Studi Ungkap Gen Z Ternyata Lebih Religius & Spiritual

Lynda Hasibuan, CNBC Indonesia
Sabtu, 26/09/2026 07:45 WIB
Foto: gen z

Jakarta, CNBC Indonesia - Selama bertahun-tahun, Generasi Z di Amerika Serikat diperkirakan akan menjadi generasi yang semakin jauh dari agama. Namun, temuan survei terbaru menunjukkan gambaran yang lebih kompleks.

Alih-alih sepenuhnya meninggalkan agama, sebagian anak muda Amerika justru menunjukkan ketertarikan yang kuat terhadap agama dan berbagai bentuk spiritualitas. Bahkan, berdasarkan survei terbaru Harris Poll, proporsi Gen Z yang mengidentifikasi diri sebagai religius tercatat lebih tinggi dibandingkan generasi yang lebih tua.

Melansir USA Today, survei daring yang melibatkan 2.136 orang dewasa di Amerika Serikat itu mencakup responden dari Generasi Z, Milenial, Generasi X, dan Baby Boomer. Gen Z dalam survei tersebut didefinisikan sebagai orang dewasa berusia 18 hingga 29 tahun.


Hasilnya, sekitar 33 persen responden Gen Z menyebut diri mereka religius. Angka itu dibandingkan dengan 19 persen pada kelompok Milenial, 22 persen Generasi X, dan 18 persen Baby Boomer.

Chief Strategy Officer Harris Poll, Libby Rodney, mengatakan hasil tersebut menantang anggapan bahwa setiap generasi baru akan menjadi semakin sekuler.

"Gagasan bahwa generasi mendatang akan menjadi lebih sekuler-generasi ini justru membalikkan anggapan tersebut," ujar Rodney.

Menurutnya, Harris Poll sebelumnya telah mengamati ketertarikan masyarakat Amerika terhadap berbagai bentuk spiritualitas, termasuk astrologi dan manifestasi. Karena itu, minat Gen Z terhadap spiritualitas sebenarnya sudah diperkirakan.

Namun, tingginya proporsi Gen Z yang secara eksplisit mengidentifikasi diri sebagai religius menjadi salah satu temuan yang menarik perhatian.

Tak hanya agama, praktik spiritual juga meningkat

Ketertarikan Gen Z terhadap spiritualitas ternyata tidak hanya terlihat dari identitas keagamaan mereka.

Sebanyak 88 persen responden Gen Z dalam survei tersebut mengatakan mereka secara rutin melakukan setidaknya satu kegiatan keagamaan atau spiritual. Kegiatannya beragam, mulai dari membaca kitab suci dan menghadiri kegiatan keagamaan hingga meditasi, astrologi, manifestasi dan praktik energi.

Survei juga menunjukkan Gen Z merupakan kelompok yang paling mungkin menghadiri kegiatan keagamaan atau membaca kitab suci. Sementara itu, kebiasaan berdoa secara pribadi cenderung meningkat seiring bertambahnya usia.

Bagi Angie Bosio, direktur pelayanan kaum muda di St. Stephen Catholic Community di kawasan Nashville, Tennessee, temuan tersebut bukan sesuatu yang mengejutkan.

Bosio, yang tidak terlibat dalam survei Harris Poll, mengatakan pengalaman selama 25 tahun mendampingi anak muda menunjukkan bahwa banyak dari mereka memiliki rasa ingin tahu yang besar mengenai iman dan pertanyaan-pertanyaan mendasar tentang kehidupan.

"Mereka lebih religius dibandingkan generasi sebelumnya," ujar Bosio.

Menurut dia, media sosial ikut berperan dalam perubahan tersebut. Anak muda kini dapat dengan mudah menemukan tokoh agama, mengikuti pembahasan mengenai kitab suci dan mendapatkan ruang untuk mendiskusikan pertanyaan besar mengenai kehidupan.

Amerika memang mengalami perubahan lanskap agama

Meski demikian, temuan Harris Poll tersebut tidak berarti bahwa Amerika Serikat telah sepenuhnya membalikkan tren sekularisasi yang berlangsung selama beberapa dekade.

Pew Research Center mencatat bahwa sekitar 90 persen orang dewasa Amerika masih mengidentifikasi diri sebagai Kristen pada awal 1990-an. Angka itu kemudian turun menjadi sekitar dua pertiga dalam beberapa dekade berikutnya.

Dalam Religious Landscape Study 2023-2024, Pew mencatat sekitar 62 persen orang dewasa AS mengidentifikasi diri sebagai Kristen, sementara 29 persen mengatakan mereka tidak memiliki afiliasi agama atau termasuk kelompok yang sering disebut "nones".

Namun, Pew juga menemukan bahwa identitas religius dan spiritualitas tidak selalu berjalan dalam satu garis lurus. Dalam survei terbarunya, hampir tiga perempat orang dewasa Amerika mengatakan mereka setidaknya cukup spiritual, sementara 58 persen menyebut diri mereka setidaknya cukup religius. Sebanyak 21 persen mengatakan mereka spiritual tetapi tidak religius.

Gambaran tersebut menunjukkan bahwa seseorang yang tidak terikat pada institusi agama tertentu belum tentu sepenuhnya meninggalkan pencarian spiritual.

Gen Z mencari komunitas di dunia nyata

Survei Harris Poll juga menemukan adanya ketertarikan Gen Z terhadap komunitas yang berlangsung secara langsung.

Sekitar enam dari 10 responden Gen Z dan Milenial mengatakan mereka kini menjadi bagian dari lebih banyak komunitas dunia nyata yang melibatkan pertemuan langsung dibandingkan sebelumnya. Bentuknya antara lain klub, komunitas keagamaan, kelompok hobi hingga kegiatan sukarelawan.

Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan 42 persen pada Gen X dan 32 persen pada Baby Boomer.

Rodney melihat fenomena itu sebagai bagian dari pencarian anak muda terhadap hubungan sosial yang lebih bermakna.

Pandemi COVID-19, perkembangan kecerdasan buatan, perubahan iklim, tekanan ekonomi, mahalnya harga rumah dan ketidakpastian dunia kerja disebut menjadi sejumlah konteks yang membentuk pengalaman generasi muda saat ini.

Dalam situasi tersebut, sebagian anak muda tampaknya mulai mencari cara untuk membangun kehidupan yang mereka anggap lebih bermakna, termasuk melalui agama, spiritualitas dan komunitas.

"Ini adalah sebuah kebangkitan lintas generasi," kata Rodney.

Menurut dia, ketika berbagai aspek kehidupan terasa semakin tidak pasti, anak muda mulai memikirkan kembali seperti apa kehidupan yang ingin mereka bangun.

Agama dan spiritualitas tidak selalu dipisahkan

Salah satu karakteristik yang terlihat dari Gen Z adalah kecenderungan untuk menggabungkan berbagai bentuk pencarian spiritual.

Rodney menggambarkannya sebagai semacam "penggabungan". Anak muda tidak selalu melihat agama dan praktik spiritual sebagai dua pilihan yang harus dipisahkan.

Seseorang dapat berdoa dan membaca kitab suci, tetapi pada saat yang sama tertarik pada meditasi, astrologi atau praktik spiritual lainnya.

Lebih dari separuh responden Gen Z dalam survei tersebut juga dilaporkan telah melakukan praktik spiritual atau aktivitas pencarian makna dalam satu tahun terakhir.

Pada saat yang sama, sekitar enam dari 10 responden mengatakan mereka memulai pekerjaan sampingan, menyesuaikan kewajiban pekerjaan dengan gaya hidup yang diinginkan, atau memulai proyek maupun hobi baru. Hampir tujuh dari 10 juga mengatakan telah mempelajari keterampilan baru atau mengikuti pelatihan maupun pendidikan baru.

"Ini bukan sekadar soal menjadi religius secara tradisional," kata Rodney.

Ia menilai anak muda sedang mengumpulkan berbagai cara untuk menghadapi ketidakpastian dan mencari arah kehidupan.

Media sosial menjadi pintu menuju komunitas keagamaan

Media sosial juga disebut berperan dalam mempertemukan anak muda dengan komunitas keagamaan.

Sejumlah kegiatan bahkan dikemas dengan pendekatan yang lebih dekat dengan budaya anak muda, seperti "Pizza to Pews", ketika anak muda berkumpul di restoran pizza sebelum menghadiri Misa.

Ada pula "Holy Girl Walk" di New York City, kegiatan yang mempertemukan perempuan muda Katolik untuk berjalan-jalan sambil berdoa Rosario di Central Park.

Menurut Rodney, kegiatan semacam itu menunjukkan bahwa pencarian spiritual Gen Z tidak hanya berkaitan dengan keyakinan pribadi, tetapi juga kebutuhan untuk menemukan komunitas.

"Mereka mencari koneksi dan kesamaan, dan hal ini merupakan dampak langsung dari rasa kesepian pascapandemi," ujarnya.

Fenomena serupa terlihat melalui figur seperti Guilherme Peixoto, imam Katolik asal Portugal yang dikenal sebagai Padre Guilherme. Ia menggabungkan aktivitas keagamaan dengan musik elektronik dan pernah tampil dalam World Youth Day 2023.

Dari meditasi hingga gereja

Pengalaman tersebut juga tercermin dalam kehidupan Jordan Booker, lulusan University of Houston tahun 2023 yang mendirikan Smoove Blendz, sebuah acara pop-up yang menggabungkan kesejahteraan dan komunitas.

Acara tersebut menghadirkan meditasi, yoga dan sajian matcha serta dipromosikan sebagai ruang untuk menyegarkan diri dan mengisi kembali energi.

Booker yang dibesarkan dalam lingkungan Kristen juga menghadiri "Motion Night" di Grace Church, Houston. Acara tersebut ditujukan bagi orang dewasa berusia 30 tahun ke bawah dan dilengkapi kegiatan ramah tamah serta truk makanan.

Bagi Booker, melihat banyak anak muda berkumpul untuk beribadah memberikan pengalaman tersendiri.

"Sungguh luar biasa melihat begitu banyak orang beribadah kepada Tuhan dan memuji-Nya," ujarnya.

Menurutnya, kegiatan yang dirancang khusus untuk anak muda membuat aktivitas keagamaan dan pergi ke gereja terasa lebih dekat dengan kehidupan generasinya.

Dengan demikian, gambaran mengenai Gen Z Amerika tampaknya tidak sesederhana anggapan bahwa generasi muda otomatis semakin sekuler.

Data Pew Research Center tetap menunjukkan perubahan jangka panjang menuju masyarakat Amerika yang lebih beragam secara keagamaan dan meningkatnya kelompok yang tidak berafiliasi dengan agama tertentu.

Namun, survei Harris Poll memperlihatkan sisi lain dari perubahan tersebut: di tengah meningkatnya pencarian identitas, ketidakpastian ekonomi, kesepian dan perubahan sosial, sebagian Gen Z justru kembali mencari agama, spiritualitas dan komunitas-meski cara mereka menjalankannya tidak selalu mengikuti pola generasi sebelumnya.


(pgr/pgr)
Saksikan video di bawah ini:

Timnas Bulutangkis Beregu Putra Raih Medali Emas Asian Games 2026