Studi Ungkap Hidup Lebih Lama Belum Tentu Lebih Sehat, Ini Alasannya

Lynda Hasibuan, CNBC Indonesia
Senin, 24/08/2026 15:30 WIB
Foto: Ilustrasi penduduk lanjut usia (lansia). (Dokumentasi Reuters)

Jakarta, CNBC Indonesia - Manusia kini hidup lebih lama dibandingkan generasi sebelumnya. Namun, peningkatan usia harapan hidup tersebut ternyata tidak selalu diikuti dengan bertambahnya tahun-tahun kehidupan yang dijalani dalam kondisi sehat.

Sebuah studi global terbaru yang diterbitkan dalam The Lancet Public Health menunjukkan bahwa di hampir seluruh 204 negara dan wilayah yang dianalisis, peningkatan angka harapan hidup melampaui peningkatan angka harapan hidup sehat (healthy life expectancy).


Mengutip Euro News, Senin (24/8/2026), temuan tersebut mengindikasikan bahwa semakin banyak orang yang mencapai usia lanjut, tetapi juga menghabiskan proporsi hidup yang lebih besar dengan penyakit, gangguan kesehatan, atau disabilitas yang tidak secara langsung menyebabkan kematian. Secara global, pada tahun 2023, rata-rata manusia menghabiskan sekitar 14,5 persen dari masa hidupnya dalam kondisi kesehatan yang buruk.

Angka harapan hidup dunia sendiri telah meningkat secara drastis selama satu abad terakhir dan mencapai sekitar 73,8 tahun. Kemajuan tersebut didorong oleh penurunan penyakit menular, berkurangnya angka kematian ibu dan anak, serta kemajuan dalam pencegahan dan pengobatan berbagai penyakit kronis.

Namun, para peneliti menilai keberhasilan memperpanjang usia perlu diikuti perubahan cara pandang dalam pembangunan kesehatan. Fokus tidak lagi cukup hanya pada lifespan atau lamanya seseorang hidup, tetapi juga harus mencakup healthspan, yakni berapa lama seseorang dapat hidup dalam kondisi sehat dan mampu menjalankan fungsi kehidupannya.

Negara Kaya Justru Menghadapi Kesenjangan Morbiditas Lebih Besar
Studi tersebut menemukan bahwa negara-negara dengan angka harapan hidup tertinggi juga cenderung memiliki jumlah tahun hidup yang lebih panjang dalam kondisi kesehatan buruk. Pada tahun 2023, penduduk negara-negara berpenghasilan tinggi menghabiskan rata-rata 15,7 persen masa hidup mereka dalam kondisi kesehatan yang buruk.

Belanda mencatat salah satu peningkatan absolut terbesar. Proporsi masa hidup yang dijalani dalam kondisi kesehatan buruk meningkat dari 13,2 persen pada 1990 menjadi 15,7 persen pada 2023.

Sementara itu, kesenjangan morbiditas terbesar ditemukan di Amerika Serikat, Australia, dan Kanada. Sebaliknya, penduduk Nauru, Kepulauan Solomon, dan Laos mengalami kesenjangan morbiditas yang relatif lebih kecil, dengan jumlah tahun yang dihabiskan dalam kondisi kesehatan buruk lebih sedikit.

Di kawasan Afrika Sub-Sahara, kesenjangan morbiditas tercatat sekitar sembilan tahun, menjadi salah satu yang terkecil secara global. Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa usia panjang tidak selalu identik dengan kualitas hidup yang lebih baik.

Di sejumlah negara, kemajuan medis dan sosial berhasil membuat masyarakat hidup lebih lama, tetapi belum sepenuhnya mampu mencegah periode panjang kehidupan yang disertai gangguan kesehatan dan disabilitas.

Penyakit Nonfatal Jadi Penyumbang Terbesar
Para peneliti menemukan bahwa kondisi kesehatan nonfatal menyumbang 57,4 persen kesenjangan morbiditas global. Kondisi tersebut tidak selalu menyebabkan kematian, tetapi dapat membuat seseorang hidup lebih lama dengan keterbatasan fungsi atau penurunan kualitas kesehatan.

