Tak Jadi Tambang Marmer, Daerah Ini Menjelma Ikon Pariwisata Dunia
Jakarta, CNBC Indonesia - Rammang-Rammang menjadi salah satu destinasi wisata andalan dari Sulawesi Selatan. Terletak di di Desa Salenrang, Kecamatan Bontoa, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, Rammang-Rammang menawarkan panorama indah dari gugusan pegunungan karst (pegunungan kapur) yang gagah dan menawan.
Rangkaian pegunungan Karst ini disebut-sebut sebagai yang terbesar di dunia setelah Chilind di China dan Tsingy di Madagaskar. Kawasan ini bahkan diakui oleh UNESCO Global Geopark.
Sunardi dari Komunitas Anak Sungai, selaku salah satu pengelola Rammang-Rammang, menjelaskan sebelum terbentuknya wisata ini pada 2007, pada kawasan Dermaga I sampai Dermaga II wilayah ini sempat dijadikan sebagai pertambangan marmer dan semen.
Namun langkah ini mendapat penolakan dari aktivis lingkungan dan perwakilan masyarakat yang mencari penghidupan di dalamnya. Alasan lain penolakan tersebut adalah Rammang-Rammang memiliki mata air yang dimanfaatkan di tiga desa.
"Sekarang baru sadar setelah terbentuk wisata itu, masuklah peneliti-peneliti. masuklah mahasiswa. Kita undang beberapa kegiatan-kegiatan di Rammang-rammang. Setelah diteliti, ternyata kita masuk di kategori nomor dua di dunia setelah China," ungkap dia di kawasan Kampung Berua, Rammang-Rammang, Senin (10/8/2026).
Selain pemandangan menakjubkan dari pegunungan karst, ada berbagai daya tarik wisata dan aktivitas lainnya yang bisa ditemui di desa wisata Rammang-Rammang. Antara lain menyusuri sungai putih dengan perahu, menikmati suasana Kampung Berua sebagai ikon landmark utama dari Kawasan Wisata Rammang-Rammang yang hanya dapat diakses dengan perahu, menyusuri goa, menjelajah hutan batu, hingga menginap di Rammang-Rammang Eco Lodge dan menikmati cantiknya sunrise di pagi hari.
Kawasan Rammang-Rammang juga terdapat hamparan area persawahan, tambak, perkebunan dan pemukiman. Selain itu, terdapat sekitar 1.250 gua-gua bersejarah, 1.340 flora dan fauna dan 123 kebudayaan masyarakat lokal.
Sunardi mengungkapkan, pengakuan warisan dunia bermula ketika UNESCO meninjau Rammang-Rammang pada 2022 lalu. Dalam kesempatan tersebut tim Asesor dari UNESCO berkeliling di Kawasan Wisata Rammang-Rammang menggunakan perahu listrik.
"Kita siapkan (perahu listrik) untuk tamu penilai ini, yang dari UNESCO. Itulah terjadi. Alhamdulillah dia menikmati perjalanan itu. Bahkan dia minat di sini," jelas Sunardi.
Sunardi juga menyebut perahu listrik disediakan oleh PT PLN (Persero) melalui PLN Unit Pelaksana Pelayanan Pelanggan (UP3) Makassar Utara. Bantuan perahu listrik bermula ketika Komunitas Anak Sungai selaku pengelola mengajukan pengadaan infrastuktur listrik di wisata Rammang-Rammang.
Setelah infrastruktur listrik mulai terpenuhi, Komunitas Anak Sungai dan PT PLN UP3 mulai menggagas pemanfaatan listrik untuk unit perahu yang mengangkut wisatawan mengelilingi kawasan Wisata Rammang-Rammang. Pemanfaatan perahu listrik tersebut membantu para pemandu menjelaskan informasi kepada turis tanpa terganggu dengan mesin motor.
"Sejak adanya perahu-perahu ini, sangat-sangat membantu keberadaan di Rammang-Rammang, salah satunya adalah Mancanegara. Mancanegara ini sangat senang menggunakan perahu listrik," ungkap dia.
Menurut dia, para wisatawan yang berkunjung ke Rammang-Rammang berasal dari berbagai negara mulai dari Asia, Australia, hingga Eropa.
"Hampir semua (negara). Banyak dari Australia. Tadi ada dari Belanda. Ada dari Spanyol juga tadi. Bahkan dari Arab juga ada," tegas dia.
Diketahui perahu listrik modifikasi tersebut dilengkapi dengan mesin berkapasitas 1,47 kW dengan baterai DC 2x58 Volt. Dibandingkan dengan mesin diesel, suara perahu listrik senyap sehingga wisatawan lebih nyaman saat berkunjung.
Sunardi menambahkan, keberadaan wisata Rammang-Rammang membantu masyarakat di sekitar wilayah. Di mana sebanyak 300 keluarga dapat dihidupi oleh wisata ini.
"Jadi selain dari supir perahu, ada yang jadi tukang parkir, ada yang jual-jualan, ada yang bikin kantin, ada yang guiding juga. Itu di antaranya kurang lebih dari 300 KK," ungkapnya.
Dalam kesempatan yang sama, Manager PLN Unit Layanan Pelanggan Maros, Sadrach menjelaskan, bantuan perahu listrik diberikan selain mengatasi kebisingan, juga untuk tujuan ramah lingkungan. Sebab kata dia kelestarian kawasan kars perlu dijaga.
PLN juga telah menyediakan Stasiun Pengisian Listrik Umum (SPLU) dengan kapasitas 7.700 Volt Ampere (VA) di jembatan dermaga 2 Rammang-Rammang. Fasilitas ini untuk memudahkan pengisian ulang baterai perahu listrik tersebut.
"Kalau nanti berkembang ke depan motor listriknya semakin banyak, nanti kita tambah SPLU-nya. Mungkin di dermaga I, dermaga III juga tambah. Dan kita siapkan juga infrastruktur listriknya," tutur Sadrach.
Upaya PLN dalam pemberian perahu listrik pun diikuti pemerintah daerah dan provinsi. Saat ini terdapat tujuh perahu listrik yang beroperasi, masing-masing sebanyak 2 unit dari PLN dan 5 unit dari pemerintah daerah.
"Jadi mudah-mudahan PLN sudah memotori pakai motor listrik. Saya harapkan mungkin perusahaan-perusahaan lain mitra yang BUMN ini bisa ikut cara yang dilakukan oleh PLN," terang dia.
(bul/bul)