Ditemukan Kasus Pertama Virus Shamonda di Manusia, Pasien Meninggal

Linda Hasibuan, CNBC Indonesia
Senin, 26/10/2026 13:05 WIB
Foto: Ilustrasi (Thinkstock/tarczas)

Jakarta, CNBC Indonesia - Prancis mengonfirmasi kasus pertama infeksi virus Shamonda di manusia, virus yang sebelumnya hanya diketahui menginfeksi hewan, terutama sapi. Pasien yang terinfeksi merupakan seseorang dengan sistem kekebalan tubuh sangat lemah dan meninggal dunia pada awal Oktober 2026.

Meski demikian, otoritas kesehatan Prancis menyatakan belum menemukan indikasi risiko kesehatan bagi masyarakat luas akibat kasus tersebut.

Melansir Euro News, kasus ini menjadi perhatian karena virus Shamonda selama ini dianggap tidak dapat menginfeksi manusia. Pemerintah Prancis menyebut infeksi tersebut sebagai kasus luar biasa yang terjadi pada pasien dengan kondisi kesehatan serius dan gangguan sistem kekebalan tubuh.


Menurut Kementerian Kesehatan Prancis, pasien tersebut sebelumnya menjalani perawatan untuk penyakit serius di Hospices Civils de Lyon, Lyon. Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya infeksi virus Shamonda, sementara komplikasi pada otak yang dialami pasien sebelum meninggal diduga kuat berkaitan dengan infeksi tersebut.

Namun, penyelidikan masih berlangsung untuk memastikan apakah virus itu secara langsung menyebabkan atau turut berkontribusi terhadap kematian pasien.

Diduga Menular Melalui Gigitan Serangga

Virus Shamonda termasuk dalam kelompok Orthobunyavirus yang diketahui menyebar di antara hewan melalui gigitan serangga kecil pengisap darah dari genus Culicoides.

Otoritas Prancis menduga pasien terinfeksi setelah digigit serangga tersebut di wilayah timur Prancis, tempat virus Shamonda terdeteksi beredar pada hewan selama musim semi dan panas tahun ini.

Meski demikian, jenis serangga yang terlibat dalam kasus tersebut belum dapat dipastikan. Penyelidikan lebih lanjut masih dilakukan untuk mengetahui bagaimana infeksi terjadi dan mengidentifikasi kemungkinan sumber penularan lainnya.

Virus Shamonda pertama kali terdeteksi di Nigeria pada pertengahan 1960-an. Selama puluhan tahun, virus ini dilaporkan secara sporadis pada hewan di sejumlah wilayah Afrika dan Jepang, terutama pada sapi.

Pada musim panas 2026, virus tersebut untuk pertama kalinya terdeteksi di Eropa. Selain sapi, infeksi pada hewan ruminansia kecil dan kuda juga dilaporkan di Prancis.

Gejala Virus Shamonda pada Hewan

Pada hewan ternak, khususnya sapi, infeksi virus Shamonda dapat menimbulkan sejumlah gejala, seperti demam, lesu, dan diare. Pada sapi perah, infeksi juga dapat menyebabkan penurunan produksi susu.

Namun, informasi mengenai dampak virus ini pada manusia masih sangat terbatas karena kasus yang dilaporkan sejauh ini baru satu.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Eropa (ECDC) telah diberi tahu mengenai temuan tersebut dan turut bekerja sama dengan otoritas Prancis dalam penyelidikan.

Pemeriksaan klinis, laboratorium, dan epidemiologi masih dilakukan untuk memahami karakteristik infeksi serta kemungkinan risiko terhadap kesehatan manusia.

Hingga saat ini, belum ada bukti penularan langsung antarmanusia maupun indikasi ancaman kesehatan bagi masyarakat umum. Otoritas kesehatan tetap memantau perkembangan kasus tersebut seiring berlanjutnya penyelidikan.


(hsy/hsy)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Gak Perlu ke Korea, RI Punya Layanan Bedah Plastik Kelas Dunia