Makin Banyak Anak Muda Tak Mau Menikah, Bukan Soal Ekonomi
Jakarta, CNBC Indonesia - Empat tahun mungkin terdengar cukup lama untuk menyembuhkan luka hati. Namun bagi sebagian orang, gagalnya sebuah pertunangan secara tiba-tiba dapat meninggalkan bekas emosional yang jauh lebih dalam daripada sekadar putus cinta.
Itulah yang dialami seseorang yang mengisahkan bagaimana kehidupannya berubah drastis setelah sang tunangan memutuskan hubungan secara mendadak hampir empat tahun lalu. Mengutip Cosmopolitan, sejak hari itu, ia mengaku tidak pernah lagi bertemu dengan mantan tunangannya. Kejadian tersebut bukan hanya mengakhiri rencana pernikahan yang telah disusun, tetapi juga mengguncang pandangannya terhadap komitmen dan hubungan jangka panjang.
Meski patah hati kerap menjadi alasan orang tak lagi ingin menikah, data dari Pew Research Center menegaskan bahwa keengganan untuk melangkah ke pelaminan bukan sekadar perasaan emosional, melainkan tren demografis yang nyata.
Lonjakan status lajang pada 2021 mencapai rekor 25% di kalangan orang dewasa berusia 40 tahun di Amerika Serikat yang belum pernah menikah. Angka ini melonjak tajam dibandingkan tahun 1980 yang hanya berkisar di angka 6%.
Usia rata-rata orang dewasa yang memutuskan tidak menikah terus meningkat secara signifikan sejak tahun 1950-an. Fenomena ini menunjukkan bahwa bagi generasi muda saat ini, bertahan hidup dan berkembang di masyarakat tidak lagi bergantung pada status pernikahan.
Mengapa banyak anak muda enggan menikah?
Banyak Milenial dan Gen Z tumbuh dalam lingkungan yang traumatis. Mereka menyaksikan generasi Baby Boomer yang tercatat memiliki tingkat perceraian tertinggi terjebak dalam konflik pernikahan yang berlarut-larut, baik di rumah maupun di pengadilan.
Bagi banyak anak muda, pernikahan orang tua mereka bukanlah sebuah cita-cita yang harus dicapai, melainkan sebuah peringatan keras yang harus dihindari dengan segala cara.
Selain trauma masa kecil, keengganan generasi muda untuk mengikat diri secara hukum didorong oleh pergeseran sosial dan tekanan ekonomi.
Meningkatnya ketidakstabilan finansial membuat anggapan "siap menikah" bergeser seiring kondisi ekonomi yang sulit. Banyak pasangan merasa harus mencapai target pendapatan tertentu atau mampu membeli rumah terlebih dahulu hal yang kian sulit dicapai saat ini.
Banyak anak muda, khususnya perempuan, memilih menjauh karena sejarah panjang pernikahan yang dinilai patriarkis dan penuh diskriminasi gender.
Bagaimana dengan di Indonesia?
Data yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkap bukti bahwa semakin banyak warga Indonesia yang malas menikah.
Menurut Laporan Statistik Indonesia 2024, ada tren penurunan jumlah perkawinan yang cukup signifikan dalam enam tahun terakhir. Namun, penurunan paling drastis terjadi dalam tiga tahun terakhir. Dari tahun 2021 hingga 2023, angka pernikahan di Indonesia menyusut sebanyak 2 juta.
Tren ini terjadi hampir di semua daerah. DKI Jakarta, misalnya, yang mengalami penurunan di angka nyaris 4 ribu. Sementara di Jawa Barat penurunan terjadi nyaris hingga 29 ribu. Kondisi yang sama juga terjadi di provinsi padat penduduk lainnya seperti Jawa Tengah yang menyusut hingga 21 ribu dan Jawa Timur yang menurun hingga 13 ribu.
source on Google [Gambas:Video CNBC]