Bukan Sekadar Isi Perut, Makan dan Nongkrong Kini Jadi Gaya Hidup
Jakarta, CNBC Indonesia - Makan dan minum kini bukan sekadar urusan mengisi perut. Bisnis kuliner juga semakin erat kaitannya dengan gaya hidup dan komunitas, sehingga pelaku usaha perlu memahami kebutuhan dan kebiasaan konsumen agar mereka mau kembali.
Perubahan ini membuat bisnis makanan dan minuman atau food and beverage (F&B) tidak cukup hanya mengandalkan produk yang ditawarkan. Konsep yang relevan dengan kebutuhan konsumen juga menjadi bagian penting dalam membangun bisnis yang berkelanjutan.
CEO Erajaya Food & Nourishment (EFN), Jeremy Sim melihat sektor F&B memiliki potensi untuk membangun gaya hidup dan komunitas di berbagai segmen konsumen. Menurutnya, setiap kelompok konsumen memiliki karakteristik dan kebutuhan yang berbeda.
"Pelaku bisnis perlu mengembangkan konsep yang sesuai dengan preferensi pasar, bukan sekadar memperluas jumlah merek," kata Jeremy dalam temu media beberapa waktu lalu.
Jeremy menekankan pentingnya keseimbangan antara menarik konsumen baru (acquisition) dan mempertahankan pelanggan yang sudah ada (retention). Artinya, ia menjelaskan, keberhasilan bisnis kuliner tidak hanya ditentukan oleh kemampuan menarik pengunjung untuk pertama kali, tetapi juga menciptakan alasan bagi mereka untuk kembali.
Selain sektor kuliner, perubahan kebutuhan konsumen juga menjadi perhatian dalam bisnis ritel kebutuhan sehari-hari. Jeremy mengatakan, melalui GrandLucky, misalnya, EFN berupaya menggabungkan variasi produk, kualitas, kelengkapan barang, serta pengalaman berbelanja untuk memberikan nilai tambah bagi konsumen.
"Di sisi lain, harga juga menjadi salah satu aspek yang diperhatikan. Perusahaan berupaya menjaga keseimbangan antara pilihan produk yang beragam dan harga yang kompetitif, khususnya untuk berbagai kebutuhan sehari-hari," tegas ia.
Untuk itu, pihaknya selalu evaluasi harga dilakukan secara berkala terhadap sejumlah produk kebutuhan harian. Pendekatan tersebut menunjukkan bagaimana pelaku usaha berupaya memahami konsumen tidak hanya dari produk yang dibeli, tetapi juga dari preferensi dan pengalaman mereka ketika berbelanja.
Jeremy bilang, EFN sendiri mengembangkan bisnis di sektor makanan, kebutuhan sehari-hari, dan gaya hidup sebagai bagian dari strategi untuk membangun hubungan yang lebih dekat dengan konsumen. Melalui sektor-sektor tersebut, kata ia, perusahaan memiliki kesempatan untuk berinteraksi dengan pelanggan secara lebih intensif sekaligus memahami perubahan perilaku dan kebutuhan mereka.
Menurut Jeremy, kebutuhan konsumen juga berkaitan dengan ketersediaan produk dan kekuatan rantai pasok. EFN terus mengeksplorasi penguatan hubungan dengan pemasok dan petani melalui bisnis ritelnya.
"Salah satu pendekatan yang telah dilakukan adalah pembelian langsung dari sumber produk atau direct sourcing melalui merek Brastagi di Medan," tutur ia.
Hubungan yang lebih dekat dengan petani dinilai dapat membantu menciptakan rantai pasok yang lebih efisien sekaligus memberikan manfaat bagi konsumen dan pemasok. Perusahaan juga melihat peluang untuk mendukung petani melalui akses teknologi, infrastruktur, sarana produksi pertanian, serta informasi mengenai kebutuhan pasar.
"Informasi mengenai perilaku konsumen dan permintaan produk dapat membantu petani menentukan jenis komoditas yang sesuai dengan kebutuhan pasar sekaligus mengurangi risiko kelebihan pasokan," katanya.
Ke depan, GrandLucky turut mengeksplorasi pengembangan praktik pertanian modern, termasuk penggunaan rumah kaca (greenhouse) dan sistem hidroponik. Kedua metode tersebut dinilai berpotensi meningkatkan ketahanan produksi terhadap kondisi cuaca dan menciptakan rantai pasok yang lebih efisien. EFN juga melihat peluang pengembangan skema penyerapan hasil panen atau offtake untuk memberikan akses pasar yang lebih jelas bagi petani.
"Upaya memahami kebutuhan konsumen tidak hanya diterapkan pada produk dan pengalaman berbelanja, tetapi juga dapat menjadi dasar pengembangan rantai pasok dari tingkat petani hingga produk sampai ke tangan konsumen," kata ia.
(hsy/hsy)