Internasional

Argentina Terancam Sanksi, Inggris Ngamuk Ngadu ke FIFA

tps, CNBC Indonesia
Jumat, 17/07/2026 20:10 WIB
Foto: Lisandro Martinez dan Giovani Lo Celso merayakan kemenangan Argentina usai memastikan lolos ke final Piala Dunia FIFA 2026 pada laga semifinal melawan Inggris di Atlanta Stadium, Atlanta, Georgia, Amerika Serikat, Rabu (15/7/2026). (REUTERS/Amanda Perobelli)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pejabat Inggris secara resmi mendesak badan sepak bola dunia, FIFA, untuk menjatuhkan sanksi tegas kepada tim nasional Argentina. Langkah hukum ini dipicu oleh aksi para pemain Argentina yang merayakan kemenangan atas Inggris di babak semifinal Piala Dunia dengan membentangkan spanduk bernuansa politik.

Tindakan tersebut dinilai telah melanggar aturan baku turnamen mengenai larangan penyampaian pesan politik di dalam lapangan. Mengutip laporan Jumat (17/7/2026), insiden diplomatik ini pecah sesaat setelah peluit panjang ditiup pada pertandingan yang digelar di Atlanta, AS, Rabu, saat Argentina sukses mengalahkan Inggris dengan skor 2-1 untuk tiket ke babak final melawan Spanyol.

Namun, suasana perayaan berubah menjadi panas ketika dua penggawa Argentina, Lisandro Martinez dan Giovani Lo Celso, tertangkap kamera membentangkan spanduk bertuliskan "Las Malvinas son Argentinas" yang menegaskan klaim sepihak atas Kepulauan Falkland. Aksi politis tersebut langsung memicu respons kemarahan yang masif dari para politisi di London.


Menteri Bisnis Inggris, Peter Kyle, mendesak FIFA untuk segera meluncurkan penyelidikan menyeluruh atas tindakan skuad Argentina tersebut. "Penyelidikan yang tepat," kata Peter Kyle yang menilai spanduk tersebut "sama sekali tidak pantas" dan merupakan "pelanggaran berat" terhadap aturan yang berlaku.

Langkah tegas ini didukung penuh oleh Kantor Perdana Menteri (PM) Inggris di Downing Street. Ia menuntut adanya investigasi formal secepatnya demi menjaga integritas kode etik olahraga internasional.

Juru bicara tersebut menyatakan bahwa PM Keir Starmer sepakat bahwa insiden ini harus diselidiki secara tuntas. "Piala Dunia mungkin bukan milik kita, tetapi Kepulauan Falkland pastinya adalah milik kita," kata jubir Keir Starmer.

Ketegangan maritim atas kepulauan di Atlantik Selatan tersebut memang terus menjadi titik api perselisihan antara London dan Buenos Aires. Bahkan perang sempat terjadi selama 74 hari pada tahun 1982 yang berakhir dengan kekalahan Argentina.

Argentina bersikukuh bahwa mereka mewarisi pulau-pulau tersebut setelah meraih kemerdekaan dari Spanyol pada tahun 1816. Sebaliknya, pihak Inggris tetap menganggap wilayah yang terletak sekitar 300 mil di timur Argentina tersebut sebagai Wilayah Seberang Laut Britania Raya yang sah.

Berdasarkan regulasi baku, FIFA dan International Football Association Board (IFAB) secara ketat melarang adanya pesan politik, keagamaan, atau pribadi selama pertandingan berlangsung. Sanksi atas pelanggaran ini dapat berkisar dari denda, skorsing pemain, hingga pengurangan poin tim nasional.

Hingga saat ini, otoritas tertinggi sepak bola dunia tersebut dilaporkan belum memberikan komentar resmi. Argentina tercatat pernah dijatuhi sanksi denda oleh FIFA pada tahun 2014 silam akibat kedapatan memamerkan spanduk klaim Malvinas yang persis sama setelah melakoni pertandingan persahabatan melawan Slovenia.

Insiden spanduk ini menjadi titik api politik terbaru yang menodai gelaran turnamen Piala Dunia tahun ini. Bulan lalu, para penonton dalam laga Iran di Los Angeles sempat mengibarkan bendera nasional Iran pra-1979 yang kerap digunakan oposisi pemerintah Teheran.

Selain itu, kompetisi tahun ini juga terus dihantam berbagai kontroversi eksternal. Mulai dari masalah harga tiket, visa, keputusan wasit, hingga keputusan kontroversial FIFA yang mencabut hukuman kartu merah penyerang AS Folarin Balogun menyusul adanya intervensi dari Presiden Donald Trump.


(sef/sef) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Timnas Iran Gagal di Piala Dunia, Kepala Keamanan AS Berjoget Ria