3 Jurus Menkes Budi Pulihkan Kesehatan Pascabencana Gempa Bumi di NTT

Fergi Nadira, CNBC Indonesia
Senin, 24/08/2026 14:05 WIB
Foto: Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan tiga langkah utama penanganan kesehatan bagi masyarakat terdampak gempa di Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT). Penanganan dilakukan mulai dari pelayanan medis terhadap korban hingga pemulihan kesehatan mental masyarakat yang mengalami trauma pascabencana.



Budi mengatakan, prioritas pertama Kementerian Kesehatan (Kemenkes) adalah memastikan seluruh pasien terdampak gempa dapat segera diidentifikasi. Selain itu, pasien mendapatkan pelayanan kesehatan sesuai tingkat kegawatannya.

"Yang pertama kita harus memastikan bahwa semua pasien teridentifikasi dan terlayani dengan cepat," kata Budi saat meninjau Puskesmas Lengkosambi, dikutip dari Instagram resminya @bgsadikin Senin (24/8/2026).

Ia bilang, petugas kesehatan harus melakukan triase untuk menentukan penanganan terhadap pasien. Pasien dengan kondisi berat atau masuk kategori merah harus segera dirujuk ke rumah sakit, sedangkan pasien dengan kondisi lebih ringan dapat ditangani di puskesmas.

"Kalau yang triasenya atau golongannya parah, merah, itu harus dirujuk ke rumah sakit. Kita harus pikirkan bagaimana rujuknya. Kalau yang bisa dirawat di puskesmas, kita rawat di puskesmas saja," ujarnya.

Budi menargetkan proses identifikasi dan pelayanan terhadap masyarakat terdampak tersebut dapat diselesaikan dalam tiga hingga lima hari ke depan.

"Tugas itu saya harapkan bisa selesai dalam 3-5 hari ke depan. Sehingga tak ada seorang pun masyarakat NTT yang tidak terlayani masalah kesehatan," kata ia.

Setelah pelayanan terhadap pasien dipastikan berjalan, Kemenkes akan beralih ke langkah kedua, yakni memperbaiki fasilitas kesehatan yang mengalami kerusakan akibat gempa. Mulai pekan depan, terangnya, pemerintah akan mengidentifikasi dan mendata seluruh fasilitas kesehatan yang rusak, termasuk kebutuhan perbaikannya. Budi pun menargetkan proses revitalisasi tersebut dapat diselesaikan dalam waktu delapan hingga 12 bulan.

"Kita harus identifikasi dan kita harus list perbaikannya apa, sehingga dalam waktu 8-12 bulan bisa selesai. Semua fasilitas kesehatan ini bisa penuh melayani masyarakat kembali," jelasnya.

Tak hanya menangani luka fisik dan kerusakan fasilitas kesehatan, Budi menekankan pentingnya pemulihan kesehatan mental masyarakat setelah mengalami bencana. Ia bilang, rehabilitasi kejiwaan menjadi salah satu aspek penanganan bencana yang selama ini belum banyak dilakukan di puskesmas di Indonesia.

Padahal, kata ia, bencana dapat meninggalkan trauma yang membuat masyarakat terus merasa takut terhadap kemungkinan terjadinya gempa susulan.

"Banyak penduduk yang merasa takut. Ada goyang sedikit saja, pohon ditiup angin jadi takut karena mereka trauma, 'wah jangan-jangan nanti ada gempa lagi'," ungkap Budi.

Untuk itu, Kemenkes berencana bekerja sama dengan kolegium serta organisasi profesi di bidang kesehatan jiwa untuk mendatangkan konselor ke wilayah terdampak.

"Kita harus bekerja sama dengan kolegium penyakit jiwa dan juga dengan organisasi profesi yang menangani penyakit jiwa agar bisa segera mendatangkan konselor-konselornya untuk memperbaiki kesehatan mental atau jiwa masyarakat NTT," katanya.



(miq/miq)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Medical Tourism,Klinik Kecantikan Kelas Dunia Investasi di Bali