Sebelum Jadi Raja Asia, Timnas Jepang Dapat "Pelajaran" dari Indonesia
Jakarta, CNBC Indonesia - Hari ini, sulit membayangkan ada tim Asia yang bisa mempermalukan Jepang di lapangan hijau. Namun jauh sebelum menjadi raja Asia seperti sekarang, Timnas Jepang ternyata pernah mendapat "pelajaran" berharga dari Indonesia.
"Pelajaran" yang dimaksud bukan secara harfiah, tetapi "pelajaran" karena Indonesia berhasil menunjukkan superioritasnya di lapangan pada masa ketika Negeri Sakura belum menjelma menjadi raksasa Asia seperti sekarang. Peristiwa itu terjadi dalam ajang Merdeka Cup 1968 di Malaysia.
Indonesia dan Jepang tergabung di Grup A dan bertemu pada laga ketiga turnamen yang berlangsung di Stadion Perak, Ipoh, pada 11 Agustus 1968. Menurut harian Nusantara (11 Agustus 1968), Indonesia sudah mendominasi pertandingan sejak wasit meniup pluit.
Gaya bermain timnas Garuda adalah melalui umpan-umpan pendek dan pergerakan cepat. Ini dilakukan karena postur badan pemain timnas lebih unggul.
"Sejak kick-off, bola berpindah dari ujung ke ujung. Tetapi pemain Indonesia yang perawakannya lebih kecil bisa lebih cepat dan kontrol bolanya baik," ungkap koran Nusantara.
Gol pertama Indonesia dicetak oleh Jacob Sihasale hanya beberapa menit setelahnya. Tak lama berselang, Surya Lesmana menggandakan keunggulan menjadi 2-0 yang bertahan hingga turun minum.
Memasuki babak kedua, dominasi Indonesia semakin sulit dibendung. Koran Nusantara (11 Agustus 1968) menyebut, Jepang seperti kehilangan tenaga menghadapi serangan bertubi-tubi Indonesia.
"Pada pertengahan babak kedua, pemain Jepang 'mati' sama sekali, sewaktu pemain Indonesia menembus pertahanannya."
Akibatnya beberapa pemain Indonesia bisa dengan sangat mudah menjebol jala kiper timnas Jepang. Sampai wasit meniup pluit panjang, timnas Merah Putih berhasil mengalahkan Negeri Samurai dengan skor telak 7-0.
Keberhasilan mengalahkan Jepang membuat timnas Indonesia melaju ke babak berikutnya. Sayang, langkah timnas berhenti usai kalah tipis melawan Myanmar dengan skor 1-2. Timnas Garuda harus rela berada di posisi ketiga, setelah Myanmar dan juara umum Malaysia.
Timnas Indonesia saat itu boleh saja berbangga setelah berhasil memberi "pelajaran" kepada Jepang di lapangan hijau. Namun, superioritas tersebut tak berlangsung lama. Pada tahun yang sama, Jepang berhasil mencatatkan sejarah dengan meraih medali perunggu sepak bola di Olimpiade Musim Panas 1968 di Meksiko.
(mfa/mfa) Add
source on Google