Ayam Kampung Lebih Sehat dari Broiler, Mitos atau Fakta?
Jakarta, CNBC Indonesia - Ayam kampung kerap dianggap lebih sehat dan bergizi dibandingkan ayam broiler. Tekstur dagingnya yang lebih padat hingga cara pemeliharaan yang umumnya lebih bebas menjadi beberapa alasan ayam kampung mendapat anggapan tersebut. Namun, benarkah ayam kampung selalu lebih unggul dari sisi kandungan gizi?
Dosen Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan Fakultas Peternakan IPB University, Shabrina Dyah Wibawanti mengatakan, salah satu perbedaan yang paling konsisten antara ayam kampung dan broiler justru terletak pada kandungan lemak. Ia menjelaskan, ayam broiler cenderung memiliki kadar lemak lebih tinggi karena dipelihara untuk mencapai pertumbuhan cepat dengan dukungan pakan berenergi tinggi.
"Perbedaan kandungan lemak antara kedua jenis ayam ini merupakan hasil gabungan dari faktor genetik, formulasi pakan, tingkat aktivitas, dan umur panen," kata Shabrina dalam keterangannya, dikutip dari IPB University, Rabu (7/10/2026).
Sementara itu, ayam kampung umumnya dipelihara lebih lama dengan sistem umbaran atau free range. Aktivitas fisik yang lebih tinggi membuat ayam menggunakan lebih banyak energi sehingga cenderung tidak menyimpan lemak sebanyak ayam yang dipelihara secara intensif.
Bagaimana dengan Kandungan Protein?
Ayam kampung tidak otomatis lebih unggul dalam seluruh aspek gizi. Dari sisi protein, kandungan ayam kampung dan broiler relatif tidak jauh berbeda.
"Ayam kampung memang dapat memiliki kandungan protein sedikit lebih tinggi, tetapi perbedaannya relatif kecil dan hasil penelitian bervariasi, sehingga secara praktis keduanya dapat dianggap setara sebagai sumber protein," jelas Shabrina.
Tekstur ayam kampung yang lebih padat juga bukan berarti kandungan gizinya lebih tinggi. Shabrina menilai, tekstur tersebut lebih banyak dipengaruhi struktur serat otot dan usia panen.
Ayam kampung biasanya dipanen pada usia lebih tua sehingga ikatan silang kolagen pada dagingnya semakin kuat dibandingkan broiler. Kondisi ini membuat daging ayam kampung terasa lebih padat dan kenyal.
Sementara itu, kandungan vitamin, mineral, hingga profil asam lemak omega-3 seperti DHA lebih banyak dipengaruhi oleh jenis pakan yang dikonsumsi ayam selama masa pemeliharaan.
Memilih ayam yang dianggap lebih sehat tidak cukup hanya dengan membandingkan ayam kampung dan broiler. Bagian daging yang dikonsumsi serta cara memasaknya juga perlu diperhatikan, kata Shabrina.
Sebagai contoh, dada ayam broiler tanpa kulit dapat memiliki kandungan lemak lebih rendah dibandingkan paha ayam kampung yang masih menggunakan kulit. Cara pengolahan juga dapat mengubah kandungan lemak makanan. Ayam yang digoreng, semisal bisa memiliki kandungan lemak lebih tinggi karena penggunaan minyak dalam proses memasak.
"Penentuan pilihan ayam berdasarkan kandungan gizi tidak dapat semata-mata didasarkan pada jenis ayam, melainkan perlu mempertimbangkan faktor lainnya," ungkap Shabrina.
Dengan demikian, baik ayam kampung maupun broiler sama-sama dapat menjadi sumber protein. Bagi orang yang ingin membatasi asupan lemak, Shabrina menyarankan memilih bagian ayam yang lebih rendah lemak, seperti dada tanpa kulit, serta menghindari pengolahan dengan cara digoreng.
(hsy/hsy)