Populasi Orang Utan Sumatra Anjlok Drastis, Pakar Ungkap Penyebabnya
Jakarta, CNBC Indonesia - Populasi orang utan sumatra (Pongo abelii) mengalami penurunan signifikan dalam satu dekade terakhir. Hasil survei terbaru menunjukkan jumlahnya menyusut hampir 20% dalam kurun 12 tahun, membuat keberadaan satwa endemik Indonesia tersebut semakin mengkhawatirkan.
Peneliti IPB University dari Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata, Fakultas Kehutanan dan Lingkungan, Dede Aulia Rahman, mengatakan, kondisi tersebut perlu diperlakukan sebagai keadaan darurat konservasi. Ia mencatat, berdasarkan hasil survei periode 2021-2023, populasi orang utan sumatra diperkirakan tersisa sekitar 11.694 individu dan jumlah itu menurun dibandingkan sekitar 13.846 individu pada 2011.
Dengan metode dan wilayah pengamatan yang sebanding, populasi orang utan sumatra tercatat menyusut sekitar 19,5% dalam kurun 12 tahun atau rata-rata 1,8% setiap tahun. Pusat populasi terbesar masih berada di Kawasan Ekosistem Leuser (KEL).
Kawasan tersebut menopang sekitar 84% populasi orang utan sumatra sehingga keberlangsungan KEL menjadi salah satu faktor penting bagi masa depan spesies tersebut. Kondisi yang lebih mengkhawatirkan terjadi pada orang utan tapanuli (Pongo tapanuliensis) yang populasinya diperkirakan hanya tersisa sekitar 716 individu yang tersebar dalam tiga metapopulasi di Ekosistem Batang Toru.
"Angka ini sangat serius karena orang utan bukan satwa yang mampu memulihkan populasinya dengan cepat," kata Dede dikutip dari keterangan IPB University.
Hutan SeluasĀ 94 Ribu Hektare Hilang
Dede mengatakan, kehilangan habitat masih menjadi salah satu ancaman utama bagi kelangsungan hidup orang utan. Penelitian menunjukkan sekitar 76% variasi perubahan populasi antar-metapopulasi dipengaruhi oleh hilangnya hutan.
Sepanjang 2011 hingga 2023, sekitar 94.399 hektare hutan di wilayah sebaran orang utan tercatat hilang. Hilangnya kawasan hutan tersebut dipicu sejumlah faktor, mulai dari ekspansi perkebunan, pembangunan infrastruktur, pertambangan hingga perambahan ilegal.
Namun, Dede menekankan penyusutan habitat bukan satu-satunya penyebab populasi orang utan terus tertekan. Pembunuhan akibat konflik antara manusia dan orang utan, perburuan, perdagangan ilegal hingga fragmentasi habitat juga memberikan tekanan besar terhadap keberlangsungan populasi satwa tersebut.
"Tidak tepat jika kita mempertentangkan kehilangan habitat dengan pembunuhan atau konflik seolah-olah keduanya merupakan ancaman yang terpisah. Keduanya saling memperkuat," ujar Dede.
Dede bilang, hilangnya habitat dan fragmentasi hutan dapat mendorong orang utan memasuki perkebunan maupun permukiman manusia. Kondisi tersebut pada akhirnya meningkatkan risiko konflik, penangkapan hingga pembunuhan orang utan.
Ancaman tersebut semakin serius karena orang utan memiliki kemampuan reproduksi yang sangat lambat. Orang utan betina umumnya hanya melahirkan satu anak dengan jarak antarkelahiran sekitar tujuh hingga sembilan tahun.
Karakteristik tersebut membuat populasi orang utan membutuhkan waktu lama untuk pulih ketika kehilangan individu akibat aktivitas manusia maupun kehilangan habitat. Dede pun mengingatkan risiko kepunahan lokal akan semakin besar apabila kehilangan dan fragmentasi habitat serta kematian akibat aktivitas manusia terus berlangsung.
Ancaman terutama membayangi metapopulasi berukuran kecil dan orang utan tapanuli. Oleh sebab itu, upaya konservasi dinilai perlu dilakukan secara terpadu. Beberapa langkah yang dibutuhkan antara lain menghentikan kehilangan habitat penting, menjaga dan memulihkan koridor ekologis serta menekan kematian orang utan akibat aktivitas manusia.
"Kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, akademisi, masyarakat dan lembaga konservasi juga dinilai penting untuk mempertahankan populasi orang utan yang tersisa," jelasnya.
(hsy/hsy) [Gambas:Video CNBC]