Gegara Asbes Kota Ini Dilanda Petaka, 4.000 Orang Mati Beracun
Jakarta, CNBC Indonesia - Sebuah kota di Australia berubah menjadi kawasan terlarang setelah aktivitas pertambangan meninggalkan ancaman kesehatan mematikan. Ribuan orang bahkan dikaitkan dengan penyakit akibat paparan asbes dari wilayah tersebut.
Kota itu adalah Wittenoom, bekas kawasan pertambangan yang berada sekitar 1.600 kilometer di utara Perth, Australia Barat. Paparan serat asbes dari kawasan tersebut dikaitkan dengan sekitar 4.000 kematian dan menjadikannya salah satu bencana industri terbesar di Australia.
Risiko kesehatan yang masih tersisa membuat pemerintah Australia Barat menutup Wittenoom dari publik. Bangunan yang tersisa telah dirobohkan, sementara masyarakat dilarang memasuki kawasan tersebut. Pelanggar bahkan dapat dikenai denda hingga 500 dolar Australia.
Kepala eksekutif Asbestos Disease Society of Australia, Melita Markey, menyatakan paparan asbes tidak bisa ditarik kembali. Anehnya, meski mengetahui kota tersebut beracun, seorang travel blogger asal Queensland justru mengunjungi bekas kota tambang asbes Wittenoom bersama putrinya yang masih berusia empat tahun.
Kunjungan tersebut direkam dan diunggah ke media sosial serta kanal YouTube miliknya. Aksi itu kemudian memicu kecaman dari pegiat kesehatan karena keduanya berisiko terpapar asbes yang mematikan.
"Sebagai orang tua, sebagai ibu, pemandangan ini sangat menyedihkan," ujar Markey.
Ia menegaskan seseorang tidak perlu berada lama di lokasi untuk menghirup serat crocidolite, jenis asbes biru yang sangat berbahaya dan tidak terlihat oleh mata telanjang. Bahkan, sejumlah joki yang hanya beberapa kali menghadiri balapan di Wittenoom dilaporkan kemudian meninggal akibat penyakit terkait asbes. Wittenoom menjadi satu-satunya sumber paparan asbes yang diketahui pada kasus tersebut.
Tambang asbes di sana sebenarnya telah ditutup pada 1966. Namun, kota tersebut masih beroperasi selama beberapa dekade setelahnya. Sekolah baru ditutup pada 1985, sedangkan balapan kuda masih digelar hingga 1991.
Markey juga mengingatkan bahwa di Australia terdapat remaja yang menderita mesothelioma, kanker langka yang berkaitan langsung dengan paparan asbes. Meski masih ada wisatawan yang nekat datang, pemerintah Australia Barat menyatakan tidak berencana menambah patroli atau pengamanan.
Departemen Perencanaan, Pertanahan, dan Warisan setempat menegaskan akses ke Wittenoom tetap dilarang. Masyarakat diminta mematuhi rambu-rambu peringatan yang dipasang demi keselamatan.
Polisi Australia Barat juga khawatir konten mengenai Wittenoom di media sosial justru dapat mendorong lebih banyak orang untuk mendatangi kawasan tersebut. Mereka menegaskan Wittenoom bukan destinasi wisata dan risiko kesehatannya signifikan serta bersifat permanen.
"Melakukan hal itu akan membuat individu terpapar risiko kesehatan serius yang terkait dengan kontaminasi asbes," kata mereka.
"Kontaminasi di Wittenoom bersifat permanen, dan risikonya terhadap kesehatan sangat signifikan," ujarnya menambahkan.
Sang blogger, Ronelle Fotinis, mengaku tertarik mengunjungi tempat-tempat yang dianggap tidak biasa. Ia bahkan membandingkan Wittenoom dengan Chernobyl versi Australia.
Fotinis mengklaim telah melakukan sejumlah langkah pencegahan selama berada di sana, seperti tetap berada di dalam mobil, menutup jendela, dan mengatur pendingin udara pada mode sirkulasi ulang.
"Saya tidak pernah keluar dari mobil. Kami tidak menyentuh tanah atau apa pun di sana," katanya.
Namun, ia mengakui seharusnya tidak membawa putrinya ke kawasan tersebut. Fotinis juga mengatakan akses menuju area terlarang relatif mudah dilewati dan terdapat kendaraan lain yang masuk ketika ia berkunjung.
Ia mengaku tidak menyesal telah mendatangi Wittenoom, tetapi memastikan tidak akan kembali ke kawasan tersebut.
(pgr/pgr)