Benarkah Ikan Kaleng tidak Sehat? Ini Penjelasan Ahli
Jakarta, CNBC Indonesia - Ikan kaleng seperti sarden dan tuna kerap dianggap kurang sehat karena mampu bertahan lama hingga bertahun-tahun. Tak sedikit masyarakat yang mengira makanan ini mengandung banyak bahan pengawetnya, padahal anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar.
Deputi Bidang Pengawasan Pangan Olahan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Elin Herlina menjelaskan, ikan kaleng dapat bertahan lama berkat teknologi pengolahan yang disebut sterilisasi komersial, bukan karena penambahan bahan pengawet.
"Masih ada persepsi di masyarakat bahwa ikan kaleng itu dalam tanda petik tidak sehat. Tidak sehat karena mengandung pengawet," ujar Elin dalam talkshow "From the Sea to the Plate: Saatnya Konsumsi Hasil Laut, untuk Kesehatan, untuk Masa Depan" di Gedung Bhineka Tunggal Ika BPOM, Jakarta, Selasa (27/10/2026).
"Padahal dengan proses sterilisasi komersial itu sama sekali tidak perlu pengawet," lanjutnya.
Elin mengatakan, teknologi tersebut memungkinkan ikan kaleng memiliki masa simpan panjang tanpa harus disimpan di lemari pendingin. Meski demikian, proses produksinya harus memenuhi standar keamanan pangan yang ketat.
Elin menjelaskan, produk pangan yang menggunakan teknologi sterilisasi komersial wajib memenuhi persyaratan tertentu, termasuk pengendalian suhu, waktu pemanasan, dan proses produksi. BPOM juga menerapkan Program Manajemen Risiko (PMR) untuk memastikan produsen memenuhi standar keamanan pangan.
Dengan proses pengolahan yang tepat, kata ia, ikan kaleng dapat memiliki masa simpan hingga dua tahun, selama kemasannya tetap utuh dan produk disimpan sesuai ketentuan.
Kenapa Ikan Kaleng Bisa Awet Tanpa Pengawet?
Dosen Universitas Padjadjaran, Robi Andoyo menjelaskan, sterilisasi komersial merupakan teknologi pengolahan pangan yang menggunakan panas untuk mengendalikan mikroorganisme penyebab kerusakan makanan. Proses tersebut dilakukan dengan suhu dan waktu yang telah diperhitungkan agar produk aman dikonsumsi.
"Berbeda dengan metode pengawetan tradisional yang menggunakan garam atau pengeringan, teknologi sterilisasi komersial mengandalkan pemanasan terkontrol dan kemasan kedap udara," katanya.
Dalam prosesnya, lanjut ia, ikan dimasukkan ke dalam kemasan yang ditutup rapat, kemudian dipanaskan menggunakan peralatan khusus. Pemanasan tersebut bertujuan mengendalikan mikroorganisme berbahaya sehingga produk dapat disimpan lebih lama.
Robi menjelaskan, apabila proses sterilisasi komersial dilakukan dengan benar, ikan kaleng dapat bertahan lebih dari dua tahun. Dengan demikian, masa simpan panjang pada ikan kaleng tidak otomatis menandakan adanya tambahan bahan pengawet.
Selain persoalan bahan pengawet, kandungan gizi ikan kaleng juga menjadi perhatian masyarakat. Robi menjelaskan proses pengalengan tidak serta-merta menghilangkan seluruh kandungan nutrisi ikan.
Protein, misalnya, umumnya tetap tersedia setelah proses sterilisasi. Begitu pula dengan asam lemak omega-3 yang masih dapat dipertahankan, meskipun jumlahnya dapat dipengaruhi oleh jenis ikan dan kondisi pengolahan.
"Artinya, ikan kaleng tetap dapat menjadi salah satu pilihan sumber protein hewani bagi masyarakat. Pengolahan ikan menjadi produk kalengan juga memberikan manfaat dari sisi penyimpanan dan distribusi," katanya.
Tidak seperti ikan segar yang membutuhkan penanganan suhu dingin untuk mempertahankan kualitasnya, ikan kaleng yang telah diproses dengan benar dapat disimpan pada suhu ruang selama kemasannya belum dibuka. Hal ini membuat ikan kaleng menjadi alternatif praktis bagi masyarakat yang tidak selalu memiliki akses terhadap ikan segar.
Tetap Harus Perhatikan Kondisi Kemasan
Meski ikan kaleng dapat bertahan lama, Elin mengingatkan masyarakat agar tetap cermat sebelum membeli dan mengonsumsinya. Konsumen perlu memperhatikan kondisi kemasan, komposisi produk, izin edar, hingga tanggal kedaluwarsa.
Produk dengan kemasan yang bocor, menggembung, atau mengalami kerusakan serius sebaiknya tidak dikonsumsi. Selain itu, masyarakat juga perlu membaca informasi nilai gizi yang tercantum pada label, termasuk kandungan garam, lemak, dan zat gizi lainnya. BPOM mengimbau masyarakat menerapkan prinsip Cek KLIK, yakni Cek Kemasan, Label, Izin Edar, dan Kedaluwarsa.
(miq/miq)