CNBC Insight

Kesepian di RI, Warga Asing Ramai-Ramai Bikin "Istri' Buatan

MFakhriansyah, CNBC Indonesia
Jumat, 09/10/2026 08:10 WIB
Foto: Ilustrasi tidur (溢 徐 from Pixabay)

Jakarta, CNBC Indonesia - Kesepian hidup di Indonesia membuat sejumlah warga asing pada masa kolonial mencari cara tak biasa untuk menemani malam mereka. Tanpa istri atau keluarga di tanah rantau, mereka bahkan menciptakan 'istri' buatan dari bahan sederhana yang kemudian dikenal dengan sebutan Dutch wife.

Sejak dimulainya kolonialisme, orang-orang Belanda mulai berdatangan ke Indonesia dengan tujuan bekerja. Karena itu, banyak dari mereka datang tanpa membawa keluarga, khususnya istri. Alhasil, selama bertahun-tahun, sejumlah orang Belanda harus menjalani kehidupan seorang diri di tanah yang jauh dari kampung halaman.

Kondisi tersebut tentu membuat kehidupan di tanah koloni tidak selalu mudah. Jauh dari keluarga dan pasangan, mereka harus menghadapi kesepian sekaligus kebutuhan biologis selama berada di Indonesia.


Bagi mereka yang memiliki uang lebih, terdapat sejumlah pilihan untuk mengatasi kesepian tersebut. Mereka bisa mendatangkan kekasih atau istri dari Belanda, pergi ke rumah bordil, atau bahkan memperistri penduduk pribumi.

Namun, tidak semua orang memiliki kemampuan finansial yang sama. Bagi mereka yang memiliki sedikit uang, pilihan-pilihan tersebut tentu sulit dilakukan. Alhasil, muncul cara yang jauh lebih sederhana, yakni membuat 'istri buatan'.

Dengan bermodalkan busa yang dibalut kain dan dibentuk memanjang menyerupai tubuh istri, benda tersebut digunakan sebagai teman tidur. Orang yang menggunakannya kemudian dapat berfantasi seolah-olah benda tersebut merupakan kekasih atau istrinya.

Dalam Seabad Grand Hotel Prenager (2000), benda tersebut kelak dikenal sebagai Dutch wife atau Istri Belanda.

Karena menjadi salah satu cara paling murah untuk mengatasi kesepian, popularitas Dutch wife kemudian meningkat. Seiring terjadinya percampuran budaya antara orang Belanda dan penduduk lokal, benda tersebut juga mulai digunakan masyarakat dan menjadi bagian dari kebiasaan saat tidur.

Dalam perkembangannya, Dutch wife kemudian dikenal luas dengan nama guling. Benda yang sebelumnya dikaitkan dengan kehidupan orang asing di tanah koloni itu akhirnya menjadi bagian yang tak terpisahkan dari tempat tidur masyarakat Indonesia.

Atas dasar itu pula, guling kerap disebut sebagai salah satu benda khas dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Bahkan, Presiden Soekarno pernah mengungkapkan kebanggaannya terhadap keberadaan guling sebagai bagian dari kebiasaan masyarakat Indonesia.

"Orang Indonesia hidup dengan getaran perasaan. Kita satu-satunya bangsa di dunia yang memiliki jenis bantal yang digunakan hanya untuk berpelukan. Di setiap tempat tidur Indonesia, ada bantal sebagai hulu dan bantal kecil yang disebut guling. Guling ini bisa kita peluk sepanjang malam," ujar Bung Karno sebagaimana yang ditulis Cindy Adams dalam Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat. (1965).


(mfa/mfa)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Menkes BGS dan Strategi Investasi & Transformasi Kesehatan RI