok kelas menengah. Yusuf menilai, tanda-tanda pelemahan daya beli semakin sering terlihat dalam beberapa tahun terakhir, meskipun perekonomian Indonesia masih mencatat pertumbuhan.
"Dalam tahun-tahun terakhir, ketika ekonomi terus tumbuh tinggi, kita semakin sering melihat tanda-tanda pelemahan daya beli masyarakat, dari pusat perbelanjaan yang sepi bahkan tutup, mal ramai pengunjung namun kasir-nya sepi, bahkan pasar tradisional mengalami penurunan omset, hingga kelas menengah yang rela 'downgrade' gaya hidup demi menghemat pengeluaran," kata Yusuf kepada CNBC Indonesia pada Senin.
Yusuf bilang, tekanan daya beli tidak hanya dialami masyarakat berpenghasilan rendah, tetapi juga semakin terasa pada kelompok kelas menengah.
Ia mengingatkan, pelemahan kelas menengah dapat menjadi persoalan serius bagi perekonomian Indonesia dalam jangka panjang. Yusuf mencatat, jumlah penduduk kelas menengah turun dari 60,8 juta orang atau 23% populasi pada 2018 menjadi 46,7 juta orang atau 16,6% pada 2025. Sebaliknya, kelompok masyarakat yang tergolong rentan miskin dan menuju kelas menengah meningkat dari 68,5% populasi pada 2018 menjadi 74,5% pada 2025.
Yusuf menjelaskan, kelas menengah memiliki peran penting dalam menopang konsumsi dan pertumbuhan ekonomi. Ketika kelompok tersebut melemah, kata ia, kemampuan masyarakat untuk membeli barang dan jasa di luar kebutuhan dasar juga ikut tertekan.
Belum Tentu Ekonomi Memburuk, tetapi Jadi Sinyal Peringatan
Sementara itu, ekonom Universitas Andalas Syafruddin Karimi mengingatkan fenomena downgrade lifestyle di media sosial tidak serta-merta dapat dijadikan bukti bahwa kondisi ekonomi seluruh masyarakat Indonesia sedang memburuk. Menurutnya, cerita warganet perlu dilihat sebagai sinyal awal yang kemudian diuji menggunakan data ekonomi nasional.
"Fenomena downgrade lifestyle layak dibaca sebagai sinyal mikro yang perlu diuji dengan data makro, bukan langsung dianggap bukti bahwa seluruh masyarakat memburuk," kata Syafruddin kepada CNBC Indonesia.
Ia menjelaskan, keputusan masyarakat mengganti produk dengan merek lebih murah, menjual kendaraan, atau menerima pekerjaan dengan gaji lebih rendah menunjukkan adanya penyesuaian konsumsi terhadap perkiraan pendapatan jangka panjang. Syafruddin menyoroti perekonomian Indonesia masih tumbuh 5,29% secara tahunan pada kuartal II-2026. Indeks Keyakinan Konsumen pada September 2026 juga masih berada di zona optimistis, yakni 118,1.
Namun, kondisi tersebut berjalan beriringan dengan tekanan di pasar tenaga kerja. Ia mencatat sebanyak 63.789 pekerja terkena PHK sepanjang Januari hingga September 2026, sementara pertumbuhan penjualan eceran September diprakirakan hanya mencapai 1,4% secara tahunan.
"Jadi, fenomena ini belum membuktikan kontraksi konsumsi nasional, tetapi menjadi early warning mengenai tekanan pada sebagian rumah tangga," jelasnya.
Syafruddin juga menilai, kelompok kelas menengah cukup rentan menghadapi tekanan biaya hidup karena memiliki berbagai pengeluaran tetap, mulai dari cicilan, biaya pendidikan, hingga kebutuhan perumahan. Di sisi lain, kelompok ini sering kali tidak termasuk dalam sasaran bantuan sosial pemerintah.
Ia menjelaskan, tekanan ekonomi rumah tangga tidak hanya disebabkan oleh kenaikan harga barang, tetapi juga pertumbuhan upah yang terbatas, risiko kehilangan pekerjaan, serta meningkatnya pengeluaran untuk berbagai kebutuhan.
(hsy/hsy)