Sudah Minum Obat & Istirahat Cukup, Tapi Kenapa Belum Pulih?
Jakarta, CNBC Indonesia - Dalam kesehatan ada kondisi yang membuat banyak orang frustrasi. Ini terjadi ketika seseorang sudah minum obat sesuai resep, istirahat cukup, dan makan bergizi, tetapi tubuh tetap terasa belum kembali seperti semula.
Kondisi seperti ini bukan berarti pengobatan gagal. Seringkali, tubuh hanya membutuhkan sesuatu yang lebih mendasar dari sekedar obat: oksigen yang cukup, di tempat yang tepat, dalam konsentrasi yang jauh lebih tinggi dari udara biasa.
Di sinilah Hyperbaric Oxygen Therapy (HBOT) masuk sebagai pilihan terapi yang semakin banyak dipilih.
Apa Itu Hyperbaric Oxygen Therapy?
HBOT adalah terapi medis di mana pasien menghirup oksigen murni di dalam ruangan bertekanan tinggi dan jauh di atas tekanan atmosfer normal. Sesi berlangsung selama 60-90 menit di dalam hyperbaric chamber khusus untuk satu orang, sehingga memberikan pengalaman yang tenang, pribadi, dan terkontrol.
Pada tekanan tinggi, jumlah oksigen yang terlarut dalam plasma darah meningkat secara signifikan. Berbeda dengan kondisi normal yang sebagian besar oksigen diangkut oleh hemoglobin dalam sel darah merah, oksigen terlarut ini dapat berdifusi lebih jauh ke berbagai jaringan tubuh. Menurut dr. Ravenska Theodora, inilah yang membuat HBOT berbeda secara fundamental dari terapi oksigen biasa.
"Dengan tekanan yang lebih tinggi, oksigen bisa menjangkau area jaringan yang mengalami hipoksia (kekurangan oksigen) yang seringkali menjadi alasan utama mengapa proses penyembuhan berjalan lebih lambat dari yang diharapkan," jelas dr. Ravenska dikutip dari keterangannya, Jumat (13/8/2026).
Mengapa Oksigen Penting untuk Pemulihan?
Tubuh manusia adalah mesin yang sangat bergantung pada oksigen untuk hampir setiap proses regenerasinya. Sel-sel yang rusak butuh oksigen untuk memperbaiki diri.
Jaringan yang meradang butuh oksigen untuk meredakan respons inflamasinya. Pembuluh darah baru yang terbentuk selama penyembuhan, proses yang disebut angiogenesis, juga sangat bergantung pada ketersediaan oksigen yang memadai.
Ketika suplai oksigen ke jaringan yang sedang dalam proses pemulihan tidak mencukupi, seluruh rangkaian proses itu melambat. Tubuh tetap bekerja, tetapi tidak dengan kapasitas penuhnya.
Dia menjelaskan kekurangan oksigen di tingkat jaringan sering kali luput dari perhatian. "Banyak pasien yang datang dengan keluhan pemulihan yang lambat baik setelah prosedur medis, cedera, maupun sakit tanpa menyadari bahwa jaringan mereka sebenarnya sedang kekurangan oksigen di level seluler. HBOT membantu mengatasi hambatan itu," ujar dia.
Siapa yang Relevan dengan Terapi Ini?
HBOT bukan terapi yang eksklusif untuk satu kondisi tertentu. Justru karena mekanismenya bekerja di level yang sangat fundamental dengan memperkaya oksigenasi jaringan tubuh secara menyeluruh, relevansinya mencakup berbagai kondisi dan kebutuhan.
Bagi mereka yang sedang dalam masa pemulihan pasca sakit atau pasca prosedur medis dan merasa proses penyembuhannya berjalan lebih lambat dari yang diharapkan, HBOT dapat menjadi terapi pendukung yang membantu mempercepat regenerasi jaringan dari dalam.
Bagi mereka yang mengalami kelelahan kronis, brain fog, atau penurunan stamina yang tidak memiliki penjelasan medis yang jelas, peningkatan oksigenasi ke otak dan sistem saraf yang ditawarkan HBOT dapat membantu kualitas fungsi kognitif dan energi harian.
Bagi mereka yang aktif secara fisik dan ingin memaksimalkan recovery pasca latihan atau kompetisi, HBOT dapat menjadi bagian dari protokol pemulihan atlet profesional dan kini tersedia dengan standar yang sama di Seraphim Medical Center.
dr. Ravenska menegaskan bahwa sebelum memutuskan menjalani HBOT, evaluasi medis tetap menjadi langkah yang tidak bisa dilewati.
"Terapi ini memiliki indikasi dan kontraindikasi yang harus dinilai secara individual. Hasilnya bisa sangat signifikan ketika diberikan kepada pasien yang tepat, dengan panduan klinis yang benar," tegas dr. Ravenska.
Pada akhirnya, HBOT bukan hanya tentang mempercepat pemulihan dari kondisi yang sudah ada. Ini tentang memahami bahwa tubuh yang bekerja optimal adalah tubuh yang mendapat suplai oksigen yang optimal, dan bahwa standar "cukup" tidak selalu sama dengan standar "terbaik."
"Bagi kamu yang selama ini sudah melakukan semua hal yang benar tapi merasa tubuh belum benar-benar pulih, mungkin yang dibutuhkan bukan lebih banyak obat atau lebih banyak istirahat,melainkan pendekatan yang lebih dalam, yang bekerja langsung di level jaringan dan sel," ungkap dr. Ravenska.
(rah/rah)