Sudah Kecanduan AI, Banyak Anak Sekolah Prestasinya Menurun

Linda Hasibuan, CNBC Indonesia
Jumat, 25/09/2026 09:25 WIB
Foto: Artificial Intelligence (AI). REUTERS/Dado Ruvic/Illustration/File Photo

Jakarta, CNBC Indonesia - Kemampuan akademis remaja di berbagai negara kembali menjadi perhatian setelah hasil terbaru Programme for International Student Assessment (PISA) menunjukkan penurunan kinerja siswa dalam sejumlah bidang utama.

Melansir Yahoo, hasil PISA 2025 menunjukkan rata-rata performa terendah yang pernah tercatat di negara-negara Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) dalam sains, membaca, dan matematika. Penilaian ini melibatkan lebih dari 760.000 siswa berusia 15 tahun dari 91 negara dan perekonomian, yang mewakili sekitar 33 juta remaja di seluruh dunia.

PISA merupakan salah satu survei internasional terbesar untuk mengukur kemampuan siswa berusia 15 tahun dalam menggunakan pengetahuan dan keterampilan mereka dalam membaca, matematika, dan sains.


Penurunan paling tajam terjadi pada kemampuan membaca

Data OECD memperlihatkan penurunan yang cukup besar dalam satu dekade terakhir. Di negara-negara OECD, skor rata-rata membaca turun 28 poin antara 2015 dan 2025, sedangkan matematika turun 22 poin. Penurunan tersebut oleh OECD diperkirakan setara dengan sekitar satu setengah tahun pembelajaran untuk membaca dan lebih dari satu tahun pembelajaran untuk matematika.

Sementara itu, kemampuan sains relatif lebih stabil dalam periode 2022-2025 dibandingkan membaca dan matematika. Namun, secara keseluruhan, PISA 2025 tetap mencatat rata-rata kinerja OECD terendah yang pernah terlihat dalam ketiga bidang tersebut.

Sekitar 20 persen siswa berusia 15 tahun di negara-negara OECD kini berada pada kategori berkinerja rendah di ketiga bidang tersebut, meningkat dari 16 persen pada 2022.

Yang menjadi perhatian khusus adalah perubahan kemampuan membaca. OECD menemukan penurunan pada keterampilan yang semakin penting di tengah derasnya arus informasi digital, seperti mengevaluasi informasi, menghubungkan berbagai sumber, dan berpikir kritis terhadap apa yang dibaca.

AI ikut menjadi perhatian

Di tengah penurunan tersebut, penggunaan kecerdasan buatan atau AI oleh pelajar menjadi salah satu aspek yang dianalisis dalam PISA 2025.

OECD menegaskan bahwa hasil PISA tidak menunjukkan bahwa AI semata-mata menjadi penyebab penurunan prestasi siswa. Hubungan antara penggunaan AI dan hasil belajar dinilai kompleks dan sangat bergantung pada bagaimana teknologi tersebut digunakan.

Data PISA menunjukkan siswa yang menggunakan AI untuk tugas sekolah tertentu, seperti merangkum teks, melakukan riset awal, atau menyusun tulisan, rata-rata memperoleh skor sains lebih rendah dibandingkan siswa yang tidak menggunakannya untuk tugas-tugas tersebut. Untuk sejumlah aktivitas, perbedaannya mencapai sekitar 20 poin.

Namun, temuan tersebut tidak dapat langsung diartikan bahwa AI menyebabkan rendahnya nilai. OECD menekankan adanya berbagai faktor yang memengaruhi hubungan tersebut, termasuk cara siswa menggunakan AI dan karakteristik siswa yang mengadopsi teknologi tersebut.

Sebaliknya, penggunaan AI secara terarah juga dapat berkaitan dengan hasil pembelajaran yang lebih baik. Siswa yang menggunakan AI secara rutin untuk tujuan umum dan memperoleh kesempatan di sekolah untuk mempelajari literasi AI cenderung memiliki skor sains sedikit lebih tinggi dibandingkan mereka yang tidak mendapatkan pembelajaran tersebut.

Bukan sekadar soal boleh atau tidak menggunakan AI

Temuan tersebut membuat persoalan penggunaan AI di sekolah menjadi lebih kompleks. Persoalannya bukan hanya apakah siswa menggunakan AI, tetapi untuk apa dan bagaimana teknologi tersebut digunakan.

OECD mencatat bahwa penggunaan perangkat digital secara terbatas atau moderat untuk kegiatan pembelajaran kerap berkaitan dengan hasil yang lebih baik. Sebaliknya, penggunaan berlebihan dan gangguan digital di sekolah berkaitan dengan hasil yang lebih rendah.

Sebanyak 28 persen siswa di negara-negara OECD mengatakan teman-teman mereka terdistraksi oleh perangkat digital dalam sebagian besar atau setiap pelajaran sains. Siswa yang berada di lingkungan kelas dengan tingkat distraksi digital tinggi juga cenderung menunjukkan keterlibatan belajar yang lebih rendah.

Karena itu, OECD menekankan pentingnya memastikan teknologi dan AI digunakan sebagai alat pendukung pembelajaran, bukan sebagai pengganti proses berpikir siswa.


(hsy/hsy)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Era Wearable Technology, Jam Pintar Jadi Tren Gaya Hidup Aktif