Erick Thohir Ungkap Potensi Jumbo Industri Olahraga RI

Fergi Nadira, CNBC Indonesia
Jumat, 11/09/2026 17:45 WIB
Foto: Menteri Pemuda dan Olahraga Erick Thohir dalam keynote speech bertajuk

Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Erick Thohir menilai olahraga tidak lagi bisa dipandang hanya sebagai sektor yang menghabiskan anggaran. Ia bilang, olahraga harus ditempatkan sebagai investasi yang mampu menciptakan pertumbuhan ekonomi hingga membuka lapangan pekerjaan.

Hal itu disampaikan Erick dalam keynote speech bertajuk "Sports As An Economic Powerhouse" pada Indonesia Sports Summit 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC), Jumat (11/9/2026).

Erick bilang, Indonesia masih memiliki ruang sangat besar untuk mengembangkan industri olahraga dan sport tourism. Ia menyebut nilai industri olahraga global mencapai sekitar Rp8.000 triliun, sedangkan sport tourism mencapai Rp9.700 triliun. Sementara itu, menurut Erick, nilai industri olahraga Indonesia saat ini bahkan belum mencapai Rp40 triliun.


"Sport industry Rp8.000 triliun. Sport tourism Rp9.700 triliun. Kita hari ini hanya tidak sampai Rp40 triliun. Artinya 0,5% dari komparasi global industri," kata Erick.

Erick menilai, angka tersebut menunjukkan potensi ekonomi olahraga Indonesia masih sangat besar. Terlebih, kata ia, sejumlah kegiatan olahraga telah terbukti memberikan dampak ekonomi yang signifikan.

Ia mencontohkan kompetisi sepak bola yang disebut memiliki dampak ekonomi mencapai Rp10,5 triliun. Selain itu, penyelenggaraan ajang balap di Mandalika juga memberikan dampak ekonomi yang dapat dihitung.

"Kalau kita benar-benar serius membangun ini, dan menghitung berapa economic impact masing-masing event, ini ada economic impact-nya," ujarnya.

Erick menekankan, pertumbuhan industri olahraga bukan sekadar soal penyelenggaraan pertandingan atau kompetisi. Sektor tersebut dapat menciptakan nilai ekonomi sekaligus membuka lapangan pekerjaan.

"Kalau ini benar-benar menjadi sebuah value, menjadi pertumbuhan ekonomi dan pembukaan lapangan pekerjaan," katanya.

Ia mengungkapkan telah menerima laporan mengenai sekitar 20 ribu anak muda yang direkrut dalam ekosistem tersebut.

Pangkas 191 Aturan Jadi 4

Untuk mendorong pertumbuhan industri olahraga, Erick mencatat, Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) melakukan penyederhanaan regulasi secara besar-besaran. Ia mendata, sebanyak 191 aturan telah disederhanakan menjadi hanya empat aturan. Sementara sekitar 1.500 pasal dipangkas menjadi 600 pasal.

"Di regulasi 191 aturan hanya menjadi 4. 1.500 pasal menjadi 600 pasal. Tidak lain apa, karena kita harus percaya, kita harus sepakat. Olahraga bukan biaya, tapi ada investasi," kata Erick.

Ia menilai pengembangan industri olahraga tidak dapat dilakukan pemerintah sendirian. Kolaborasi antara pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat menjadi kunci agar olahraga dapat berkembang menjadi kekuatan ekonomi baru.

Kemenpora juga tengah membangun sebuah portal satu pintu yang mengintegrasikan berbagai kebutuhan dalam ekosistem olahraga. Portal tersebut akan memuat informasi terkait investasi, penyelenggaraan acara olahraga hingga akses visa.

Erick bilang, sistem tersebut juga terhubung dengan layanan imigrasi untuk mempermudah pengunjung maupun pelaku industri olahraga mengakses informasi visa.

Dalam paparannya, portal tersebut diperlihatkan memiliki sejumlah fitur, mulai dari informasi jenis olahraga dan kegiatan yang dapat dilakukan, kalender acara, hingga informasi visa seperti durasi tinggal, biaya, persyaratan dan akses langsung untuk mengajukan visa.

Fasilitas Olahraga Jangan Jadi 'Menara Gading'

Erick juga menyoroti banyaknya fasilitas olahraga di berbagai daerah yang belum dimanfaatkan secara maksimal.

Menurutnya, fasilitas olahraga tidak seharusnya hanya digunakan ketika ada pertandingan atau kejuaraan, tetapi perlu dikembangkan agar memiliki manfaat ekonomi.

"Sport complex ini di daerah-daerah banyak. Sayang tidak maksimal. Hanya jadi menara gading," kata Erick.

Ia mencontohkan Indonesia telah memiliki pengalaman panjang menjadi tuan rumah berbagai ajang olahraga internasional, mulai dari Asian Games 2018, Piala Dunia U-17, Para Games hingga MotoGP. Indonesia juga memiliki turnamen seperti Indonesia Open yang telah berlangsung sejak 1982.

Namun, Erick mengingatkan pemerintah tidak akan serta-merta mendukung seluruh penyelenggaraan acara olahraga. Kemenpora akan memilih event yang memiliki penyelenggara bertanggung jawab dan memiliki komitmen jangka panjang.

"Event yang jelas bertanggung jawab pada event-nya. Jangan habis bikin event banyak utang," tegasnya.

"Jangan juga misalnya event ini hanya dibuat sekali. Tapi yang memang sudah invest dan serius membangun event ini ke depan," lanjut Erick.

Olahraga Bukan Sekadar Prestasi

Lebih jauh, Erick mengatakan investasi olahraga tidak hanya menghasilkan keuntungan ekonomi. Olahraga juga berperan dalam pembangunan karakter dan kesehatan masyarakat.

Ia mengingatkan juga bahwa sejak awal kemerdekaan, olahraga telah menjadi instrumen penting dalam pembangunan bangsa. Pekan Olahraga Nasional (PON) pertama, misalnya, digelar hanya beberapa tahun setelah Indonesia merdeka.

Menurut Erick, olahraga sejak awal digunakan sebagai alat pemersatu sekaligus membangun disiplin dan semangat kerja keras masyarakat.

Semangat tersebut kemudian berlanjut ketika Indonesia menjadi tuan rumah Asian Games 1962. Erick menilai ajang itu bukan hanya kompetisi olahraga, tetapi juga bagian dari national branding Indonesia sekaligus mendorong pembangunan fasilitas dan infrastruktur. Dengan begiru, Erick ingin paradigma bahwa olahraga identik dengan biaya mulai diubah.

"Olahraga adalah investasi. Investasi buat karakter bangsa kita," ujar Erick.

Ia juga menikai, investasi tersebut semakin penting karena Indonesia memiliki sekitar 125 juta penduduk berusia 13 hingga 30 tahun.

"Ini harta yang luar biasa. Memang muda, tapi tua juga nanti. Nah, ini investasi," kata Erick


(hsy/hsy)
Saksikan video di bawah ini:

Video: PBSI Bidik 1 Emas di Asian Games 2026