Kisah FIlm Perang Malaysia Digarap di Bali, Libatkan Kru & Pemain RI
Jakarta, CNBC Indonesia - Film drama perang sejarah The Ghost and the Gun atau Peluru Senja yang mengangkat kisah konflik di Malaya (kini Malaysia) pada 1948 ternyata diproduksi sepenuhnya di Bali, Indonesia. Film ini melibatkan kru dan aktor Indonesia, termasuk aktris Asmara Abigail.
CEO sekaligus Executive Producer Viking Sunset Studios, Bo Holmgreen mengatakan, Bali dipilih karena memiliki kondisi alam yang sesuai dengan kebutuhan cerita, terutama kawasan hutan yang menjadi lokasi sebagian besar adegan. Untuk menghadirkan suasana Malaysia pada masa tersebut, tim produksi bahkan membangun 14 set khusus.
"Kami menyadari 70 persen film ini berada di hutan. Kami punya hutan," ujar Bo dalam konferensi pers serta penayangan perdana The Ghost and the Gun di Jakarta, Jumat malam (23/10/2026).
"Kami membangun 14 set Malaysia tahun 1948. Semuanya dalam jarak yang sangat pendek dari studio," ujarnya menambahkan.
Set tersebut mencakup kawasan perkampungan hingga kamp pemberontak yang menjadi bagian dari cerita film. Proses pembuatannya pun tidak mudah. Asisten sutradara Richo Dharma menjelaskan, pengambilan gambar berlangsung selama 26 hari dengan sebagian besar adegan dilakukan di kawasan hutan.
Tantangan semakin besar karena proses syuting berlangsung saat musim hujan. Padahal, dalam cerita awal, adegan yang direncanakan tidak menggambarkan kondisi hujan.
"Sedangkan di cerita enggak ada hujan. Jadi, mau enggak mau kita ada beberapa yang kita ubah scene-nya," jelas Richo.
Selain memanfaatkan alam Bali, produksi film ini juga melibatkan tenaga profesional Indonesia untuk sejumlah pekerjaan teknis, mulai dari kamera, pencahayaan hingga tata suara. Sementara itu, proses pascaproduksi dilakukan di Malaysia dan Inggris. Film ini turut melibatkan pemain dan pekerja film dari sejumlah negara.
Bo mengatakan, pihaknya melihat peluang untuk mengembangkan Bali sebagai lokasi produksi film internasional. Ia juga mengungkapkan rencana investasi lebih lanjut dalam fasilitas studio di pulau tersebut. "Kami akan berinvestasi besar di studio," katanya.
Film The Ghost and the Gun sendiri mengambil latar Malaya pada 1948, ketika wilayah tersebut masih berada di bawah kekuasaan Inggris dan menghadapi konflik bersenjata. Ceritanya berpusat pada dua veteran Perang Dunia II, yakni seorang tentara Malaya dan tentara Inggris, yang terpaksa bekerja sama untuk melindungi sebuah desa dari ancaman kelompok bersenjata.
Namun, film ini tidak hanya berfokus pada pertempuran. Kisahnya juga menggambarkan trauma perang, hubungan antarmanusia, serta konflik yang muncul di tengah perubahan politik.
Richo menjelaskan, cerita tersebut berangkat dari keinginan penulis untuk melihat konflik di Malaysia dari sudut pandang yang berbeda, terutama ketika kekuasaan kolonial Inggris mulai menghadapi tekanan.
"Pendekatannya memang bukan perang yang wah seperti apa. Tapi memang lebih ke bagaimana konflik itu," ujarnya.
Film yang disutradarai Anshul Tiwari ini dibintangi aktor Malaysia Hazman Al Idrus dan Fabian Loo, serta aktris Indonesia Asmara Abigail. Hazman mengaku terkesan dengan kemampuan sejumlah pemain Indonesia yang harus mempelajari dialek Pahang, Malaysia, untuk kebutuhan peran. Menurutnya, penggunaan dialek daerah tersebut tidak mudah, bahkan bagi dirinya yang berasal dari Malaysia.
"Beberapa pemain dari Indonesia seperti Asmara Abigail, Indra Paci, ada beberapa pemain dari Bali juga bisa ngobrol berdialek bahasa Pahang. Itu sangat luar biasa buat saya," kata Hazman.
The Ghost and the Gun sebelumnya telah dirilis di Malaysia pada 27 Agustus 2026. Film tersebut kemudian mulai tayang di jaringan bioskop CGV Indonesia pada 23 Oktober 2026.
(pgr/pgr)