Jreng! Ini Daftar 7 Kota Paling Tidak Layak Huni di Dunia 2026
Jakarta, CNBC Indonesia - Sejumlah kota besar di dunia masih menghadapi tantangan serius dalam menyediakan lingkungan hidup yang aman, nyaman, dan layak bagi penduduknya. Berdasarkan Global Liveability Index 2026 yang dirilis Economist Intelligence Unit (EIU), Damaskus, Suriah, menempati posisi terbawah dalam daftar kota paling tidak layak huni di dunia.
Laporan yang dirangkum The Economic Times pada 8 Juli 2026 tersebut mencakup penilaian terhadap 173 kota di berbagai negara. Pemeringkatan dilakukan berdasarkan lima indikator utama, yakni stabilitas, layanan kesehatan, budaya dan lingkungan, pendidikan, serta infrastruktur.
Ketujuh kota dengan peringkat terendah menghadapi persoalan yang beragam, mulai dari konflik berkepanjangan dan ketidakstabilan politik hingga kemacetan, keterbatasan infrastruktur, dan tekanan terhadap layanan publik.
Berikut tujuh kota yang berada di posisi terbawah dalam Global Liveability Index 2026.
1. Damaskus, Suriah
Damaskus menempati posisi pertama sebagai kota paling tidak layak huni di dunia. Ibu kota Suriah ini telah lama menghadapi dampak konflik berkepanjangan yang mengganggu stabilitas keamanan, layanan kesehatan, infrastruktur, dan pelayanan publik.
Kondisi tersebut menjadi tantangan besar dalam upaya menciptakan lingkungan perkotaan yang aman dan mendukung kehidupan sehari-hari masyarakat.
2. Tripoli, Libya
Di posisi kedua terdapat Tripoli, ibu kota Libya. Ketidakstabilan politik dan persoalan keamanan selama bertahun-tahun turut memengaruhi kualitas hidup di kota ini.
Selain stabilitas, kondisi infrastruktur dan pelayanan publik yang masih menghadapi tekanan juga menjadi faktor yang memengaruhi penilaian EIU.
3. Dhaka, Bangladesh
Dhaka berada di urutan ketiga. Sebagai salah satu kota metropolitan yang berkembang pesat, ibu kota Bangladesh ini menghadapi tekanan akibat urbanisasi yang cepat.
Pertumbuhan penduduk dan aktivitas perkotaan meningkatkan beban terhadap infrastruktur, sementara kemacetan lalu lintas menjadi salah satu persoalan yang memengaruhi kenyamanan hidup masyarakat.
4. Karachi, Pakistan
Karachi, pusat komersial Pakistan, menempati urutan keempat dalam daftar tersebut.
Sebagai salah satu pusat perkotaan terbesar di Asia Selatan, Karachi menghadapi tantangan dalam menjaga stabilitas, menyediakan infrastruktur yang memadai, serta memenuhi kebutuhan layanan kesehatan masyarakat.
Besarnya aktivitas ekonomi dan kepadatan perkotaan membuat pengelolaan kota menjadi tantangan tersendiri.
5. Aljir, Aljazair
Aljir, ibu kota Aljazair, berada di posisi kelima. Kota ini memperoleh penilaian relatif rendah pada sejumlah indikator yang digunakan EIU.
Keterbatasan infrastruktur serta aspek budaya dan lingkungan menjadi beberapa faktor yang memengaruhi posisi Aljir dalam pemeringkatan kota layak huni tahun ini.
6. Lagos, Nigeria
Lagos menempati urutan keenam. Sebagai pusat keuangan Nigeria sekaligus salah satu kota terbesar di Afrika, Lagos memiliki peran penting dalam perekonomian negara tersebut.
Namun, perkembangan kota yang pesat juga diiringi tantangan berupa kemacetan, keterbatasan infrastruktur, dan kebutuhan layanan kesehatan. Berbagai persoalan itu turut memengaruhi kualitas hidup penduduknya.
7. Kyiv, Ukraina
Kyiv, ibu kota Ukraina, berada di posisi ketujuh dalam daftar kota paling tidak layak huni pada 2026.
Perang yang masih berlangsung menjadi faktor utama yang memengaruhi penilaian stabilitas kota tersebut. Meski sejumlah aspek kehidupan perkotaan menunjukkan perbaikan, situasi keamanan tetap menjadi tantangan besar bagi masyarakat.
Konflik dan Infrastruktur Jadi Tantangan Utama
Daftar yang dirilis EIU menunjukkan bahwa kelayakan huni sebuah kota tidak hanya ditentukan oleh pertumbuhan ekonomi atau besarnya populasi. Stabilitas keamanan, kualitas layanan kesehatan, pendidikan, infrastruktur, serta kondisi budaya dan lingkungan juga berperan penting.
Konflik berkepanjangan dan ketidakstabilan politik menjadi persoalan dominan di sejumlah kota, seperti Damaskus, Tripoli, dan Kyiv. Sementara itu, kota metropolitan seperti Dhaka, Karachi, dan Lagos menghadapi tantangan dalam mengimbangi pertumbuhan perkotaan dengan penyediaan infrastruktur dan layanan publik.
Pemeringkatan ini memberikan gambaran mengenai tantangan yang dihadapi berbagai kota dalam meningkatkan kualitas hidup penduduknya. Namun, posisi dalam indeks tersebut merupakan hasil penilaian berdasarkan indikator tertentu dan tidak serta-merta menggambarkan seluruh pengalaman masyarakat yang tinggal di kota-kota tersebut.
(lih/wur) [Gambas:Video CNBC]