Banyak Impor, Pertumbuhan Sektor Kesehatan RI Lari ke India-Cina

Fergi Nadira, CNBC Indonesia
Kamis, 08/10/2026 12:06 WIB
Foto: Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin menyampaikan pemaparannya dalam acara Health Summit 2026 hadir dengan tema "The Rising of Indonesia's Healthcare Investment" di Menara Bank Mega, Jakarta, Kamis (8/10/2026). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin mengatakan ketergantungan pada impor alat kesehatan, hingga bahan baku obat membuat kontribusi sektor kesehatan pada perekonomian menjadi kurang maksimal. Secara historis dalam 10 tahun terakhir, pertumbuhan sektor kesehatan mencapai 7-11% per tahun.

Sayangnya, dalam catatan pertumbuhan ekonomi, sektor kesehatan hanya tumbuh 3-4% per tahunnya.

"Memang banyak alat kesehatan dan obat-obatan yang masih impor, sehingga belanja kesehatan yang 7-11% persen tidak semua tercatat menjadi GDP Growth di Indonesia. Karena itu semua terjadi di luar negeri," ujar Budi dalam Health Summit 2026 yang diselenggarakan CNBC Indonesia, Kamis (8/10/2026).


"Jadi mungkin sebagian lari ke India, karena terlalu banyak impor dari India. Sebagian besar lari ke Cina karena banyak impor juga dari sana," tambahnya.

Budi menegaskan kontribusi sektor kesehatan pada pertumbuhan ekonomi bisa ditingkatkan jika produksi alat kesehatan dan obat-obatan dilakukan di Indonesia. Dengan begitu, belanja kesehatan yang dikeluarkan bisa tercermin menjadi aktivitas manufaktur hingga penciptaan lapangan kerja.

"Jadi pertumbuhannya nggak ke luar. Saya bilang tadi the largest proportion of Indonesia's spending is hard consumption. So that's why the expenditure is 78%, tapi kalau realisasi GDP-nya juga 34%, karena memang banyak juga belanja kesehatan, pelayanan kesehatan yang terjadi di luar negeri. Sehingga GDP growth and job-nya happens di luar negeri," jelas Budi.

Strateginya adalah meningkatkan investasi yang masuk, baik di rumah sakit, fasilitas dan layanan kesehatan, hingga industri. Harapannya, belanja kesehatan yang mencapai Rp 641 triliun per tahunnya bisa menciptakan lapangan pekerjaan dan kontribusi ekonomi yang lebih besar.

Untuk itu, pemerintah pun mendorong pihak swasta untuk ikut turut serta menarik investasi dan menggunakan kapitalnya dalam membangun industri kesehatan.

"Itu sebabnya kementerian kesehatan kemudian power-nya di regulasi. Kalau regulasi yang kita bikin gak bagus, private sector will not come. Tapi kalau regulasi yang kita bikin bagus, private sector will come, capital, leverage, untuk bisa membangun fasilitas kesehatan, pabrik, sehingga trickle-down dari belanja kesehatan menjadi pertumbuhan ekonomi dan menciptakan lapangan kerja," jelasnya.


(rah/rah)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Menkes BGS Soal Belanja Kesehatan Rp 641 T-Investasi RS & Alkes


Related Articles