Desa Adat Sade Lombok NTB Terbakar, Keris-Naskah Bersejarah Musnah

MFakhriansyah,  CNBC Indonesia
24 August 2026 10:50
Kondisi desa adat Sade Lombok pasca kebakaran, Senin (24/8/2026). (Dok. Kementerian Kebudayaan)
Foto: Kondisi terkini Desa Adat Sade, Lombok, Nusa Tenggara Barat, Senin (24/8/2026). (Dokumentasi Kementerian Kebudayaan)

Jakarta, CNBC Indonesia - Kebakaran besar melanda Desa Adat Sade, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), pada Sabtu (22/8/26) malam. Kobaran api menghanguskan puluhan rumah adat hingga berbagai benda pusaka dan warisan budaya masyarakat Sasak.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Kementerian Kebudayaan, kebakaran terjadi sekitar pukul 22.05 WITA. Api diduga kuat berasal dari hubungan arus pendek listrik atau korsleting. Kondisi jaringan kabel yang saling berdempetan diduga menjadi pemicu kebakaran.

Api kemudian cepat menyebar karena jarak antarbangunan di kawasan permukiman yang saling berhimpitan. Material atap berupa jerami atau alang-alang yang mudah terbakar juga membuat kobaran api sulit dikendalikan dan meluas ke area Desa Adat Sade.

Akibatnya, terjadi kerusakan masif terhadap ekosistem kebudayaan fisik dan non-fisik Desa Adat Sade. Kementerian Kebudayaan mencatat terdapat 167 unit aset bangunan yang terdampak.

Sebanyak 75 rumah adat dan 69 artshop atau toko kerajinan hangus terbakar. Selain itu, delapan Lumbung Alang turut hangus. Kebakaran juga berdampak pada 12 rumah panggung tradisional khas Suku Sasak. 

Namun, kerusakan akibat kebakaran tidak hanya menyasar bangunan. Berbagai benda pusaka dan warisan budaya masyarakat Sasak yang memiliki nilai spiritual serta historis tinggi juga ikut hangus.

"Di antaranya adalah berbagai jenis keris, tombak, klewang (setiap keluarga rata-rata kehilangan 3-4 bilah keris yang tidak sempat diselamatkan), 10 set peralatan seni Peresean, 8 unit Gendang Beleq (4 unit berhasil diselamatkan), serta kemusnahan Gong Tua ritual dan naskah-naskah kuno berbahasa Sanskerta," tulis Kementerian Kebudayaan. 

Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengatakan pemerintah kini memprioritaskan penyelamatan dan identifikasi benda-benda warisan budaya yang masih tersisa di lokasi kebakaran.

"Prioritas utama dalam fase tanggap darurat ini adalah mengamankan dan mengidentifikasi seluruh objek material yang tersisa, baik penyelamatan fisik maupun non-fisik. Penyelamatan fisik dengan menyisir sisa-sisa reruntuhan demi menyelamatkan sisa kain tenun (wastra), benda pusaka (keris/tombak), dan fragmen manuskrip kuno yang hangus dan penyelamatan non-fisik, yaitu mendokumentasikan ingatan, cerita rakyat, sejarah lokal, dan pengetahuan tradisional langsung dari para tetua adat agar memori kolektif masyarakat Sade," ungkap Fadli Zon.

Upaya penyelamatan tersebut dilakukan karena warisan budaya Desa Adat Sade tidak hanya berupa bangunan, tetapi juga benda dan pengetahuan yang diwariskan masyarakat Sasak secara turun-temurun. 

Desa Adat Sade telah diakui sebagai desa wisata sejak tahun 1982. Pada tahun 1993, desa tersebut mendapatkan pengakuan Kementerian Pariwisata sebagai bagian penting dari Kawasan Strategis Pariwisata Nasional. Nantinya, pemerintah pusat dan daerah akan melakukan sejumlah langkah pemulihan. Mulai dari penyelamatan objek budaya, investarisasi, digitalisasi manuskrip hingga peningkatan kesiapsiagaan bencana. 

(mfa/mfa) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Daftar 10 Masjid 'Raksasa' di Dunia, Ada Istiqlal Indonesia


Most Popular
Features