Lagi Tren Banyak Pasangan Jalani 'Food Divorce', Apa Maksudnya?
Jakarta, CNBC Indonesia - Tidak semua perbedaan dalam hubungan harus berujung konflik besar. Bahkan untuk urusan makan malam, sejumlah pasangan kini memilih jalan yang terdengar cukup ekstrem, yakni "food divorce".
Meski mengandung kata "divorce" atau perceraian, istilah ini sama sekali tidak berarti pasangan benar-benar berpisah. Food divorce merujuk pada keputusan pasangan yang tinggal bersama untuk tidak selalu makan atau menyiapkan makanan yang sama karena perbedaan selera kerap menjadi sumber perdebatan.
Melansir Times of India, istilah food divorce disebut pertama kali diperkenalkan oleh media Inggris, Metro. Konsepnya sederhana, jika makan bersama atau menentukan menu yang sama terus-menerus memicu pertengkaran, pasangan tidak perlu memaksakan diri.
Alih-alih memperdebatkan apa yang akan dimakan, kapan waktu makan, hingga siapa yang harus mengikuti pilihan makanan pasangannya, masing-masing bisa menyiapkan atau membeli makanan sendiri.
Apa Itu Food Divorce?
Food divorce bukan tanda sebuah hubungan akan berakhir. Justru, konsep ini berangkat dari pemikiran bahwa makanan tidak harus menjadi salah satu hal yang selalu disepakati oleh pasangan.
Sebagai contoh, satu orang mungkin menginginkan makanan sehat yang dimasak di rumah, sedangkan pasangannya lebih memilih memesan makanan dari luar. Perbedaan juga bisa muncul dari waktu makan.
Seseorang mungkin terbiasa makan lebih awal, sementara pasangannya baru merasa lapar beberapa jam kemudian. Belum lagi jika salah satu menjalani pola makan tertentu, memiliki alergi, menjadi vegetarian, atau keduanya memang mempunyai selera makanan yang sangat berbeda.
Daripada setiap waktu makan berubah menjadi proses negosiasi, pasangan yang menjalani food divorce memilih mengurus makanan masing-masing. Mereka tetap tinggal bersama dan menjalani hubungan seperti biasa.
Hanya saja, makan malam tidak lagi menjadi aktivitas yang wajib dilakukan bersama atau dengan menu yang sama. Bagi sebagian pasangan, sedikit "pemisahan" dalam urusan makanan justru dinilai bisa membuat kehidupan di rumah menjadi lebih tenang.
Ketika Makan Malam Jadi Sumber Pertengkaran
Makanan mungkin terlihat sebagai persoalan sepele dibandingkan berbagai masalah lain dalam hubungan. Namun, perbedaan kecil yang terjadi berulang kali setiap hari bisa menjadi sumber frustrasi.
Percakapan sederhana seperti "mau makan apa?" bisa berlangsung panjang ketika masing-masing tidak memiliki jawaban atau justru mempunyai keinginan berbeda. Situasinya menjadi semakin rumit jika salah satu vegetarian sementara yang lain tidak, satu orang ingin memasak sementara lainnya ingin membeli makanan, atau keduanya mempunyai definisi berbeda mengenai menu makan malam yang ideal.
Dalam jangka panjang, aktivitas makan yang seharusnya sederhana bisa berubah menjadi rutinitas yang terus membutuhkan kompromi. Di sinilah konsep food divorce muncul. Daripada menghabiskan energi untuk mencapai kesepakatan setiap malam, masing-masing orang cukup menentukan makanannya sendiri.
Bukan Berarti Tak Pernah Makan Bersama
Menjalani food divorce juga bukan berarti pasangan harus berhenti makan bersama sepenuhnya. Mereka tetap dapat memasak dan makan bersama ketika menginginkannya.
Pasangan juga bisa sarapan bersama pada akhir pekan, pergi makan malam, atau menikmati makanan bersama dalam acara khusus. Perbedaannya, makan bersama tidak lagi dianggap sebagai sebuah kewajiban.
Jika satu orang ingin makan mi sementara pasangannya menginginkan sandwich, tidak ada yang harus mengalah. Keduanya bisa menikmati pilihan masing-masing dan melanjutkan aktivitas mereka.
Konsep tersebut juga menekankan bahwa tidak setiap aktivitas harus dilakukan bersama hanya karena dua orang tinggal dalam satu rumah.
Mengapa Food Divorce Bisa Membantu Hubungan?
Urusan makanan sebenarnya melibatkan cukup banyak pengambilan keputusan. Seseorang harus menentukan menu, membeli bahan, memasak, hingga menyesuaikan makanan dengan preferensi pasangannya.
Jika pasangan terus berbeda pendapat mengenai makanan, rutinitas tersebut dapat menjadi sumber kejengkelan. Food divorce menghilangkan sebagian tekanan itu.
Tidak perlu membujuk pasangan untuk makan pasta, memperdebatkan apakah memesan makanan terlalu mahal, atau kecewa karena menu yang diinginkan berbeda dengan pilihan pasangan.
Masing-masing cukup memilih makanan yang sesuai dengan keinginan dan kebutuhannya. Meski demikian, tetap ada batas yang perlu diperhatikan.
Jika makan secara terpisah berubah menjadi cara untuk menghindari seluruh waktu bersama pasangan, hal tersebut bisa mengindikasikan adanya persoalan yang lebih besar dalam hubungan. Namun, memilih menu berbeda hanya karena memiliki selera yang berlainan tidak serta-merta menjadi tanda bahwa hubungan sedang bermasalah.
Apakah Makan Terpisah Buruk bagi Pasangan?
Jawabannya, belum tentu. Tidak ada aturan bahwa pasangan harus melakukan segala sesuatu bersama. Sebagian pasangan memiliki waktu tidur berbeda, hobi masing-masing, atau menghabiskan malam dengan aktivitas yang berlainan.
Hal yang sama dapat berlaku untuk makanan. Bagi sebagian orang, makan bersama menjadi bagian penting dalam hubungan. Namun bagi pasangan lain, kebiasaan tersebut mungkin tidak terlalu penting.
Pada akhirnya, gagasan utama di balik food divorce bukan sekadar mengenai makanan, melainkan bagaimana pasangan memilih persoalan mana yang memang perlu dikompromikan.
Jika dua orang bisa hidup bahagia dalam satu rumah dan menghindari pertengkaran yang tidak perlu hanya dengan memilih menu makan malam masing-masing, food divorce bisa menjadi solusi praktis.
Sebab, ada banyak keputusan besar yang memang perlu disepakati dalam sebuah hubungan. Menu makan malam setiap hari mungkin tidak harus menjadi salah satunya.
(hsy/hsy)