Beberapa penyebab utama meliputi gangguan muskuloskeletal, seperti nyeri punggung bawah, gangguan kesehatan jiwa, penyakit pada organ indra seperti gangguan pendengaran akibat proses penuaan, serta berbagai cedera yang tidak disengaja.

Di negara-negara berpenghasilan rendah, persoalannya lebih kompleks. Kekurangan gizi, infeksi saluran pernapasan, tuberkulosis, serta penyakit tropis terabaikan turut menjadi penyumbang penting terhadap kesenjangan kesehatan.

Studi juga mengidentifikasi sejumlah faktor risiko yang berperan, antara lain indeks massa tubuh tinggi, kekurangan gizi pada anak dan ibu, penggunaan tembakau, kadar glukosa plasma puasa yang tinggi, serta polusi udara.

Penggunaan narkoba dan konsumsi alkohol dalam jumlah tinggi masuk dalam sepuluh faktor risiko utama khususnya di kawasan berpenghasilan sangat tinggi. Sementara itu, hubungan seksual yang tidak aman menjadi salah satu faktor risiko utama di kawasan Afrika Sub-Sahara.

Tantangan Besar bagi Sistem Kesehatan
Temuan tersebut memunculkan pertanyaan mengenai keberlanjutan layanan sosial dan kesehatan di tengah populasi yang semakin menua. Jika masyarakat hidup lebih lama tetapi juga menjalani lebih banyak tahun dengan penyakit kronis atau disabilitas, kebutuhan terhadap layanan kesehatan, rehabilitasi, kesehatan jiwa, teknologi bantu, serta perawatan jangka panjang akan semakin besar.

Penulis utama studi, Christopher Murray, yang merupakan direktur Institute for Health Metrics and Evaluation (IHME) di Fakultas Kedokteran Universitas Washington, mengatakan peningkatan kesehatan populasi di masa depan tidak cukup dicapai dengan membuat manusia hidup lebih lama. Menurutnya, masyarakat juga perlu dibantu agar dapat menjalani tahun-tahun tambahan tersebut dalam kondisi yang lebih sehat.

"Peningkatan kesehatan populasi di masa depan tidak hanya akan dicapai dengan membantu orang hidup lebih lama, tetapi juga dengan membantu mereka hidup lebih sehat," ujar Murray.

Ia menekankan bahwa keberhasilan healthy ageing seharusnya tidak hanya diukur berdasarkan lifespan, tetapi juga healthspan. Karena itu, investasi perlu diperbesar pada pencegahan penyakit, pengelolaan penyakit jangka panjang, serta perawatan penyakit kronis.

Investasi pada Penuaan Sehat Dinilai Lebih PentingCatherine Bisignano, salah satu penulis studi, mengatakan peningkatan kualitas penuaan sehat membutuhkan perhatian lebih besar terhadap berbagai kondisi dan faktor risiko yang menyebabkan hilangnya tahun-tahun kehidupan akibat disabilitas.

"Menangani hal-hal ini sejak dini melalui upaya pencegahan dan perawatan jangka panjang yang lebih baik dapat memberikan dampak signifikan secara sosial, ekonomi, maupun terhadap sistem kesehatan," katanya.

Para peneliti juga menilai bahwa pemodelan ekonomi menunjukkan investasi untuk meningkatkan kesehatan selama proses penuaan berpotensi memberikan keuntungan finansial yang lebih besar dibandingkan sekadar memperpanjang usia melalui eliminasi penyakit tertentu.

Karena itu, studi tersebut menyerukan investasi berkelanjutan dalam pencegahan penyakit, rehabilitasi, layanan kesehatan jiwa, pengelolaan penyakit kronis, teknologi bantu, serta model perawatan jangka panjang yang terintegrasi.

Pesan utama penelitian ini sederhana, yakni keberhasilan manusia bukan hanya diukur dari seberapa lama seseorang hidup, tetapi juga dari seberapa lama ia dapat hidup sehat dan tetap berfungsi secara mandiri. Dengan populasi dunia yang terus menua, tantangan kesehatan pada masa depan bukan lagi sekadar menambah usia harapan hidup, melainkan memastikan tahun-tahun tambahan tersebut menjadi tahun-tahun yang berkualitas.


(miq/miq)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Medical Tourism,Klinik Kecantikan Kelas Dunia Investasi di Bali