Tragis! Remaja Tewas usai Dipenjara karena Mencontek Saat Ujian

Linda Hasibuan, CNBC Indonesia
Jumat, 24/07/2026 11:35 WIB
Foto: Ilustrasi penangkapan. (Dok. Freepik)

Jakarta, CNBC Indonesia - Duka mendalam sekaligus kemarahan tengah menyelimuti keluarga Mamadou Djouma Bah, seorang remaja berusia 17 tahun asal Guinea yang tewas tragis setelah dipenjara akibat ketahuan mencontek dalam ujian sekolah.

Melansir BBC, sang ayah bernama Mamadou Saliou Bah, secara terbuka menyalahkan pihak berwenang atas kematian putranya yang menderita penyakit sel sabit (sickle cell disease). Dalam wawancaranya dengan BBC, Saliou Bah menegaskan bahwa putranya tidak mendapatkan perawatan medis yang layak selama berada di dalam sel tahanan. Ia kini menuntut penyelidikan menyeluruh atas insiden memilukan ini.

Djouma Bah ditangkap pada 15 Juli lalu setelah diduga menggunakan ponsel saat mengikuti ujian akhir sekolah nasional. Tidak sendiri, ia ditangkap bersama beberapa siswa lain yang juga dituduh melakukan kecurangan serupa.


Hanya berselang dua hari setelah penangkapan, proses hukum berjalan sangat cepat, Djouma dinyatakan bersalah dan dijatuhi hukuman 6 bulan penjara. Ia ditahan selama 5 bulan dari hukuman tersebut ditangguhkan, sehingga ia harus menjalani 1 bulan kurungan fisik.

Djouma dijebloskan ke penjara di kota Kindia, sekitar 137 km dari ibu kota Conakry.

"Ayah, Aku Sekarat" - Kata Terakhir di Rumah Sakit

Kondisi kesehatan Djouma memburuk drastis saat berada di dalam sel. Mengingat penyakit yang dideritanya, remaja ini membutuhkan penanganan khusus. Pihak berwenang akhirnya memindahkan Djouma ke rumah sakit regional setelah kondisinya kritis.

Saliou Bah menceritakan momen memilukan saat menjenguk putranya di rumah sakit. Djouma mengeluh sesak napas dan meminta bersandar pada tubuh ayahnya.

"Lalu dia menatapku dan berkata: 'Ayah, aku sekarat.' Itulah kata-kata terakhirnya," ungkap Saliou Bah dengan penuh kesedihan.

Setelah sempat dirawat selama dua hari, Djouma dipulangkan ke rumah. Namun tak lama setelah tiba di rumah, remaja tersebut mengembuskan napas terakhirnya. Jaksa setempat mengonfirmasi bahwa korban meninggal "di bawah perawatan dokter yang merawatnya."

Bahaya Penyakit Sel Sabit di Dalam Penjara

Penyakit sel sabit merupakan kelainan genetik seumur hidup yang umum terjadi pada orang keturunan Afrika. Penyakit ini menyebabkan sel darah merah berbentuk tidak normal (seperti bulan sabit) sehingga mudah tersangkut di pembuluh darah.

Adapun beberapa dampak dan risiko sel sabit yakni penyumbatan darah memicu nyeri hebat di dada, sendi, dan punggung.

Para ahli menyatakan bahwa lingkungan penjara yang dingin, penuh sesak, dan minimnya akses air bersih serta obat-obatan dapat dengan cepat memicu krisis sel sabit yang berujung pada kerusakan organ fatal.

Gelombang Protes dan Desakan Penyelidikan

Kematian Djouma memicu gelombang solidaritas dan kemarahan publik di Guinea. Pada Rabu (22/7), ratusan siswa turun ke jalan melakukan demonstrasi demi membela teman-teman sekelas mereka yang masih ditahan.

Organisasi Hak Asasi Manusia (HAM) setempat juga mendesak dilakukannya investigasi independen untuk mengusut kelalaian otoritas penjara serta menuntut peninjauan ulang atas penahanan siswa-siswa lainnya.

Menteri Pendidikan Guinea, Alpha Bacar Barry, menyatakan dirinya "sangat sedih" dan menyampaikan belasungkawa mendalam kepada keluarga korban. Meski demikian, publik tetap menuntut adanya pertanggungjawaban hukum.

"Seorang siswa tidak boleh dipenjara. Anak-anak muda ini adalah masa depan negara kita. Saya meminta keadilan ditegakkan," tutup Saliou Bah.


(hsy/hsy) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Trump Puji Piala Dunia 2026 sebagai Salah Satu Acara Terbesar


Related Articles