Operasi Robotik pada Kanker Kolon, Kok Bisa Bantu Pulih Lebih Cepat?

Umi Zakiyatun, CNBC Indonesia
Senin, 12/10/2026 12:36 WIB
Foto: Dok Mayapada Hospital

Jakarta, CNBC Indonesia - Bagi pasien kanker usus besar (kolon) yang perlu menjalani operasi, proses pemulihan menjadi salah satu hal yang penting yang perlu diperhatikan. Pasien tentu berharap dapat kembali makan, berjalan, dan beraktivitas seperti biasa dalam waktu yang lebih cepat. Salah satu hal yang dapat mendukung proses tersebut adalah teknik operasi yang digunakan.

Pada operasi kanker kolon berbantuan robot, dokter dapat menggunakan pendekatan minimal invasif, yaitu tindakan melalui sayatan yang lebih kecil dibandingkan operasi terbuka. Dengan instrumen robot yang fleksibel, kontrol gerakan yang stabil, dan visualisasi 3D, dokter dapat bekerja lebih presisi di area yang sempit dan kompleks di sekitar usus. Pendekatan ini dapat membantu meminimalkan trauma pada jaringan dan mendukung proses pemulihan pasien.

Menurut dr. Errawan R. Wiradisuria di Mayapada Hospital Jakarta Selatan, teknologi robotik mendukung dokter ketika melakukan operasi di area yang sempit dan kompleks. Manfaatnya dapat dirasakan pasien selama masa pemulihan setelah operasi.


"Ketika trauma pada jaringan dapat diminimalkan, pasien dapat mengalami nyeri yang lebih ringan dan lebih nyaman setelah operasi. Kondisi ini juga memungkinkan pasien untuk mulai bergerak lebih dini, sehingga proses pemulihan dapat berjalan lebih baik dan pasien dapat lebih cepat kembali menjalani aktivitasnya secara bertahap," ujar dr. Errawan, Senin (12/10/2026).

Pemulihan yang lebih ringan juga mendukung durasi rawat inap yang lebih singkat. Meski demikian, kecepatan pemulihan tetap bergantung pada kondisi setiap pasien, termasuk stadium kanker, kompleksitas operasi, dan kondisi kesehatan secara keseluruhan.

Setelah operasi, pasien tetap membutuhkan perawatan dan pemantauan secara bertahap. Mulai dari mengatur pola makan, mengelola nyeri, hingga kembali bergerak secara bertahap, semuanya menjadi bagian penting dalam pemulihan.

"Setelah operasi kolektomi, pasien umumnya mulai makan secara bertahap dan bergerak lebih dini sesuai kondisi klinis. Berjalan ringan dapat dilakukan sesuai kemampuan pasien, sementara aktivitas berat dan mengangkat beban perlu dihindari selama periode tertentu," terang dr. Errawan.

Selain kembali bergerak dan makan, fungsi usus juga menjadi bagian penting dari proses pemulihan. Setelah sebagian usus besar diangkat, pasien mungkin mengalami perubahan pola buang air besar, misalnya frekuensi menjadi lebih sering atau konsistensi tinja lebih lunak.

"Kondisi tersebut umumnya dapat berangsur membaik seiring usus yang tersisa beradaptasi. Karena itu, perubahan pola buang air besar setelah operasi tidak selalu berarti ada masalah, tetapi tetap perlu dipantau sesuai kondisi masing-masing pasien," jelas dr. Errawan.

Selain teknik operasi, penanganan kanker kolon juga membutuhkan perencanaan yang menyeluruh, mulai dari diagnosis hingga tindak lanjut setelah terapi. Setiap tahapan perlu disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan pasien. Pemeriksaan seperti kolonoskopi, patologi, CT scan, MRI, dan dalam kondisi tertentu pemeriksaan PET-CT Scan dapat dilakukan untuk melihat penyebaran sel kanker serta evaluasi terapi. Pemeriksaan ini, membantu dokter mendapatkan gambaran kondisi pasien secara lebih menyeluruh dan menentukan rencana terapi yang tepat.

Dalam penanganan kanker pencernaan, pendekatan terintegrasi dan kolaborasi tim multidisiplin membantu memastikan setiap tahapan perawatan optimal bagi setiap pasien. Untuk mendukung hal tersebut, Mayapada Hospital menyediakan layanan Gastrohepatology Center dan Oncology Center Mayapada Hospital dengan pendekatan end-to-end digestive cancer care. Layanan ini mencakup konsultasi, diagnosis, penentuan terapi, hingga follow-up care dengan dukungan tim multidisiplin melalui Tumor Board dan Patient Navigator untuk mengoordinasikan perawatan dan pemantauan pasien.

Untuk mendukung diagnosis dan perencanaan terapi, tersedia berbagai modalitas pencitraan, termasuk PET-CT dan SPECT Scan sesuai indikasi. Sementara pada pasien yang memerlukan tindakan bedah, teknologi robotik da Vinci Xi dapat digunakan untuk mendukung prosedur minimal invasif yang presisi sesuai kondisi dan kebutuhan pasien.

Konsultasi mengenai penanganan saluran cerna dapat dilakukan dengan menjadwalkan konsultasi bersama dokter di Mayapada Hospital melalui Call Center 150770 dan WhatsApp 0817-17-150770. Bila terjadi kondisi gawat darurat medis, Anda dapat menghubungi Emergency Call 150990, atau emergency call button di aplikasi MyCare.


(rah/rah)
Saksikan video di bawah ini:

Video: BGS Mau Rata-rata Usia Hidup Rakyat RI Naik Jadi 76 Tahun