Messi Sudah Tua dan Posturnya Pendek, Apa Rahasia Suksesnya?
Jakarta, CNBC Indonesia - Di usia 39 tahun, Lionel Messi masih menjadi salah satu pemain paling mematikan di 2026 FIFA World Cup. Meski tak lagi mengandalkan kecepatan dan posturnya hanya 1,70 meter, kapten Argentina itu tetap memimpin daftar top skor sementara dengan koleksi tujuh gol, sejajar dengan Kylian Mbappé.
Lantas, apa rahasia Messi tetap tampil dominan di level tertinggi sepak bola dunia?
Jawabannya bukan terletak pada kekuatan fisik, melainkan kemampuan membaca permainan sebelum bola berada di kakinya. Profesor Ilmu Gerak Manusia di Australian Catholic University, Gert-Jan Pepping menjelaskan, banyak orang selama ini menganggap pesepakbola hebat harus memiliki kecepatan, kekuatan, atau postur tubuh ideal.
Namun, Pepping bilang, Messi justru membuktikan bahwa kecerdasan membaca permainan jauh lebih menentukan. Pandangan tersebut juga sejalan dengan filosofi legenda sepak bola Belanda, Johan Cruyff.
"Apa itu kecepatan? Banyak orang mengira kecepatan hanya soal berlari. Padahal jika saya mulai berlari sedikit lebih dulu daripada orang lain, saya akan terlihat lebih cepat," kata Cruyff dikutip dari The Independent, Selasa (7/7/2026).
Para peneliti menilai, Messi hampir tidak pernah berhenti menggerakkan kepalanya sebelum menerima umpan. Ia terus menoleh ke kiri dan kanan untuk mengamati posisi lawan, rekan setim, serta ruang kosong yang bisa dimanfaatkan.
Kebiasaan tersebut dikenal sebagai visual exploration atau scanning, yakni proses mengumpulkan informasi sebelum bola datang. Dengan begitu, ketika bola tiba di kakinya, Messi sudah mengetahui ke mana harus bergerak atau mengoper tanpa perlu berpikir terlalu lama.
Tim peneliti memasang sensor gerak kecil di belakang kepala para pesepak bola, mulai dari pemain akademi hingga profesional, untuk mengukur seberapa sering mereka melakukan scanning selama pertandingan. Hasilnya menunjukkan pemain yang lebih sering melakukan scanning mampu mengambil keputusan lebih cepat, lebih berani membawa bola ke depan, dan lebih sering menciptakan umpan yang membahayakan pertahanan lawan.
Penelitian yang terbit di The Conversation itu juga menjelskan soal scanning yang ada dua tahap. Tahap pertama adalah orientation, yakni mengamati seluruh situasi di lapangan untuk mengetahui pilihan yang tersedia dan potensi ancaman.
Tahap kedua adalah specification, yaitu pengamatan yang lebih spesifik sesaat sebelum melakukan operan atau mengambil keputusan. Peneliti menjelaskan, tahap orientasi justru paling sering diabaikan karena terjadi ketika pemain tidak sedang menguasai bola.
Padahal, fase inilah yang menjadi dasar pengambilan keputusan saat bola akhirnya datang. Karena itulah Messi dinilai bukan mengalahkan lawan dengan kemampuan fisik, melainkan dengan waktu.
Ia mampu melihat situasi lebih cepat dibanding pemain lain sehingga tidak perlu beradu kecepatan. Penelitian tersebut juga menegaskan kemampuan scanning bukanlah bakat alami semata, tetapi keterampilan yang dapat dilatih sejak usia dini.
Selain teknik, pengalaman, dan strategi tim, kemampuan mengamati situasi sebelum menerima bola menjadi salah satu faktor yang membedakan pemain hebat dengan pemain biasa.
Bagi para peneliti, dominasi Messi di usia yang tak lagi muda menjadi bukti bahwa kehebatan seorang pesepak bola tidak selalu berasal dari tubuh yang lebih kuat atau lebih cepat.
"Kehebatan tidak pernah tersembunyi pada tubuh. Kehebatan selalu ada pada cara seorang pemain melihat permainan," tulis peneliti.
(hsy/hsy) Add
source on Google