Wanita Ini Koma 42 Hari Gara-Gara Digigit Kutu Saat Berlibur di Yunani
Jakarta, CNBC Indonesia - Sebuah peringatan serius bagi para pelancong yang hendak berlibur ke Eropa. Victoria Stellas (51), seorang ibu satu anak asal Anglesey, Wales, harus menelan pil pahit setelah hidupnya berubah total akibat gigitan kutu saat berlibur di Pulau Syros, Yunani. Gigitan serangga kecil tersebut memicu infeksi otak langka yang membuatnya koma selama hampir enam minggu.
Mengutip BBC, peristiwa ini bermula ketika Victoria mengunjungi rumah saudara iparnya yang memelihara kambing-hewan yang dikenal rentan menarik perhatian kutu. Awalnya, ia hanya merasakan gejala serupa flu ringan. Namun, setibanya di rumah, kondisinya memburuk secara drastis dengan serangan kejang-kejang parah setiap malam.
Karena tim medis setempat kesulitan mendiagnosis penyakitnya, Victoria dirujuk menggunakan helikopter ke Walton Centre di Liverpool. Di sana, dokter terpaksa menginduksi koma selama 42 hari untuk menyelamatkan nyawanya.
Hasil pemindaian MRI akhirnya mengonfirmasi bahwa Victoria mengidap Tick-Borne Encephalitis (TBE) atau ensefalitis yang ditularkan melalui kutu, sebuah infeksi virus yang memicu peradangan otak fatal.
"Ini telah mengubah hidup saya sepenuhnya. Selain pekerjaan, saya tidak sering keluar rumah," kata Victoria.
Dampak dari penyakit ini sangat merusak kehidupan Victoria. Akibat kehilangan ingatan jangka pendek dan kejang yang terus berlangsung, ia terpaksa kehilangan pekerjaannya di sebuah pub dan sebagai asisten pengajar anak-anak berkebutuhan khusus.
"Sebutkan pekerjaan yang tidak membutuhkan daya ingat? Semua yang Anda lakukan dalam hidup membutuhkan daya ingat. Berbelanja, bekerja, bepergian. Saya mengenali wajah semua orang, tetapi tidak bisa mengingat nama mereka. Masalah itu masih ada hingga hari ini," ujar Victoria pilu.
Kini, Victoria harus bergantung pada 15 hingga 18 tablet obat setiap hari demi mengendalikan gejalanya dan terpaksa tidur bersama ibunya akibat trauma kejang malam.
Mengenal Tick-Borne Encephalitis (TBE)
Menurut data Layanan Kesehatan Nasional Inggris (NHS), TBE merupakan infeksi virus yang menyebar melalui gigitan kutu. Gejalanya meliputi kelelahan, sakit kepala, kejang, kebingungan, bicara cadel, hingga kelumpuhan sebagian tubuh.
Profesor Benedict Michael dari Universitas Liverpool menjelaskan bahwa meskipun kasus TBE meningkat secara global dalam 30 tahun terakhir, kondisi parah seperti yang dialami Victoria tergolong jarang.
"Sekitar 97% orang yang terinfeksi tidak akan menunjukkan gejala atau hanya mengalami flu ringan. Hanya 3% yang berkembang menjadi komplikasi infeksi otak. Kondisi ini sangat krusial karena kita belum memiliki obat antivirus yang efektif untuk TBE. Penanganan utama hanyalah menjaga keselamatan pasien dan mencegah kejang," jelas Prof. Michael.
Pentingnya Vaksinasi dan Pencegahan
Mengingat TBE belum ada obatnya, langkah pencegahan menjadi harga mati. Pakar kesehatan menekankan bahwa infeksi ini sepenuhnya dapat dicegah melalui vaksinasi. Victoria, yang lahir di Yunani namun besar di Wales, mengaku sama sekali tidak tahu tentang keberadaan vaksin TBE sebelum musibah ini menimpanya. Kini, ia aktif membagikan kisahnya kepada mahasiswa Universitas Bangor untuk meningkatkan kesadaran publik.
Public Health Wales (PHW) membagikan sejumlah tips aman bagi masyarakat yang hendak beraktivitas di alam terbuka atau daerah endemik kutu:
1. Mendapatkan vaksinasi TBE minimal satu bulan sebelum bepergian ke daerah berisiko (tersedia secara mandiri melalui klinik kesehatan perjalanan).
2. Mengenakan atasan lengan panjang dan celana panjang saat berada di area berhutan atau dekat hewan.
3. Menggunakan cairan penolak serangga yang mengandung DEET pada kulit yang terbuka.
4. Selalu memeriksa tubuh, pakaian, dan hewan peliharaan setelah beraktivitas di luar ruangan.
5. Segera mencabut kutu yang menempel menggunakan pinset berujung halus atau alat khusus untuk mengurangi risiko infeksi.