Waspada! 5 Gangguan Pencernaan ini Bisa Bikin Kentut Bau Menyengat

Lynda Hasibuan, CNBC Indonesia
Senin, 24/08/2026 16:40 WIB
Foto: Ilustrasi kentut. (Dokumentasi Freepik)

Jakarta, CNBC Indonesia - Buang angin merupakan bagian normal dari proses pencernaan. Setiap orang mengalaminya, tetapi frekuensi, suara, dan aroma kentut dapat berbeda-beda. Dalam kondisi normal, gas yang keluar tanpa bau umumnya merupakan bagian dari sistem pencernaan yang bekerja sebagaimana mestinya.

Namun, perubahan yang berlangsung terus-menerus, seperti kentut yang semakin sering, berlebihan, atau berbau sangat menyengat, terutama jika disertai keluhan pencernaan lain, patut mendapat perhatian. Kondisi tersebut dapat berkaitan dengan gangguan pencernaan atau perubahan keseimbangan mikroorganisme di dalam usus.

Dokter Rucha Shah menjelaskan, keluarnya gas sesekali merupakan hal yang wajar. Sebaliknya, gas yang muncul secara kronis atau berlebihan dapat menjadi petunjuk adanya masalah pada saluran pencernaan.


Berikut sejumlah kondisi yang dapat berkaitan dengan produksi gas berlebih melansir Eating Well, Senin (24/8/2026):

1. Gangguan pencernaan
Gangguan pencernaan dapat terjadi ketika tubuh tidak menghasilkan cukup asam lambung, enzim pencernaan, atau cairan empedu yang dibutuhkan untuk memecah makanan dan membantu penyerapan nutrisi.

Ketika makanan tidak dicerna atau diserap secara sempurna, sebagian komponennya dapat mencapai usus besar. Bakteri di dalam usus kemudian memfermentasi sisa makanan tersebut dan menghasilkan gas.

Seorang Ahli Gizi, Sarah Glinski, RD, menjelaskan bahwa gangguan dalam proses pemecahan makanan atau penyerapan nutrisi dapat meningkatkan produksi gas. Kondisi ini juga dapat disertai perut kembung dan rasa tidak nyaman.

Risiko gangguan pencernaan atau penyerapan nutrisi dapat meningkat pada orang dengan kondisi tertentu pada pankreas atau saluran pencernaan, termasuk mereka yang pernah menjalani operasi pengangkatan kantong empedu.

2. Malabsorpsi karbohidrat
Malabsorpsi karbohidrat terjadi ketika tubuh kesulitan menyerap jenis karbohidrat tertentu, seperti laktosa, fruktosa, FODMAP, atau gula lainnya. Ahli Penyakit Dalam Gastroenterologi, Supriya Rao, M.D., DABOM, DABLM, mengatakan karbohidrat yang tidak terserap dapat mencapai usus besar dan difermentasi oleh bakteri.

Proses tersebut menjadi salah satu penyebab utama munculnya gas dan perut kembung. Beberapa pemanis buatan dan alkohol gula juga dapat memicu fermentasi pada sebagian orang.

Jika keluhan dicurigai berkaitan dengan makanan tertentu, mencatat makanan yang dikonsumsi beserta gejala yang muncul dapat membantu menemukan polanya. Dalam kondisi tertentu, evaluasi oleh dokter spesialis gastroenterologi diperlukan untuk mencari kemungkinan penyebab lain, seperti SIBO, penyakit radang usus, sindrom iritasi usus besar (IBS), atau penyakit celiac.

Menariknya, tidak semua orang dengan malabsorpsi karbohidrat mengalami gejala dengan tingkat yang sama. Menurut Shah, orang dengan usus yang lebih sensitif, termasuk sebagian penderita IBS, dapat merasakan kembung dan gas dengan intensitas lebih kuat.

3. Disbiosis
Usus dihuni oleh komunitas mikroorganisme yang berperan dalam pencernaan, produksi nutrisi, serta pemeliharaan kesehatan dinding usus. Ketika keseimbangan mikroorganisme tersebut terganggu, kondisi ini dikenal sebagai disbiosis.

Perubahan komposisi mikroba dapat mengubah proses fermentasi di dalam usus sehingga memengaruhi jumlah dan jenis gas yang dihasilkan. Ahli Gizi, Ashley Oswald, RDN, LD, IFNCP, CLT, menyebut disbiosis dapat menyebabkan produksi gas meningkat, aroma gas menjadi lebih menyengat, perut kembung, serta perubahan pola buang air besar.

Ketidakseimbangan mikroba juga dapat menyebabkan lebih banyak protein yang tidak tercerna diuraikan di usus besar. Proses tersebut dapat menghasilkan senyawa seperti amonia dan hidrogen sulfida yang berkontribusi terhadap aroma gas yang tidak sedap.

Beberapa faktor yang dapat berkontribusi terhadap disbiosis antara lain penggunaan antibiotik, pola makan rendah serat dan kurang beragam, stres kronis, infeksi saluran pencernaan, kurang tidur, obat-obatan tertentu, serta sejumlah penyakit kronis dan gangguan peradangan usus.

