Medali Asian Games Bikin Warga Korea Terbelah, BTS Ikut Terseret
Jakarta, CNBC Indonesia - Korea Selatan kembali diramaikan perdebatan soal keistimewaan bebas wajib militer bagi atlet berprestasi. Polemik kali ini mencuat setelah sejumlah pemain tim nasional sepak bola Korea Selatan terang-terangan menyebut pembebasan wajib militer sebagai hadiah utama setelah meraih emas Asian Games Aichi-Nagoya 2026.
Perdebatan kemudian meluas ke persoalan keadilan. Sejumlah kalangan mempertanyakan mengapa atlet bisa mendapat keringanan atas dasar mengharumkan nama negara, sementara tokoh dari bidang lain yang dinilai memberi kontribusi besar terhadap citra dan ekonomi Korea Selatan tetap harus menjalani wajib militer. Nama BTS pun kembali terseret dalam perdebatan tersebut.
Kontroversi bermula setelah Korea Selatan mengalahkan tuan rumah Jepang 1-0 pada final sepak bola putra Asian Games, Sabtu (3/10/2026). Kemenangan tersebut membawa Korea meraih medali emas sepak bola putra untuk keempat kalinya secara beruntun.
Namun, pernyataan beberapa pemain seusai pertandingan justru menuai kritik. Pemain sayap Yang Min-hyeok mengatakan medali maupun trofi bukan hal yang paling penting bagi mereka. Menurut pemain berusia 20 tahun itu, hadiah sebenarnya adalah terbebas dari kewajiban menjalani dinas militer penuh.
"Saya rasa medali atau trofi sama sekali tidak penting. Hadiah sebenarnya bagi kami adalah pembebasan wajib militer, jadi saya pikir kami bermain hanya dengan memikirkan hal itu," kata Yang, dikutip dari The Korea Times, Selasa (6/10/2026).
Bek Lee Gi-hyuk juga menjadi sorotan setelah tersenyum sambil menunjukkan medali emas kepada wartawan dan berkata, "Saya tidak akan pergi ke militer."
Sementara pemain sayap berusia 19 tahun, Park Seung-soo, mengunggah foto dirinya di ruang ganti mengenakan topi tentara cadangan setelah kemenangan tersebut. Ketiganya kemudian meminta maaf melalui media sosial setelah komentar dan unggahan mereka menuai kritik.
BTS Ikut Terseret
Anggota BTS Jungkook dan Jimin berpose untuk foto selama acara setelah menyelesaikan wajib militer Korea Selatan, di Yeoncheon, Korea Selatan, 11 Juni 2025. (REUTERS/Kim Hong-Ji)Â |
Di Korea Selatan, pria berbadan sehat pada umumnya diwajibkan menjalani dinas militer selama sekitar 18 hingga 21 bulan, tergantung cabang militer tempat mereka bertugas. Namun, pemerintah memberikan perlakuan khusus kepada atlet yang meraih medali emas Asian Games serta medali apa pun di Olimpiade.
Mereka tidak menjalani dinas aktif seperti kebanyakan pria Korea Selatan. Sebagai gantinya, para atlet tersebut menjalani pelatihan dasar militer selama beberapa pekan dan wajib menyelesaikan 544 jam pelayanan masyarakat dalam periode 34 bulan.
Skema tersebut sebelumnya juga diterima sejumlah bintang sepak bola Korea. Son Heung-min dan Kim Min-jae mendapatkannya setelah membawa Korea Selatan meraih emas Asian Games Jakarta-Palembang 2018. Lee Kang-in memperoleh manfaat serupa seusai Asian Games Hangzhou 2023.
Namun, alasan bahwa atlet layak mendapat keistimewaan karena meningkatkan prestise Korea Selatan kini kembali dipertanyakan. Anggota parlemen dari People Power Party, Na Kyung-won, menilai alasan tersebut tidak lagi cukup relevan dan membandingkannya dengan BTS yang memiliki pengaruh besar dalam memperkenalkan Korea Selatan kepada dunia, tetapi seluruh anggotanya tetap menjalani wajib militer.
