CNBC Insight

Buku Paling Berbahaya Terbit, Laku Lebih dari 12 Juta Eksemplar

MFakhriansyah,  CNBC Indonesia
18 July 2026 19:00
Buku Mein Kampf Adolf Hitler
Foto: Guardian
Naskah ini merupakan bagian dari CNBC Insight, rubrik yang menyajikan ulasan sejarah untuk menjelaskan kondisi masa lalu lewat relevansinya di masa kini .

Jakarta, CNBC Indonesia - Tepat hari ini 101 tahun lalu, dunia menyaksikan terbitnya Mein Kampf, buku karya Adolf Hitler yang menurut The Guardian disebut sebagai salah satu buku paling berbahaya dalam sejarah. Melalui buku inilah Hitler menuangkan ideologi yang kemudian menjadi dasar kebijakan rezim Nazi saat berkuasa di Jerman.

Mein Kampf (Perjuanganku) resmi diterbitkan pada 18 Juli 1925, ketika Hitler masih menjalani hukuman di Penjara Landsberg usai melakukan kudeta gagal. Buku tersebut merupakan perpaduan autobiografi dan manifesto politik. Mengutip situs History, di dalamnya, Hitler menceritakan perjalanan hidupnya sekaligus memaparkan pandangannya tentang nasionalisme Jerman, kebenciannya terhadap kaum Yahudi dan Marxisme, serta gagasan Lebensraum atau "ruang hidup" yang kelak dijadikan pembenaran untuk memperluas wilayah Jerman melalui perang.

Sejarawan menilai gagasan-gagasan dalam Mein Kampf kemudian diwujudkan ketika Hitler berkuasa pada 1933. Ideologi tersebut menjadi landasan berbagai kebijakan Nazi. Mulai dari propaganda, ekspansi militer ke Eropa, hingga Holocaust yang menewaskan sekitar enam juta orang Yahudi serta jutaan korban lainnya. Atas dasar pengaruh historisnya yang begitu besar, Mein Kampf kerap dijuluki sebagai salah satu buku paling berbahaya yang pernah diterbitkan.

Dari sisi komersial, Mein Kampf juga mencatat penjualan luar biasa. Setelah Hitler menjadi Kanselir Jerman, buku itu dicetak massal dan dibeli sebagai propaganda negara. Menurut situs United States Holocaust Memorial Museum, hingga berakhirnya Perang Dunia II pada 1945, penjualannya telah melampaui 12 juta eksemplar. Ini menjadikannya salah satu buku politik terlaris sepanjang sejarah.

Setelah Nazi runtuh, hak cipta Mein Kampf dipegang Pemerintah Bavaria selama 70 tahun sehingga penerbitannya di Jerman praktis dihentikan. Baru pada 2016, setelah hak cipta berakhir, Institut Sejarah Kontemporer Munich (Institut für Zeitgeschichte/IfZ) menerbitkan edisi akademis yang dilengkapi ribuan anotasi untuk menjelaskan konteks sejarah sekaligus membantah propaganda Hitler.

Menariknya, edisi tersebut justru mendapat sambutan luas. Majalah Times mencatat, cetakan awal sebanyak 4.000 eksemplar segera habis dan terus dicetak ulang hingga mencapai lebih dari 85.000 eksemplar dalam waktu sekitar satu tahun. Total uang yang diperoleh percetakan mencapai US$ 20 ribu atau setara Rp300-an juta.

Namun, pihak penerbit menegaskan mayoritas pembeli bukanlah pendukung ideologi Nazi. Sebagian besar merupakan akademisi, mahasiswa, peneliti, hingga pembaca umum yang membeli buku tersebut untuk mempelajari sejarah Jerman dan Perang Dunia II.

(mfa/mfa) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]

Most Popular
Features