Sosok Miliuner Muda yang Bangga Ngontrak dan Tak Punya Rumah

Linda Hasibuan,  CNBC Indonesia
23 October 2026 09:30
Mrs. Dow Jones. (Instagram/mrsdowjones)
Foto: Mrs. Dow Jones. (Instagram/mrsdowjones)

Jakarta, CNBC Indonesia - Memiliki rumah sendiri kerap dianggap sebagai simbol kesuksesan finansial dan tanda seseorang telah mencapai kedewasaan. Namun, Haley Sacks, kreator konten keuangan yang dikenal sebagai Mrs. Dow Jones, justru memiliki pandangan berbeda. Meski telah menjadi miliuner, ia mengaku bangga memilih menyewa tempat tinggal ketimbang membeli rumah.

Sacks mengatakan, memiliki rumah di luar Kota New York tetap menjadi salah satu keinginannya di masa depan, terutama ketika ia telah berkeluarga. Ia membayangkan bisa menentukan sendiri warna cat hingga gagang pintu di setiap ruangan. Namun, ia juga menyadari bahwa mewujudkan keinginan tersebut membutuhkan biaya besar.

Karena itu, Sacks menilai kepemilikan rumah seharusnya dipandang sebagai pilihan gaya hidup, bukan ukuran keberhasilan seseorang dalam mengelola keuangan.

"Saya seorang miliuner, dan saya bangga dengan status saya sebagai penyewa," kata Sacks kepada Ellie Austin dari Fortune dalam program Fortune Daily.

Kreator konten generasi milenial yang memiliki lebih dari 2 juta pengikut tersebut kerap membagikan edukasi keuangan pribadi. Melalui pandangannya, ia mengajak generasi muda mempertanyakan kembali prinsip keuangan yang diwariskan oleh orang tua maupun kakek-nenek mereka.

"Kita semua masih memiliki pemahaman bahwa saat kita memiliki rumah, barulah kita bisa disebut sebagai orang dewasa. Namun, kita perlu memikirkan kembali hal itu, karena banyak dari kita yang mungkin tidak akan pernah memiliki rumah sendiri," katanya.

Impian memiliki rumah semakin sulit diwujudkan

Pandangan Sacks muncul di tengah kondisi ekonomi yang membuat generasi muda semakin sulit mencapai berbagai tonggak kehidupan, termasuk membeli rumah, menikah, dan memiliki anak.

Sebagian dari mereka mulai menyesuaikan strategi untuk mewujudkan impian tersebut. Ada yang membeli rumah yang membutuhkan banyak renovasi, mencari penghasilan dari berbagai sumber, hingga menunda pernikahan dan memiliki anak demi menjaga kondisi keuangan.

Susan Wachter, profesor real estat dan keuangan di Wharton School, University of Pennsylvania, mengatakan bahwa perubahan ini bukan sekadar persoalan menunda pencapaian dalam hidup, melainkan juga perubahan cara generasi muda menjalani kehidupan.

"Mereka tidak sekadar menunda pencapaian tahapan hidup. Mereka juga menempuh jalan yang berbeda," ujar Wachter kepada Fortune.

Membeli rumah sebagai pilihan gaya hidup

Meski memiliki kekayaan besar, Sacks mengaku masih ingin mencapai target tertentu dalam investasinya sebelum memutuskan membeli properti. Ia tidak menjadikan rumah sebagai instrumen investasi utama dan lebih memilih mempertimbangkan manfaatnya bagi kehidupan pribadi.

"Saya hanya akan membelinya sebagai pilihan gaya hidup, bukan sebagai pilihan investasi," ujarnya.

Penulis buku Future Rich Person tersebut berpendapat bahwa dana yang disiapkan untuk uang muka rumah bisa menjadi modal untuk berinvestasi di pasar saham. Menurutnya, investasi saham menawarkan alternatif dalam membangun kekayaan, meskipun keputusan keuangan tetap harus mempertimbangkan biaya perumahan di lokasi masing-masing.

Sacks juga menyoroti biaya tambahan yang muncul setelah seseorang membeli rumah. Selain harga properti, pemilik perlu mengeluarkan uang untuk renovasi dan menyesuaikan berbagai detail hunian dengan selera pribadi, mulai dari warna cat hingga gagang pintu.

Baginya, pengeluaran tersebut berpotensi menjadi beban finansial yang perlu diperhitungkan secara matang.

Namun, Sacks tidak menampik bahwa pengalamannya membangun bisnis turut didukung oleh kondisi dan bantuan keluarga. Setelah kehilangan pekerjaan pada 2018, ia bekerja sebagai penulis lepas melalui koneksi yang dimilikinya di industri media. Pada masa itu, orang tuanya turut membantu membayar biaya sewa tempat tinggal.

"Saya tidak ingin mengabaikan hal-hal seperti itu, karena itu sangatlah penting," katanya.

Pengakuan tersebut menunjukkan bahwa kebebasan finansial yang dimilikinya saat ini tidak terlepas dari dukungan yang ia terima selama membangun karier.

Harga rumah naik lebih cepat daripada pendapatan

Kesulitan generasi muda untuk membeli rumah juga tercermin dalam data perumahan.

Pew Research Center mencatat, pada 2019 hingga 2024, nilai median rumah di AS meningkat 30 persen setelah disesuaikan dengan inflasi. Pada periode yang sama, pendapatan median rumah tangga yang dikepalai seseorang berusia di bawah 40 tahun hanya naik 9 persen secara riil.

(hsy/hsy) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Target Tabungan Ideal Usia 30, 40, dan 50 Tahun, Sudah Punya?


Most Popular
Features