CNBC Insight

Wabah Mematikan Guncang Eropa, Puluhan Juta Orang Tewas

MFakhriansyah, CNBC Indonesia
Sabtu, 10/10/2026 11:00 WIB
Foto: Ilustrasi wabah Black Death. (Dok. Pexels)
Naskah ini merupakan bagian dari CNBC Insight, rubrik yang menyajikan ulasan sejarah untuk menjelaskan kondisi masa kini lewat relevansinya di masa lalu.

Jakarta, CNBC Indonesia - Kematian seorang peneliti berusia 28 tahun di Siberia, Rusia, memicu kekhawatiran setelah muncul dugaan infeksi pes. Meski otoritas Rusia menyatakan korban meninggal akibat pneumonia yang belum diketahui penyebabnya, kasus ini mengingatkan dunia pada Black Death, wabah pes yang menewaskan puluhan juta orang pada abad ke-14.

Berabad-abad silam, penyakit pes menjadi salah satu bencana paling mematikan dalam sejarah manusia. Wabah ini disebabkan bakteri Yersinia pestis, yang dapat menular melalui gigitan kutu terinfeksi, terutama kutu yang hidup pada hewan pengerat.


Waktu itu, wabah diperkirakan bermula dari kawasan Asia sebelum menyebar ke berbagai wilayah melalui jalur perdagangan. Pada 1340-an, wabah bergerak melintasi Asia Barat hingga mencapai kawasan Laut Hitam. Kapal-kapal dagang yang menghubungkan pelabuhan di kawasan tersebut dengan Eropa kemudian menjadi salah satu jalur penyebarannya.

Mengutip situs History, pada 1347, wabah mulai memasuki pelabuhan-pelabuhan Mediterania, termasuk Messina di Sisilia, Italia. Dari sana, penyakit menyebar ke berbagai kota melalui perjalanan manusia dan aktivitas perdagangan.

Saat itu, masyarakat belum mengenal bakteri maupun mekanisme penularan penyakit seperti yang dipahami sekarang. Keterbatasan pengetahuan medis, ditambah kepadatan penduduk dan ramainya jalur perdagangan, membuat upaya menghentikan penyebaran wabah menghadapi tantangan besar.

Dampaknya sangat dahsyat. Situs Guinness World Records mencatat, dalam periode 1346-1353, Black Death diperkirakan menewaskan sekitar 25 juta hingga 50 juta orang di Eropa. Sementara itu, estimasi kematian di berbagai wilayah dunia jauh lebih bervariasi. Sejumlah perkiraan menempatkan total korban global pada kisaran 75 juta hingga 200 juta jiwa, meski angka pastinya sulit dipastikan karena keterbatasan catatan sejarah. Atas dasar inilah, wabah ini menjadi pandemi paling mematikan sepanjang sejarah. 

Persentase kematian pun sangat fantastis. Di Eropa saja, sekitar 50%-60% populasi tewas akibat wabah pes. Banyak permukiman kehilangan penduduk, sementara aktivitas perdagangan dan pertanian terganggu akibat kematian besar-besaran.

Namun, Black Death tidak hanya mengubah jumlah penduduk. Kematian jutaan pekerja menyebabkan tenaga kerja menjadi langka. Di sejumlah wilayah, kondisi ini memperkuat posisi tawar pekerja dan mendorong perubahan hubungan antara petani dan pemilik tanah. Dampaknya wabah tersebut turut mengguncang tatanan ekonomi dan sosial Eropa.

Gelombang utama Black Death akhirnya mereda setelah beberapa tahun menghancurkan berbagai wilayah. Namun, penyakit pes tidak benar-benar menghilang dan kembali muncul dalam berbagai wabah pada abad-abad berikutnya.

Kini, pes dapat diobati dengan antibiotik apabila terdeteksi dan ditangani sejak dini. Meski pengetahuan medis telah berkembang pesat, sejarah Black Death tetap menjadi pengingat bahwa penyakit menular dapat mengubah perjalanan peradaban ketika penyebarannya melampaui kemampuan masyarakat untuk mengendalikannya.


(mfa/mfa)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Menkes BGS & Jurus Tekan Impor Obat - Tarik Investor Kesehatan