Kalung Berlian Ratu Mesir Senilai Rp71 Miliar Digondol Pencuri

Linda Hasibuan, CNBC Indonesia
Selasa, 01/09/2026 10:15 WIB
Foto: Kepolisian Austria sedang memburu dua pria yang diduga mencuri kalung platinum seberat 200 karat bertabur 673 berlian—yang pernah menjadi milik keluarga kerajaan Mesir dan sedang dipinjamkan ke sebuah museum di Wina. (Instagram/royalcouturier)

Jakarta, CNBC Indonesia - Sebuah kalung platinum bertabur 673 berlian yang pernah menjadi milik keluarga kerajaan Mesir dicuri dalam aksi perampokan di Museum Seni Terapan (MAK), Wina, Austria, pada Kamis siang.

Melansir CNN International, dua pria yang tidak mengenakan penutup wajah diduga memecahkan lemari pajangan kaca menggunakan palu sebelum mengambil kalung yang nilai historis dan materialnya diperkirakan mencapai lebih dari US$4 juta (Rp 71 miliar). Kepolisian Austria kini memburu kedua tersangka.

Kepolisian Austria sedang memburu dua pria yang diduga mencuri kalung platinum seberat 200 karat bertabur 673 berlian—yang pernah menjadi milik keluarga kerajaan Mesir dan sedang dipinjamkan ke sebuah museum di Wina. (Instagram/royalcouturier)

Menurut polisi, kedua pelaku sebelumnya berpura-pura sebagai pengunjung pameran perhiasan di museum. Rekaman kamera pengawas memperlihatkan mereka sebelum memasuki area pameran. Setelah melakukan pencurian, keduanya diduga melarikan diri dengan berjalan kaki menuju sebuah taman di sekitar lokasi.


Polisi menyatakan tidak ada korban luka dalam kejadian tersebut. Namun, salah satu tersangka diduga membawa senjata api.

Operasi pencarian besar-besaran kemudian dikerahkan, termasuk dengan melibatkan unit anjing pelacak. Interpol juga telah memasukkan kalung tersebut ke dalam basis data karya seni curian atas permintaan pihak berwenang Austria.

Dirancang untuk Ratu Nazli

Kalung yang dicuri merupakan barang pinjaman dari rumah perhiasan Prancis, Van Cleef & Arpels. Perhiasan tersebut dirancang pada dekade 1930-an untuk Ratu Nazli dari Mesir dan menjadi bagian dari pameran yang menggabungkan koleksi MAK dengan lebih dari 300 desain karya rumah perhiasan tersebut.

Sejarah kalung tersebut juga tidak terlepas dari pergolakan keluarga kerajaan Mesir. Pada 1950, gelar kerajaan Ratu Nazli dan salah satu putrinya, Fathia, dicabut oleh Raja Farouk I setelah Fathia menikah dengan seorang diplomat Kristen Koptik dari kalangan rakyat biasa.

Nazli kemudian menghabiskan sisa hidupnya di Amerika Serikat. Di tengah utang yang semakin besar, ia menjual sejumlah perhiasan miliknya, termasuk kalung tersebut dan sebuah tiara, pada 1970-an.

Kalung itu kembali muncul di pasar internasional ketika dilelang di Sotheby's pada 2015. Perhiasan tersebut terjual hampir US$ 4,3 juta. Dalam katalog lelang, kalung itu disebut sebagai karya yang "benar-benar luar biasa", sementara susunan berliannya dinilai membuatnya terasa sangat nyaman ketika dikenakan.

Keluarga Kerajaan Berduka

Pencurian tersebut turut memicu kesedihan keluarga keturunan Ratu Nazli. Melalui unggahan di Facebook, cicit sang ratu, Fawzia Farouk, menyampaikan "kesedihan mendalam" atas hilangnya perhiasan tersebut.

Ia menyebut kalung itu sebagai bagian yang tidak tergantikan dari sejarah keluarganya sekaligus warisan budaya Mesir.

Menurut Fawzia, kalung tersebut bukan sekadar benda berharga, melainkan peninggalan yang merepresentasikan sebuah era yang ditandai oleh keanggunan, nilai seni, dan visi artistik.


(hsy/hsy)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Pertamina Eco Runfest 2026 Bawa Inisiatif Ramah Lingkungan


Related Articles