"Bahkan BTS, yang telah berbuat lebih banyak daripada siapa pun untuk meningkatkan profil global Korea, menjalani wajib militer," kata Na.
Ia menilai situasi Korea Selatan saat ini berbeda dibandingkan puluhan tahun lalu ketika medali olahraga menjadi salah satu sarana utama untuk memperkenalkan negara tersebut kepada dunia.
"Ketika hanya ada sedikit cara untuk memperkenalkan Korea kepada dunia, satu medali sama dengan promosi nasional. Hal itu tentu berarti pada masa itu, tetapi zaman sudah berubah," tulis Na melalui Facebook.
"Dunia mengenal Korea melalui K-pop, K-drama, semikonduktor, smartphone, dan mobil," imbuhnya.
Pernyataan tersebut kembali memunculkan pertanyaan lebih luas mengenai siapa yang sebenarnya layak mendapatkan keringanan wajib militer apabila tolok ukurnya adalah kontribusi terhadap citra dan kepentingan nasional.
BTS sendiri sempat menjadi pusat perdebatan serupa sebelum para anggotanya menjalani wajib militer. Pada akhirnya, ketujuh anggota grup tersebut tetap memenuhi kewajiban militernya.
Populasi Menyusut, Tentara Korea Makin Sedikit
Perdebatan juga semakin sensitif karena Korea Selatan menghadapi penurunan jumlah penduduk usia wajib militer akibat rendahnya angka kelahiran. Jumlah personel militer aktif Korea Selatan yang mencapai sekitar 560.000 orang pada 2019 turun menjadi sekitar 450.000 pada 2025.
Jumlah tersebut diperkirakan merosot hingga di bawah 350.000 orang pada 2040. Penurunan itu terjadi ketika tingkat fertilitas total Korea Selatan berada di level 0,8 pada 2025.
Sejumlah warga pun menilai atlet seharusnya tetap menjalani kewajiban militer, meskipun masa tugasnya dapat disesuaikan agar tidak terlalu mengganggu karier profesional mereka.
"Militer adalah kewajiban warga negara Korea, termasuk atlet," kata seorang warga berusia 78 tahun, Hwang In-kwan.
Warga lainnya, Ku Do-kyun, menilai Asian Games bahkan mulai terlihat seperti jalur khusus bagi sebagian atlet untuk menghindari dinas militer penuh.
"Dalam sepak bola maupun bisbol, para pemain tampaknya bekerja keras di Asian Games hanya demi pembebasan wajib militer mereka sendiri. Seolah-olah mereka tidak akan datang jika tidak ada itu," ujarnya.
Perdebatan mengenai sistem tersebut sebenarnya bukan hal baru. Pada Asian Games Jakarta-Palembang 2018, tim bisbol Korea Selatan juga mendapat kritik setelah muncul dugaan bahwa beberapa pemain dipilih ke dalam tim demi membantu mereka memperoleh fasilitas wajib militer.
Pemerintah Korea Selatan pada 2019 akhirnya mempertahankan sistem tersebut. Salah satu alasannya, hanya sekitar 45 orang per tahun yang mendapatkan fasilitas itu sehingga penghapusannya dinilai tidak akan memberikan dampak signifikan terhadap jumlah personel militer.
Namun, setelah komentar para pemain sepak bola Korea Selatan di Asian Games 2026, perdebatan lama itu kembali hidup. Kali ini pertanyaannya bukan hanya soal atlet dan wajib militer, tetapi juga apakah konsep "mengharumkan nama negara" masih relevan dijadikan dasar pemberian keistimewaan ketika pengaruh global Korea Selatan kini datang dari banyak bidang, mulai dari olahraga hingga K-pop dan industri teknologi.
(hsy/hsy) [Gambas:Video CNBC]