7 Kebiasaan Frugal yang Masih Dilakukan Orang Kaya
Daftar Isi
- 1. Memilih bahan makanan dengan harga lebih murah
- 2. Memanfaatkan perlengkapan hotel
- 3. Menggunakan kembali wadah makanan
- 4. Menghabiskan produk perawatan hingga tuntas
- 5. Memeriksa harga sebelum memesan makanan
- 6. Menyimpan tas belanja yang masih layak pakai
- 7. Mengenakan kaus gratis untuk berolahraga
- Hemat Bukan Berarti Tak Boleh Menikmati Hidup
Jakarta, CNBC Indonesia - Menjadi miliuner tidak selalu berarti hidup bergelimang kemewahan. Bernadette Joy, perempuan berusia 39 tahun yang berhasil membangun kekayaannya sendiri, justru tetap mempertahankan sejumlah kebiasaan hemat meski kondisi keuangannya telah berubah drastis.
Dalam laporan CNBC Make It yang terbit pada 15 Mei 2024, Joy membagikan tujuh kebiasaan sederhana yang masih ia jalankan hingga kini. Perjalanan finansialnya tidak selalu mulus. Pada 2016, ia terlilit utang sekitar US$ 300.000 atau sekitar Rp 5,4 miliar dengan asumsi kurs Rp 18.000 per dolar AS. Utang tersebut berasal dari berbagai kewajiban, termasuk cicilan rumah dan pinjaman pendidikan. Situasi itu mendorong Joy mempelajari pengelolaan keuangan pribadi hingga akhirnya berhasil melunasi utangnya dalam tiga tahun dan menjadi miliuner pada usia 30-an.
Kini, ia menjalankan bisnis pelatihan keuangan bernama Crush Your Money Goals. Meski telah mencapai kebebasan finansial, Joy tidak merasa perlu meninggalkan kebiasaan hemat yang membantunya mengubah kondisi keuangannya.
Berikut tujuh kebiasaan yang masih ia pertahankan.
1. Memilih bahan makanan dengan harga lebih murah
Joy tidak ragu memilih bahan makanan dengan harga lebih terjangkau, termasuk potongan daging yang tidak selalu menjadi pilihan utama konsumen. Menurutnya, bahan makanan yang lebih ekonomis tetap bisa menghasilkan hidangan lezat tanpa harus mengeluarkan uang lebih banyak.
Kebiasaan ini menunjukkan bahwa berhemat tidak selalu berarti mengurangi kualitas. Memilih produk dengan harga yang sesuai kebutuhan dapat membantu menekan pengeluaran sehari-hari.
2. Memanfaatkan perlengkapan hotel
Saat bepergian untuk menghadiri acara atau menjadi pembicara, Joy terbiasa memanfaatkan perlengkapan yang tersedia di hotel, seperti sikat gigi, pasta gigi, sisir, dan ikat rambut.
Perlengkapan tersebut dapat digunakan kembali untuk kebutuhan pribadi atau disimpan sebagai persediaan perjalanan berikutnya.
Baginya, memanfaatkan barang yang masih layak pakai merupakan cara sederhana untuk menghindari pembelian yang sebenarnya tidak diperlukan.
3. Menggunakan kembali wadah makanan
Joy juga terbiasa menyimpan wadah makanan dari restoran untuk digunakan kembali di rumah.
Wadah tersebut dapat dimanfaatkan untuk menyimpan sisa makanan maupun merapikan berbagai barang kecil. Dengan begitu, ia tidak perlu selalu membeli wadah penyimpanan baru.
Kebiasaan ini sekaligus membantu mengurangi sampah rumah tangga, selama wadah yang digunakan masih bersih, aman, dan layak untuk keperluannya.
4. Menghabiskan produk perawatan hingga tuntas
Bagi Joy, menghemat pengeluaran juga berarti memaksimalkan barang yang sudah dibeli. Ia terbiasa menggunakan produk kebersihan dan perawatan pribadi hingga benar-benar habis.