4. Pertumbuhan bakteri berlebih di usus halus (SIBO)
Small Intestinal Bacterial Overgrowth atau SIBO merupakan kondisi ketika bakteri tumbuh secara berlebihan di usus halus. Menurut Oswald, gas yang disertai perut kembung kronis, terutama yang muncul sekitar 30 menit hingga tiga jam setelah makan, dapat menjadi salah satu tanda yang perlu dievaluasi.

Pada SIBO, bakteri yang biasanya lebih banyak ditemukan di usus besar berada dalam jumlah berlebihan di usus halus dan memfermentasi karbohidrat sebelum zat tersebut sempat diserap secara optimal. Proses ini menghasilkan berbagai gas, termasuk hidrogen dan metana. Jenis gas yang terbentuk juga dapat memengaruhi aroma. Pada kondisi tertentu yang berkaitan dengan hidrogen sulfida, gas dapat memiliki aroma menyerupai telur busuk.

Meski demikian, gejala SIBO dapat menyerupai berbagai gangguan pencernaan lainnya. Karena itu, sering kentut dan kembung tidak otomatis berarti seseorang mengalami SIBO. Pemeriksaan medis tetap diperlukan untuk mengetahui penyebab sebenarnya.

5. Pertumbuhan berlebih metanogen usus (IMO)
Selain SIBO, ada kondisi yang disebut intestinal methanogen overgrowth atau IMO. Kondisi ini berkaitan dengan pertumbuhan berlebih mikroorganisme penghasil metana, terutama Methanobrevibacter smithii.

Berbeda dengan SIBO yang berkaitan dengan bakteri di usus halus, IMO melibatkan kelompok mikroorganisme yang disebut archaea dan dapat terjadi di sepanjang saluran pencernaan.

Shah menjelaskan bahwa mikroorganisme tersebut menggunakan hidrogen yang dihasilkan mikroba lain untuk membentuk metana. Kondisi ini dikaitkan dengan perlambatan pergerakan usus dan sembelit kronis.

Karena transit usus yang lambat dapat memungkinkan gas menumpuk, seseorang dengan IMO mungkin mengalami kembung yang semakin terasa sepanjang hari.
Dengan demikian, kombinasi gas berlebih dan sembelit kronis dapat menjadi salah satu alasan untuk mengevaluasi kemungkinan IMO, meski diagnosis tetap membutuhkan penilaian tenaga medis.

Kapan harus memeriksakan diri?
Kentut merupakan hal normal, sehingga tidak setiap perubahan gas harus dianggap sebagai tanda penyakit. Namun, perubahan yang menetap atau disertai gejala lain sebaiknya tidak diabaikan.

Para ahli menyarankan berkonsultasi dengan tenaga medis jika gas menjadi jauh lebih sering atau berbau lebih menyengat dari biasanya, terutama jika kondisi tersebut berlangsung terus-menerus.

Beberapa tanda yang perlu mendapat perhatian antara lain:
- Gas berlebihan atau berbau sangat menyengat
Perubahan yang signifikan dan menetap dapat berkaitan dengan gangguan pencernaan atau perubahan mikrobioma usus.
- Perut kembung terus-menerus
Kembung yang tidak membaik meski pola makan telah diubah dapat berkaitan dengan berbagai gangguan saluran pencernaan dan perlu dievaluasi.
- Darah pada tinja
Tinja berwarna merah atau hitam pekat dapat menjadi tanda perdarahan saluran pencernaan dan memerlukan pemeriksaan medis segera.
- Nyeri perut hebat atau semakin memburuk
Keluhan ini tidak sebaiknya dianggap sekadar akibat masuk angin atau gas.
- Penurunan berat badan tanpa disengaja
Kondisi tersebut, terutama jika disertai perubahan kebiasaan buang air besar atau gejala pencernaan lainnya, perlu diperiksa.
- Diare atau sembelit berkepanjangan
Perubahan pola buang air besar yang menetap perlu disampaikan kepada tenaga kesehatan.
- Muntah terus-menerus atau tanpa penyebab yang jelas
Jika disertai keluhan saluran pencernaan lainnya, kondisi ini membutuhkan evaluasi lebih lanjut.

Jangan hanya melihat bau kentut
Perubahan aroma atau frekuensi kentut memang dapat memberikan petunjuk mengenai kondisi pencernaan, tetapi tidak dapat digunakan untuk menentukan diagnosis secara mandiri.

Pola makan, kemampuan tubuh mencerna makanan, komposisi mikrobioma, serta berbagai kondisi saluran pencernaan dapat memengaruhi pembentukan gas. Karena itu, jika keluhan berlangsung terus-menerus atau muncul bersama tanda bahaya, langkah yang paling tepat adalah berkonsultasi dengan tenaga medis untuk mencari penyebabnya.


(miq/miq)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Medical Tourism,Klinik Kecantikan Kelas Dunia Investasi di Bali