Seperti Einstein, 6 Kebiasaan Ini Konon Dimiliki Orang Ber-IQ Tinggi

Tim Redaksi,  CNBC Indonesia
28 August 2026 08:45
A humanoid robot in the likeness of late physicist Albert Einstein stands behind a price tag, during an organised media tour to Robot Mall, a store selling humanoid and other robots, in Beijing, China August 6, 2025. REUTERS/Florence Lo
Foto: REUTERS/Florence Lo
Daftar Isi

Jakarta, CNBC Indonesia - Kecerdasan seseorang tidak selalu dapat dilihat hanya dari skor IQ. Cara berpikir, kebiasaan sehari-hari, hingga bagaimana seseorang menghadapi berbagai persoalan juga kerap menjadi perhatian para peneliti.

Sejumlah penelitian bahkan menemukan beberapa pola perilaku yang sering dikaitkan dengan orang-orang dengan kemampuan kognitif tinggi. Menariknya, sebagian kebiasaan tersebut mungkin terlihat tidak biasa dalam kehidupan sehari-hari.

Meski demikian, kebiasaan berikut bukanlah indikator pasti seseorang memiliki IQ tinggi. Faktor kepribadian, lingkungan, pola hidup, serta kondisi individu juga turut memengaruhi perilaku seseorang.

Berikut enam kebiasaan yang kerap dikaitkan dengan orang ber-IQ tinggi.

1. Senang Menghabiskan Waktu Sendiri

Orang dengan kemampuan kognitif tinggi disebut cenderung menikmati waktu yang dihabiskan seorang diri. Mereka dapat menggunakan waktu tersebut untuk berpikir, membaca, mengembangkan ide, atau sekadar melakukan refleksi diri.

Penelitian Norman Li dari Singapore Management University dan Satoshi Kanazawa dari London School of Economics and Political Science pernah membahas hubungan antara kecerdasan, interaksi sosial, dan kepuasan hidup.

Temuan tersebut menjadi salah satu dasar munculnya anggapan bahwa individu dengan kecerdasan tinggi dapat lebih nyaman dengan aktivitas yang dilakukan secara mandiri dibandingkan harus terus berada dalam keramaian.

Namun, hal ini tidak berarti setiap orang cerdas merupakan pribadi yang tertutup atau tidak menyukai pergaulan.

2. Cenderung Menyukai Lingkungan yang Tidak Terlalu Rapi

Kebiasaan lain yang cukup menarik adalah kecenderungan bekerja di lingkungan yang tampak berantakan.

Penelitian dari University of Minnesota menunjukkan bahwa lingkungan yang tidak terlalu teratur dapat mendorong seseorang menghasilkan ide yang lebih kreatif dalam kondisi tertentu. Lingkungan yang berantakan terkadang justru membuat seseorang keluar dari pola berpikir konvensional.

Kreativitas sendiri merupakan salah satu aspek yang kerap dikaitkan dengan kemampuan kognitif. Profesor Cornell University Robert J. Sternberg juga menjelaskan kecerdasan sebagai kemampuan untuk belajar dari pengalaman, memahami konsep, serta menggunakan pengetahuan untuk menghadapi lingkungan.

Meski begitu, bukan berarti kamar atau meja kerja yang berantakan menjadi tanda seseorang pasti memiliki IQ tinggi.

3. Sering Mengkritik Diri Sendiri

Orang yang kompeten ternyata tidak selalu memiliki penilaian tinggi terhadap kemampuan dirinya sendiri.

Studi yang dilakukan peneliti Cornell University pada 1999 membahas kecenderungan individu yang kurang kompeten maupun kompeten dalam menilai kemampuan mereka sendiri. Fenomena tersebut kemudian dikenal luas dalam pembahasan mengenai efek Dunning-Kruger.

Dalam konteks tertentu, orang yang memiliki kemampuan tinggi justru dapat lebih menyadari keterbatasan dan kekurangan dirinya. Kesadaran tersebut membuat mereka terus mengevaluasi diri dan tidak cepat merasa paling tahu.

Sikap kritis terhadap diri sendiri pun dapat menjadi dorongan untuk terus belajar dan memperbaiki kemampuan.

4. Senang Menghadapi Tantangan

Individu dengan kemampuan kognitif tinggi juga kerap digambarkan sebagai orang yang tidak mudah puas dengan pencapaian yang telah diraih.

Mereka cenderung mencari tantangan baru untuk menguji kemampuan, mempelajari sesuatu yang belum dikuasai, atau memecahkan persoalan yang lebih kompleks.

Bagi sebagian orang, tantangan justru menjadi kesempatan untuk berkembang. Rasa ingin tahu yang tinggi dapat mendorong seseorang untuk terus mengeksplorasi bidang baru dan mencari cara berbeda dalam menyelesaikan masalah.

5. Sering Tidur Larut Malam

Kebiasaan tidur larut malam juga sering dikaitkan dengan orang-orang yang memiliki kemampuan intelektual tinggi.

Suasana malam yang relatif tenang membuat sebagian orang merasa lebih mudah berkonsentrasi. Waktu tersebut kemudian dimanfaatkan untuk membaca, bekerja, menulis, berpikir, atau mengembangkan berbagai ide.

Namun, kebiasaan begadang tidak dapat dijadikan ukuran kecerdasan. Kurang tidur justru dapat berdampak negatif terhadap konsentrasi, daya ingat, dan kesehatan jika dilakukan secara terus-menerus.

Karena itu, produktivitas seseorang pada malam hari tetap perlu diimbangi dengan waktu tidur yang cukup.

6. Suka Berbicara dengan Diri Sendiri

Berbicara sendiri mungkin terdengar aneh bagi sebagian orang. Namun, kebiasaan tersebut sebenarnya cukup umum dan tidak otomatis menunjukkan adanya gangguan tertentu.

Seseorang dapat berbicara sendiri ketika sedang memikirkan suatu persoalan, mengingat sesuatu, menyusun rencana, atau mencoba memahami sebuah konsep.

Dalam beberapa situasi, mengucapkan pikiran dengan suara keras dapat membantu seseorang mengorganisasi informasi dan mempertahankan fokus. Kebiasaan serupa juga dapat dilakukan dalam bentuk menulis atau membuat catatan untuk membantu proses berpikir.

Karena itu, berbicara sendiri tidak selalu berarti seseorang mengalami masalah. Dalam konteks tertentu, hal tersebut justru dapat menjadi salah satu cara seseorang memproses pikirannya.

(hsy/hsy) [Gambas:Video CNBC]
Next Article 6 Kebiasaan Orang Jenius yang Sering Dianggap Aneh


Most Popular
Features