5 Tahun Lagi, Belanja Kesehatan RI Diproyeksi Tembus Rp1.282 T
Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin mengatakan sektor kesehatan di tanah air memiliki potensi dan kontribusi yang besar pada pertumbuhan ekonomi. Hal ini tercermin dari besarnya belanja kesehatan yang dikeluarkan setiap tahunnya, serta perkembangan layanan dan industri yang semakin masif.
Kementerian Kesehatan mencatat belanja kesehatan di Indonesia mencapai Rp 641 triliun per tahun. Angka ini termasuk belanja yang dikeluarkan oleh individu, korporasi dan BPJS Kesehatan.
Dia menilai, dengan naiknya angka harapan hidup dan perkembangan industri kesehatan, belanja kesehatan di tanah air bisa meningkat dari Rp 641 triliun menjadi Rp 1.282 triliun dalam 5-8 tahun ke depan.
Namun, berbeda dengan negara lain, menurut Budi, kontribusi belanja kesehatan di Indonesia masih didominasi dari income rumah sakit. Sementara di negara lain, biasanya rumah sakit, industri farmasi, dan alat kesehatan berkontribusi masing-masing 30%.
"Tapi kalau di Indonesia, karena perkembangan industri farmasi dan alat kesehatannya belum sebesar di rata-rata dunia, sebagian besar dari Rp641 triliun ini masih banyak yang datang dari rumah sakit. Jadi itu menunjukkan bahwa porsinya ini besar," ujar Budi dalam Health Summit 2026 yang diselenggarakan CNBC Indonesia, Kamis (8/10/2026).
Selain itu, jika dibandingkan dengan Malaysia yang mencapai US$ 430 per kapita/tahun, belanja kesehatan per kapita di Indonesia masih lebih kecil, yakni US$ 140 per kapita/tahun.
"Kalau dalam 5 tahun ke depan kita bisa naik (belanja kesehatan per kapita) seperti Malaysia. Kita akan belanjanya di level itu, 2-3 kali lipat dari sekarang," tambahnya.
Jika dikomparasi dengan Singapura, belanja kesehatan per kapita mencapai US$ 3.300 per kapita/tahun, maka Indonesia memiliki ruang yang lebar untuk tumbuh.
"Jadi ini adalah potensi yang besar, yang bisa ditranslasikan menjadi pertumbuhan ekonomi negara ini," kata Budi.
(rah/rah)