Kebiasaan tersebut memiliki latar belakang pribadi. Saat kecil, Joy mengalami eksim yang membuatnya membutuhkan obat dan losion khusus. Pengalaman itu mengajarkannya untuk menghargai produk perawatan yang membantu menjaga kesehatan kulitnya.
Ia menyadari bahwa produk tertentu memang layak dibeli jika benar-benar dibutuhkan. Namun, produk yang sudah dibeli juga sebaiknya dimanfaatkan secara maksimal, bukan dibuang sebelum waktunya.
5. Memeriksa harga sebelum memesan makanan
Meski mampu membeli makanan yang lebih mahal, Joy tetap membiasakan diri memeriksa harga menu sebelum memesan hidangan di restoran.
Ia bahkan memiliki cara tersendiri untuk menemukan pilihan yang lebih terjangkau, yakni memperhatikan bagian akhir menu terlebih dahulu. Cara ini membantunya menemukan alternatif makanan dengan harga lebih rendah.
Menurut Joy, kebiasaan sederhana tersebut membuatnya tetap bisa menikmati makanan favorit tanpa mengabaikan anggaran.
6. Menyimpan tas belanja yang masih layak pakai
Kebiasaan hemat Joy juga dipengaruhi oleh pola hidup keluarganya sejak kecil. Ia mengingat ibunya yang terbiasa menyimpan kantong belanja untuk digunakan kembali.
Kebiasaan itu masih ia pertahankan hingga dewasa. Joy menyimpan tas belanja yang kuat dan berkualitas agar dapat digunakan untuk membawa makanan, barang kecil, atau perlengkapan saat bepergian.
Dengan menggunakan kembali tas yang tersedia, ia tidak perlu terus-menerus membeli tas baru untuk kebutuhan sehari-hari.
7. Mengenakan kaus gratis untuk berolahraga
Joy tidak merasa harus membeli pakaian olahraga bermerek untuk tetap aktif. Ia memilih mengenakan kaus gratis yang diperoleh dari konferensi atau berbagai acara.
Ia juga menyukai botol minum gratis yang didapatkan dari acara tertentu, sehingga tidak perlu mengeluarkan uang untuk membeli produk serupa hanya demi mengikuti tren.
Bagi Joy, kenyamanan dan fungsi barang jauh lebih penting daripada merek atau harga yang melekat padanya.
Hemat Bukan Berarti Tak Boleh Menikmati Hidup
Joy mengakui bahwa kebiasaan-kebiasaan tersebut mungkin terlihat sepele. Namun, penghematan kecil yang dilakukan secara konsisten dapat membantu menyediakan ruang lebih besar dalam anggaran untuk hal-hal yang benar-benar penting.
Ia tetap bersedia mengeluarkan uang untuk pengalaman yang disukainya, seperti menonton konser K-pop, menyaksikan pertunjukan komedi, serta mendukung bisnis lokal dan usaha milik perempuan.
Pengalamannya menunjukkan bahwa hidup hemat bukan semata-mata tentang menolak semua pengeluaran. Hal yang lebih penting adalah memahami prioritas, membedakan kebutuhan dari keinginan, dan menggunakan uang secara sadar.
Kebiasaan mengelola pengeluaran tersebut turut membentuk kedisiplinan finansial Joy. Baginya, menghargai hal-hal kecil dalam kehidupan sehari-hari membantu seseorang menjadi pengelola anggaran yang lebih baik sekaligus lebih percaya diri dalam mengambil keputusan investasi.
Pada akhirnya, membangun kekayaan tidak selalu dimulai dari penghasilan besar atau gaya hidup mewah. Konsistensi dalam mengelola uang, menghindari pemborosan, dan menentukan prioritas dapat menjadi bagian penting dari perjalanan menuju kondisi keuangan yang lebih sehat.
(hsy/hsy)