Viral Ayah-Anak Tidur di Liang Lahat Demi Ajarkan Soal Kematian
Jakarta, CNBC Indonesia - Kisah seorang ayah di China yang pernah menggali kuburan untuk putrinya sendiri kembali menjadi perhatian publik. Bukan karena sang anak meninggal dunia, melainkan demi mengajarkan soal kematian kepada sang buah hati yang mengidap penyakit serius sejak lahir.Â
Kisah itu datang dari keluarga Zhang di Neijiang, Provinsi Sichuan, China. Putri mereka, Zhang Xinlei, lahir dengan thalassemia berat, kelainan darah yang membuatnya harus menjalani transfusi darah seumur hidup dan berisiko mengalami gangguan perkembangan hingga komplikasi jantung.
Melansir South China Morning Post (SCMP), Rabu (19/8/2026) penyakit tersebut membuat masa kecil Xinlei jauh berbeda dari anak-anak seusianya. Ia lebih banyak menghabiskan waktu sendirian, bermain bersama anjing peliharaannya atau di tumpukan pasir milik tetangga.
Transplantasi sel punca dapat menjadi pengobatan yang berpotensi menyembuhkan kondisi tersebut. Namun, menemukan donor dengan kecocokan yang sesuai menjadi tantangan besar bagi banyak pasien.
Awal Mula Gali Liang Lahat
Ketika Xinlei baru berusia dua tahun, keluarganya menghadapi dua persoalan sekaligus, yakni sulitnya menemukan donor yang cocok dan tingginya biaya pengobatan. Ayah Xinlei, Zhang Liyong, saat itu hanya memperoleh penghasilan sekitar 2.500 yuan atau sekitar Rp6 juta per bulan dengan bekerja di sebuah pabrik kaca.
Sementara itu, biaya pengobatan Xinlei selama dua tahun telah menembus lebih dari 140.000 yuan atau sekitar Rp370 juta. Tabungan keluarga pun terkuras, meskipun warga desa turut memberikan sumbangan untuk membantu mereka.
Di tengah situasi yang terasa semakin tanpa harapan, Zhang mengambil keputusan yang kemudian memicu kontroversi. Pada Juni 2017, ia menggali sebuah kuburan di tanah milik keluarganya. Zhang kemudian kerap berbaring dan bermain bersama Xinlei di dalam lubang tersebut.
Ia menyebut tempat itu sebagai "tempat peristirahatan terakhir" putrinya. Zhang berharap dengan membuat Xinlei terbiasa berada di dalam kuburan, putrinya tidak lagi merasa takut menghadapi kematian jika suatu hari penyakit tersebut merenggut nyawanya.
Sementara itu, istrinya memasang sebuah papan di dekat lokasi tersebut yang berisi permohonan bantuan kepada masyarakat. Tindakan Zhang sontak memicu beragam reaksi dari publik China. Sebagian orang bersimpati terhadap kondisi keluarga tersebut dan mendesak pemerintah turun tangan membantu pengobatan Xinlei.
Namun, tidak sedikit pula yang mengkritik Zhang. Ia dituding melanggar tabu budaya hingga dianggap mengeksploitasi penderitaan putrinya demi mendapatkan perhatian.
"Saya tidak akan pernah sanggup membaringkan anak saya di dalam kuburan. Itu adalah mimpi buruk terbesar setiap orang tua," kata salah seorang warganet, dikutip SCMP.
Sorotan luas terhadap kisah keluarga tersebut pada akhirnya justru membawa perubahan besar. Penggalangan dana publik berhasil mengumpulkan uang untuk pengobatan Xinlei, sementara pemerintah setempat menanggung sebagian besar biaya medisnya.
Titik terang lainnya datang pada Agustus 2017 ketika adik perempuan Xinlei lahir. Darah tali pusar sang adik kemudian disimpan untuk digunakan dalam pengobatan Xinlei.
Xinlei selanjutnya menjalani transplantasi sel punca darah tali pusar selama delapan jam. Prosedur tersebut dipandang sebagai satu-satunya terapi yang berpotensi menyembuhkan penyakit yang dideritanya.
Xinlei Sembuh, Tak Perlu Transfusi Rutin
Setelah menjalani masa pemulihan yang panjang, hasil pemeriksaan darah Xinlei dilaporkan kembali normal. Ia bahkan tidak lagi membutuhkan transfusi darah setiap bulan seperti sebelumnya. Xinlei hanya perlu menjalani rehabilitasi secara rutin, dengan biaya yang kemudian ditanggung seorang pengusaha lokal, menurut laporan Marriage and Family Magazine.
Foto-foto terbaru yang beredar di media sosial memperlihatkan kehidupan Xinlei setelah melewati masa sulit tersebut. Ibunya mengatakan pemeriksaan medis telah memastikan kondisi kesehatan putrinya dalam keadaan baik.
Kini Xinlei telah duduk di bangku sekolah dasar. Ia tumbuh menjadi anak yang ceria, menyukai kegiatan menggambar dan menari, serta disebut memiliki prestasi akademik yang baik.
Perubahan paling simbolis terjadi pada lubang kuburan yang dahulu digali sang ayah. Orang tua Xinlei kini mengubah tempat yang semula disiapkan sebagai lokasi peristirahatan terakhir putrinya itu menjadi taman bunga matahari.
Sang ibu menyebutnya sebagai "taman ajaib Xinlei" dan percaya taman tersebut akan membawa keberuntungan bagi keluarganya.
Kabar terbaru mengenai Xinlei pun kembali menarik perhatian warganet China.
"Gadis ini sudah pernah berada di dalam kuburan, jadi babak itu sudah berlalu. Semoga kehidupan Xinlei kecil berjalan lancar mulai sekarang," tulis seorang warganet.
Warganet lainnya mengatakan, "Ini adalah kabar terbaik yang saya lihat sepanjang tahun. Inilah seharusnya arti dari kegiatan amal dan dukungan sosial."
Hampir 300.000 Orang China Alami Thalassemia
Kasus Xinlei sekaligus kembali menyoroti tingginya jumlah penderita thalassemia di China.
Menurut laporan resmi pada 2020, terdapat hampir 300.000 orang dengan thalassemia tingkat sedang hingga berat di negara tersebut.
Sejak 2015, pemerintah China telah menjalankan sejumlah program pencegahan di provinsi-provinsi berisiko tinggi di wilayah selatan. Program tersebut antara lain mencakup skrining prenatal dan subsidi biaya pengobatan.
China bagian selatan diketahui menjadi wilayah dengan risiko thalassemia yang relatif tinggi. Kondisi tersebut terutama dikaitkan dengan tekanan evolusioner historis akibat malaria, serta sejumlah faktor geografis, iklim, dan demografi.