Menteri Kebudayaan Kecam Protes di Depan Rumah Aktor The Assassin(s)

Linda Sari Hasibuan,  CNBC Indonesia
06 October 2026 10:00
Menteri Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata, Chae Hwi-young terlihat sedang melaporkan rencana kerja utama Kementerian Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata tahun 2026 pada tanggal 16 Desember 2025 di Kompleks Pemerintahan Sejong. (Dok. Kementerian K
Foto: Menteri Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata Korea Selatan Chae Hwi-young. (Dok. Kementerian Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata Korea Selatan)

Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Kebudayaan Korea Selatan Chae Hwi-young mengecam aksi protes kelompok konservatif di depan kediaman aktor Yoo Hae-jin yang dipicu kontroversi film thriller sejarah The Assassin(s).

Melansir Korea Herald, Chae mengatakan dirinya telah meminta kepolisian memberikan perlindungan kepada para pemeran dan kru film serta menindak tegas setiap tindakan intimidasi yang mengancam keselamatan mereka.

"Orang-orang bebas menilai sebuah film, namun mengancam keselamatan para pembuatnya merusak demokrasi," tulis Chae melalui media sosial pada Senin (5/10/2026).

Pernyataan tersebut disampaikan sehari setelah sekitar 50 anggota kelompok sipil konservatif berkumpul di dekat sebuah rumah di Seongbuk-gu, Seoul, yang diyakini sebagai kediaman Yoo Hae-jin. Jumlah tersebut merupakan perkiraan tidak resmi kepolisian yang dikutip media setempat.

Para demonstran menuntut penayangan film dihentikan. Mereka juga meminta pihak produser dan para pemeran menyampaikan permintaan maaf atas film yang dinilai mendistorsi sejarah.

The Assassin(s) yang disutradarai Hur Jin-ho mulai tayang di bioskop pada 23 September. Film tersebut mengangkat kisah dramatis mengenai upaya pembunuhan terhadap Presiden Park Chung-hee pada 1974 yang justru menewaskan Ibu Negara Yuk Young-soo.

Film itu kemudian memicu kritik dari politisi dan kelompok konservatif yang menilai penggambaran peristiwa tersebut mendistorsi sejarah serta menghina keluarga mendiang Yuk, termasuk mantan Presiden Park Geun-hye. Namun, tim produksi menegaskan bahwa The Assassin(s) merupakan karya fiksi dan tidak dimaksudkan untuk menetapkan kesimpulan sejarah baru.

Chae mengatakan perdebatan mengenai cara sebuah film menafsirkan sejarah merupakan hal yang wajar dalam masyarakat demokratis. Namun, menurut dia, kritik tidak boleh berkembang menjadi tindakan yang mengancam keselamatan individu.

Ia menilai tindakan mendatangi rumah seorang aktor, mengganggu kehidupan pribadinya, hingga mengancam keselamatannya merupakan sesuatu yang "sangat mengkhawatirkan dan sama sekali tidak dapat ditoleransi."

Chae juga menegaskan prinsip arm's-length, yakni kebijakan yang menjaga jarak antara pemerintah dan isi karya seni. Menurutnya, pemerintah dapat memberikan dukungan terhadap bidang seni tanpa mencampuri konten yang dihasilkan.

Ia memperingatkan bahwa tuntutan agar pemerintah menggunakan kewenangan administratif untuk menghentikan sebuah karya hanya karena tidak disukai merupakan "seruan berbahaya untuk kembali ke era penyensoran awal" yang bertentangan dengan Konstitusi.

"Jika suatu karya melibatkan pencemaran nama baik atau masalah hukum lainnya, persoalan tersebut dapat diselesaikan setelah karya itu dirilis melalui gugatan perdata atau proses pidana," kata Chae.

"Tidak seorang pun sepatutnya mendatangi rumah seorang aktor untuk menyebarkan ketakutan atau mencoba mencelakainya hanya karena ia tampil dalam karya yang tidak mereka setujui," paparnya.

Industri Film Bela Kebebasan Berkarya
Dukungan terhadap para pembuat film juga datang dari industri perfilman Korea Selatan. Sebanyak 19 kelompok yang mewakili berbagai bidang industri film, mulai dari produksi, penyutradaraan, distribusi, festival hingga serikat pekerja, mengeluarkan pernyataan bersama pada Senin.

Koalisi tersebut menyatakan "keprihatinan mendalam" karena kontroversi The Assassin(s) telah merambah ke ranah kehidupan sehari-hari dan keselamatan individu.
Menurut mereka, perdebatan mengenai film yang mengangkat peristiwa sejarah nyata merupakan sesuatu yang wajar. Mereka juga menilai rasa pedih yang dirasakan keluarga korban dan pihak yang ditinggalkan tetap harus dihormati.

Namun, koalisi menekankan pentingnya membedakan secara jelas antara kritik terhadap sebuah karya dan tekanan terhadap individu. Mereka pun menyerukan kepada masyarakat agar perdebatan mengenai film tersebut tidak berubah menjadi serangan terhadap orang-orang yang terlibat di dalamnya.

Sebelumnya, agensi Yoo Hae-jin, VAST Entertainment, juga menyatakan keprihatinan atas situasi tersebut. Agensi mengatakan setiap tindakan yang melanggar privasi aktor, mengancam keselamatannya, atau merusak reputasinya merupakan persoalan serius.

Tindakan yang dimaksud antara lain pembuatan dan penyebaran informasi palsu, serangan pribadi yang berniat jahat serta penghinaan. Agensi menyatakan tengah mengumpulkan bukti dan akan mengambil langkah hukum untuk melindungi hak serta keselamatan Yoo.

Promosi Film Terdampak
Kontroversi tersebut turut berdampak pada kegiatan promosi The Assassin(s). Perusahaan produksi Hive Media Corp. membatalkan acara stage greetings pada pekan kedua di Seoul dan Busan yang sebelumnya dijadwalkan berlangsung dari Jumat hingga Senin.

Festival Film Internasional Busan juga membatalkan sejumlah acara yang seharusnya dihadiri sutradara Hur Jin-ho serta para pemeran, termasuk Yoo Hae-jin, Park Hae-il dan Lee Min-ho. Salah satunya adalah sesi "Actor's House" yang menampilkan Lee Min-ho pada Rabu. Pada 1 Oktober, pihak festival menyebut adanya "situasi yang tidak dapat dihindari" sebagai alasan pembatalan.

Meski menghadapi kontroversi, The Assassin(s) tetap mencatatkan performa kuat di box office. Berdasarkan data Dewan Film Korea, film tersebut telah ditonton lebih dari 2,23 juta orang hingga Sabtu, atau hari ke-11 sejak penayangannya di bioskop.

(miq/miq) [Gambas:Video CNBC]

Most Popular
Features