23 Juta Orang Teken Petisi Usir Argentina dari Piala Dunia Selamanya

Linda Hasibuan,  CNBC Indonesia
27 July 2026 08:35
Lionel Messi berjabat tangan dengan Presiden AS Donald Trump saat menerima medali runner-up dalam seremoni penyerahan penghargaan usai final Piala Dunia FIFA 2026 antara Argentina dan Spanyol di New York/New Jersey Stadium, East Rutherford, New Jerse
Foto: Pemain Argentina Lionel Messi berjabat tangan dengan Presiden AS Donald Trump saat menerima medali runner-up dalam seremoni penyerahan penghargaan usai final Piala Dunia FIFA 2026 antara Argentina dan Spanyol di New York/New Jersey Stadium, East Rutherford, New Jersey, Amerika Serikat, Minggu (19/7/2026). (REUTERS/Hannah McKay)

Jakarta, CNBC Indonesia - Dampak dari kekalahan dramatis Argentina di final Piala Dunia FIFA 2026 melawan Spanyol terus berlanjut dan memanas. Presiden Argentina, Javier Milei, meluncurkan respons menantang di media sosial setelah sebuah petisi daring yang menuntut agar Argentina dilarang berpartisipasi dari Piala Dunia di masa mendatang sukses menembus lebih dari 23 juta tanda tangan.

Seperti diketahui, Spanyol berhasil meraih gelar Piala Dunia pria kedua mereka lewat kemenangan tipis 1-0 di babak perpanjangan waktu yang digelar di Stadion New York New Jersey. Gol penentu dicetak oleh Ferran Torres pada menit ke-106. Tim asuhan Luis de la Fuente tampil mendominasi, bahkan sukses mencegah skuad yang dipimpin Lionel Messi melepaskan satu pun tembakan tepat sasaran di waktu normal.

Namun, sorotan dunia dengan cepat beralih dari jalannya pertandingan ke insiden kekacauan saat peluit akhir dibunyikan, yang kini berujung pada investigasi disipliner oleh FIFA.

Petisi "Argentina Out" Tembus 23 Juta Tanda Tangan

Mengutip Times of India, kampanye bertajuk Argentina Out resmi ditutup pada 19 Juli 2026 dengan perolehan 23.316.108 tanda tangan terverifikasi dari pendukung di sekitar 170 negara.

Angka ini nyaris memecahkan Rekor Dunia Guinness sepanjang masa untuk petisi daring, hanya terpaut sedikit dari rekor 24,3 juta.

Petisi ini mendesak FIFA agar menolak Argentina mengikuti turnamen Piala Dunia mendatang. Para penandatangan menilai perilaku skuad Albiceleste selama dan setelah laga final telah merusak citra sepak bola. Kekacauan memuncak usai gelandang Enzo Fernández diusir keluar lapangan (kartu kuning kedua), disusul konfrontasi fisik di akhir laga.

FIFA kemudian meluncurkan penyelidikan atas insiden tersebut, dengan para pemain, staf pelatih, dan Asosiasi Sepak Bola Argentina berpotensi menghadapi sanksi disiplin.

Respons Menantang Presiden Javier Milei

Alih-alih meredakan situasi, Presiden Argentina Javier Milei justru merespons badai kritik ini dengan serangkaian pesan patriotik di Instagram. Ia secara terbuka membela tim nasional dan mengkritik balik pihak-pihak yang dianggapnya memusuhi Argentina.

"Apakah Anda punya musuh? Itu berarti Anda pernah membela sesuatu. Kami membela Argentina," tulis Milei dalam salah satu unggahannya.

Dalam unggahan lain, Milei mengklaim bahwa kecaman ini lahir karena dunia iri terhadap negaranya.

"Masalah dengan Argentina adalah kita menonjol. Kita tidak luput dari perhatian, orang-orang iri kepada kita, dan kita hebat dalam hampir segala hal."

Milei bahkan membagikan gambar hasil rekayasa AI (Kecerdasan Buatan) yang memperlihatkan dirinya merobek setelan jas untuk memamerkan jersi Argentina di baliknya, dilengkapi takarir provokatif: "Hidup Argentina, sialan!"

Unggahan-unggahan tersebut tersebar luas seiring dengan berlanjutnya perdebatan mengenai perilaku Argentina baik di dalam maupun di luar negeri.

Petisi Tandingan dan Investigasi FIFA yang Berjalan

Gelombang kritik dari luar negeri memicu reaksi domestik. Ribuan pendukung di Argentina menandatangani petisi tandingan yang menuntut laga final diulang. Mereka menuding wasit asal Slovenia, Slavko Vinčić, mengambil keputusan yang bias dan korup. Kendati demikian, tidak ada bukti terverifikasi atas tuduhan ini, dan Presiden Asosiasi Sepak Bola Argentina (AFA), Claudio "Chiqui" Tapia, telah mendesak pendukungnya untuk menerima kemenangan Spanyol.

Di tengah proses investigasi FIFA yang membidik pemain dan staf pelatih, Leandro Paredes justru tampil tanpa penyesalan. Melalui media sosialnya, ia menyatakan:

"Terima kasih, Argentina! Aku mencintaimu hari ini dan selamanya. [...] Merupakan suatu kehormatan untuk menjadi bagian dari tim Argentina terbaik dalam sejarah."

Saat ini, Paredes, Molina, Thiago Almada, dan asisten pelatih Roberto Ayala masih berada dalam pengawasan ketat FIFA. Di sisi lain, Pelatih Spanyol Luis de la Fuente mengecam insiden di Stadion MetLife tersebut sebagai tindakan yang "tidak dapat ditoleransi", seraya memuji skuadnya yang mampu menahan diri dari provokasi.

(hsy/hsy) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Hadiah Juara 1, 2, 3 Piala Dunia 2026: Spanyol Dapat Ekstra Bonus


Most Popular
Features