Ahli Ungkap 6 Tips Anak Doyan Makan Sayur Sejak Dini

Linda Hasibuan,  CNBC Indonesia
02 July 2026 16:30
Ilustrasi keluarga sedang berbelanja. (Dok. Pexels)
Foto: Ilustrasi. (Dok. Pexels)
Daftar Isi

Jakarta, CNBC Indonesia - Membujuk anak untuk mengonsumsi cukup sayuran kerap menjadi tantangan terbesar bagi para orang tua. Forum dan grup obrolan parenting pun sering kali dipenuhi dengan pertanyaan penuh kecemasan, seperti: "Apakah normal jika anak saya hanya mau makan makanan yang berwarna krem?"

Mengutip BBC, keengganan anak terhadap sayur sebenarnya memiliki alasan biologis. Preferensi manusia terhadap rasa manis telah dimulai sejak dini; bahkan Air Susu Ibu (ASI) mengandung gula alami yang membuatnya terasa manis. Akibatnya, ketika anak mulai beralih ke makanan padat, memperkenalkan sebatang brokoli atau sesendok bayam yang cenderung hambar atau pahit menjadi perjuangan tersendiri.

Padahal, anak-anak sangat membutuhkan diet bervariasi yang kaya akan buah dan sayuran. Pola makan yang buruk terbukti berdampak negatif pada kognisi, konsentrasi, perilaku, hingga prestasi akademik anak.

Lebih jauh lagi, lonjakan angka obesitas anak saat ini dikaitkan dengan risiko masalah kesehatan jangka panjang serta penurunan hasil pendidikan.

Kabar baiknya, para peneliti telah menemukan sejumlah solusi inovatif berbasis sains untuk membantu orang tua meningkatkan kebiasaan makan anak di rumah. Berikut adalah enam hal sederhana yang dapat Anda coba menurut sains melansir BBC.

1. Kenalkan Sayur Sejak Dini

Mengenalkan berbagai jenis sayuran sebanyak dan sesering mungkin di usia dini memiliki dampak jangka panjang yang signifikan. Menurut Marion Hetherington, profesor biopsikologi di Universitas Leeds, Inggris, masa prasekolah adalah jendela waktu paling krusial.

"Jika Anda tidak mulai meningkatkan paparan sayuran anak-anak pada usia lima tahun, itu hampir sudah terlambat," ungkap Hetherington.

Studi menunjukkan anak-anak membutuhkan 5 hingga 15 kali paparan berulang sebelum akhirnya bisa menerima suatu makanan baru.

Tetapi anak-anak di bawah usia satu tahun mungkin membutuhkan lebih sedikit paparan daripada anak-anak prasekolah (tiga hingga empat tahun), yang biasanya menunjukkan tingkat neofobia makanan yang lebih tinggi, yaitu keengganan untuk mencoba makanan baru.

2. Tawarkan Sayuran Terlebih Dahulu

Memberi tahu anak bahwa sayuran itu sehat justru sering kali menjadi bumerang karena mereka lebih tertarik pada kata lezat. Menyajikan sayuran di awal waktu makan saat anak berada dalam kondisi paling lapar bisa jadi trik mudah.

"Mendorong konsumsi sayuran terlebih dahulu juga membantu anak-anak untuk tidak makan berlebihan," kata Barbara Rolls, seorang profesor ilmu gizi di Pennsylvania State University di AS.

3. Tambah porsi makanan yang lebih sehat

Sesuaikan rasio makanan dengan mengurangi porsi berkalori tinggi dan menggantikannya dengan volume sayuran yang lebih banyak. Penelitian membuktikan bahwa meningkatkan jumlah buah dan sayuran sebesar 50% pada piring makan secara otomatis meningkatkan volume konsumsi sehat mereka tanpa memicu penolakan.

Penelitian lain menemukan bahwa anak-anak prasekolah makan lebih banyak sayuran dan lebih sedikit makanan tidak sehat ketika mereka diberi pilihan berbagai jenis sayuran saat makan.

4. Ubah Tampilan dan Estetika Sayuran

Daya tarik visual memegang peranan besar dalam memicu selera makan anak. Memotong buah dan sayur menjadi bentuk yang unik seperti kupu-kupu, bunga, atau beruang yang terbukti melipatgandakan daya tariknya. Selain itu, menyajikan sayur dalam wadah sekat dengan porsi terukur membuat anak-anak prasekolah makan 36% lebih banyak sayur.

5. Rutin Makan Bersama Keluarga

Orang tua adalah cermin utama bagi anak. Makan bersama keluarga minimal tiga kali seminggu telah dikaitkan dengan berat badan yang lebih sehat, pola makan yang lebih baik, dan peningkatan kemungkinan anak untuk makan lebih sehat karena meniru kebiasaan baik orang tuanya.

6. Ciptakan Suasana Makan yang Menyenangkan tanpa Tekanan

Memaksa anak untuk menghabiskan sayuran justru akan menurunkan kebahagiaan makan mereka. Sebaliknya, biarkan anak-anak bereksplorasi secara sensorik (menyentuh, mencium, melihat) tanpa tuntutan untuk langsung memakannya. Pendekatan santai dan bebas tekanan ini terbukti menurunkan neofobia (ketakutan pada hal baru) dan membuat mereka jauh lebih terbuka untuk mencicipinya di kemudian hari.

(hsy/hsy) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article 5 Makanan yang Paling Cepat Merusak Otak Menurut Ahli Harvard


Most Popular
Features