Heboh Warga Pilih 'Murtad' Demi Lolos Pajak, Begini Faktanya

Redaksi,  CNBC Indonesia
25 July 2026 15:45
Gereja Bern Minster Swiss. (Dok. Bern.com)
Foto: Gereja Bern Minster Swiss. (Dok. Bern.com)

Jakarta, CNBC Indonesia - Swiss dikenal global sebagai salah satu negara dengan sistem pemungutan pajak dengan persentase tertinggi di dunia. Dari sekian banyak instrumen kepatuhan fiskal yang diterapkan di negara Eropa tersebut, keberadaan "pajak gereja" (church tax) kini tengah memicu fenomena sosial yang unik: lonjakan jumlah warga yang memilih untuk menyatakan diri sebagai ateis.

Di Swiss, pajak gereja diwajibkan bagi setiap warga negara yang secara resmi terdaftar sebagai anggota komunitas keagamaan yang diakui oleh negara. Kebijakan ini berlaku secara hukum, di mana otoritas pajak pemerintah bertindak langsung untuk memungut dana tersebut atas nama gereja.

Besaran tarif pajak yang dikenakan cukup bervariasi, berkisar antara 1% hingga 3% dari total pendapatan individu. Angka pasti dari pungutan ini sangat bergantung pada regulasi kanton atau provinsi tempat tinggal masing-masing wajib pajak. Bagi sebagian masyarakat, nominal ini dinilai cukup besar dan menambah beban finansial di tengah tingginya biaya hidup.

Satu-satunya cara untuk tidak membayar pajak tersebut adalah dengan keluar dari gereja.

Menurut laporan media lokal Le News, pada 2023 ada 67.497 orang meninggalkan Gereja Katolik di Swiss. Angka tersebut hampir dua kali lipat dibanding 2022. Untuk gereja Protestan, sekitar 39.517 orang secara resmi meninggalkan gereja pada tahun yang sama. Jika ditotal, ada sekitar 100.000 orang yang meninggalkan gereja pada 2023.

Data dari Institut Sosiologi Pastoral Swiss (SPI) menunjukkan provinsi dengan aksi mundur dari gereja tertinggi berada di Basel-Stadt dengan persentase 4,5%. Provinsi yang terletak di Swiss utara tersebut memiliki sistem "berhenti dari keanggotaan gereja" yang memungkinkan orang tidak membayar pajak gereja.

Meski data resmi tidak selalu menyebutkan alasan kenapa orang meninggalkan gereja, statistik menunjukkan di provinsi di mana ada pajak gereja, tingkat orang yang meninggalkan Kristus cenderung lebih tinggi, menurut laporan Religion Watch.

Selain pajak, alasan lainnya yang mendorong orang meninggalkan gereja termasuk sekularisme hingga skandal di lingkungan rumah ibadah.

Survei dan data demografis menunjukkan semakin banyak warga Swiss yang mengidentifikasi diri sebagai ateis (sekitar ~34% dari populasi pada 2022). Angka ini menunjukkan banyak orang benar-benar melepaskan diri dari agama, terlepas dari pajak atau tidak.

(fsd/fsd) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Fenomena Warga Ramai-Ramai Murtad Buat Menghindari Pajak


Most Popular
Features