Pangeran Arab Ditemukan Meninggal usai Pesta Narkoba di Hotel Mewah

Fergi Nadira,  CNBC Indonesia
24 July 2026 12:35
Ilustrasi mayat. (Dok: Freepik)
Foto: Ilustrasi mayat. (Dok: Freepik)

Jakarta, CNBC Indonesia - Seorang anggota keluarga kerajaan Arab Saudi ditemukan meninggal dunia di sebuah hotel mewah di London, Inggris, setelah mengonsumsi campuran alkohol dan sejumlah obat-obatan. Hasil pemeriksaan koroner menyebut kematiannya merupakan kecelakaan akibat konsumsi berbagai zat, bukan bunuh diri.

Melansir Evening Standard, Jumat (24/7/2026), Pangeran Abdullah bin Fahad bin Abdullah bin Abdulaziz bin Jalawi Al Saud ditemukan tak bernyawa di kamar mandi Hotel Marriott di kawasan Kensington, London Barat, pada 25 November tahun lalu.

Menurut Inner West London Coroner's Court, pria berusia 29 tahun itu menginap di hotel berbintang tersebut sejak 19 November untuk masa tinggal selama satu pekan. Rekaman CCTV menunjukkan Abdullah terakhir kali terlihat pada malam sebelum kematiannya saat keluar hotel untuk merokok.

Keesokan harinya, seorang petugas kebersihan menemukan kamar lantai lima itu dalam keadaan terkunci dari dalam. Pangeran Abdullah ditemukan masih mengenakan pakaian lengkap dan tergeletak di lantai kamar mandi.

Petugas keamanan hotel dan tim ambulans segera dipanggil. Namun upaya resusitasi tidak berhasil dan ia dinyatakan meninggal dunia di lokasi.

Hasil uji toksikologi mengungkap kadar alkohol dalam darah Abdullah mencapai 222 mg etanol per 100 ml darah, hampir tiga kali lipat batas legal mengemudi di Inggris yang sebesar 80 mg per 100 ml darah. Kadar tersebut berada pada tingkat yang dapat menyebabkan koma.

Selain alkohol, pemeriksaan menemukan kadar tinggi Gamma-hydroxybutyrate (GHB) atau yang dikenal sebagai "party drug" dengan tingkat yang berpotensi mematikan. Di dalam tubuhnya juga ditemukan jejak ganja, alprazolam (Xanax) dalam dosis rekreasional, serta beberapa obat antikecemasan lain dalam dosis terapi.

Sidang juga mengungkap bahwa Abdullah sebelumnya memiliki riwayat penyalahgunaan alkohol dan Xanax. Pada Agustus tahun lalu, ia sempat menjalani perawatan intensif di Priory Clinic di Roehampton, London Barat Daya, sebuah fasilitas rehabilitasi yang dikenal luas.

Di sana ia menjalani proses detoksifikasi dari alkohol, benzodiazepin, dan pregabalin. Psikiater konsultan Dr. Victoria Chamorro menyatakan Abdullah menjalani terapi dengan baik tanpa efek samping fisik selama proses detoksifikasi.

"Ia sangat kooperatif dan bersikap baik kepada pasien lain sehingga menjalin banyak pertemanan," ujar Chamorro dalam keterangannya di pengadilan.

Ia mengatakan Abdullah sempat mengalami gejala suasana hati yang rendah dan kecemasan saat pertama kali dirawat. Namun ketika dipulangkan, tim medis tidak menilai adanya risiko bunuh diri.

Setelah keluar dari Priory Clinic, Abdullah melanjutkan perawatan di Rainford Hall Clinic di St Helens, Merseyside. Di sana ia juga sempat didiagnosis mengalami infeksi saluran pernapasan atas sebelum akhirnya pulih dan keluar dari fasilitas tersebut pada 14 Oktober.

Hasil autopsi menunjukkan Abdullah tidak memiliki penyakit akut maupun kronis. Namun, ia mengalami henti jantung akibat kombinasi alkohol dan berbagai jenis obat yang dikonsumsinya.

Asisten Koroner Jean Harkin menyatakan tidak ditemukan bukti bahwa Abdullah berniat mengakhiri hidupnya. Tidak ada surat wasiat atau pesan yang ditinggalkan, dan rekaman CCTV juga memperlihatkan tidak ada keterlibatan pihak lain sebelum kematiannya.

Karena itu, pengadilan menetapkan penyebab kematian sebagai "death by misadventure", yaitu kematian akibat tindakan berisiko yang tidak disengaja, dengan penyebab medis berupa konsumsi berbagai jenis zat (multi-drug ingestion). Jean Harkin turut menyampaikan belasungkawa kepada keluarga mendiang Pangeran Abdullah.

(hsy/hsy) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Promo Menginap Mewah Trans Luxury Hotel Surabaya Cuma Sampai 19 Juni


Most Popular
Features