Tiket Konser Mahal Selalu Sold Out, Benarkah Orang RI Banyak Duit?

Fergi Nadira, CNBC Indonesia
Rabu, 23/09/2026 16:10 WIB
Foto: Penjualan tiket konser BTS World Tour

Jakarta, CNBC Indonesia - Tiket konser dengan harga jutaan rupiah belakangan tetap menjadi rebutan. Bahkan, tiket yang harganya melampaui upah minimum di sejumlah daerah bisa ludes hanya dalam hitungan menit.

Fenomena tersebut kemudian memunculkan anggapan daya beli masyarakat Indonesia masih kuat dan kondisi ekonomi baik-baik saja. Meski begitu, tiket konser mahal yang sold out tidak bisa begitu saja dijadikan tolok ukur kemampuan ekonomi masyarakat secara keseluruhan.

Guru Besar Bidang Perilaku Konsumen Berkelanjutan Universitas Airlangga (UNAIR) Prof. Dr. Gancar Candra Premananto menilai, fenomena tersebut lebih berkaitan dengan tingginya fanatisme dan loyalitas penggemar ketimbang tingkat kesejahteraan ekonomi.


"Bukan masalah daya beli tinggi. Namun, lebih karena fanatisme tinggi dari para penggemar yang menjadikan mereka rela melakukan berbagai hal agar bisa membeli tiket. Seperti berhemat hingga memanfaatkan pinjaman online (pinjol)," kata Gancar dalam keterangannya dikutip dari laman resmi UNAIR, Rabu (23/9/2026).

Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UNAIR tersebut bilang, sebagian penggemar bahkan menjadikan konser sebagai salah satu prioritas pengeluaran karena kesempatan menyaksikan idolanya belum tentu datang setiap tahun.

"Bagi mereka, pertunjukan yang belum tentu terjadi setahun sekali tersebut layak menjadi prioritas untuk membahagiakan diri (self-reward)," ujarnya.

Gancar juga menilai anggapan ekonomi Indonesia sedang baik-baik saja hanya karena tiket konser mahal terus habis terjual dapat menciptakan gambaran yang semu mengenai daya beli masyarakat. Sebab, pengeluaran untuk tiket konser termasuk konsumsi kebutuhan tersier dan bukan kebutuhan rutin masyarakat.

Ia katakan, konsumsi semacam ini juga dapat berkaitan dengan short-term orientation atau orientasi jangka pendek. Di tengah ketidakpastian ekonomi dalam jangka panjang, sebagian konsumen memilih menggunakan uangnya untuk memperoleh kebahagiaan dalam waktu dekat.

"Padahal, pemenuhan kebutuhan tersier yang dilakukan saat ini merupakan bentuk konsumsi dengan short-term orientation (orientasi jangka pendek). Mengingat perekonomian jangka panjang penuh dengan ketidakpastian, konsumen memilih untuk membahagiakan dirinya dalam jangka pendek," jelas Gancar.

Dari perspektif makroekonomi, fenomena tiket konser mahal yang laris juga tidak serta-merta menggambarkan kondisi perekonomian nasional. Gancar menjelaskan pembeli tiket konser hanya mewakili sebagian kecil masyarakat.

Fenomena ini disebutnya sebagai bubble effect, karena konsumen yang terlihat sangat aktif berbelanja berada dalam kelompok tertentu dan tidak mencerminkan populasi secara keseluruhan. Pembeli tiket konser juga memiliki segmentasi khusus, termasuk penggemar dengan tingkat loyalitas sangat tinggi atau hardcore loyalist.

Penonton Konser Tak Sampai 1% Penduduk RI

Gancar mencontohkan kapasitas stadion besar seperti Gelora Bung Karno (GBK) maupun Jakarta International Stadium (JIS) yang dapat menampung sekitar 70 ribu hingga 80 ribu penonton. Angka tersebut tetap sangat kecil apabila dibandingkan dengan jumlah penduduk Indonesia yang telah mencapai lebih dari 280 juta jiwa.

"Kapasitas stadion besar seperti GBK atau JIS mampu menampung 70 hingga 80 ribu penonton. Jumlah tersebut bahkan tidak sampai 1 persen dari total penduduk Indonesia yang mencapai lebih dari 280 juta jiwa. Porsinya sangat kecil dan sama sekali tidak merepresentasikan kondisi seluruh penduduk Indonesia," paparnya.

Oleh sebab itu, kata ia, daya beli masyarakat menurutnya tidak dapat disimpulkan hanya dari seberapa cepat tiket konser terjual. Kondisi ekonomi perlu dilihat melalui indikator yang lebih luas, termasuk inflasi dan tingkat pengangguran.

Meski demikian, tingginya aktivitas hiburan bukan berarti tidak memiliki dampak ekonomi positif. Gancar bilang, konsumsi berorientasi jangka pendek dapat meningkatkan destination awareness dan menggerakkan ekonomi daerah secara sporadis.

Namun, masyarakat tetap perlu memperhatikan kondisi keuangan untuk jangka panjang, terutama di tengah tren hiburan berbiaya tinggi.

"Sosialisasi dan literasi berinvestasi untuk produk-produk primer dan sekunder jangka panjang tetap perlu diperhatikan dan disikapi secara serius oleh masyarakat," kata ia.


(hsy/hsy)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Era Wearable Technology, Jam Pintar Jadi Tren Gaya Hidup Aktif