Presiden RI Pecinta Bola, Ungkap Cara Timnas Bisa Masuk Piala Dunia
Jakarta, CNBC Indonesia - Indonesia pernah punya presiden pecinta bola. Dia adalah Presiden ke-4 RI, Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. Tak sekadar menonton pertandingan dia bahkan kerap membahas taktik permainan layaknya komentator atau pundit sepak bola profesional.
Sejak muda, Gus Dur memang sangat menyukai sepak bola. Dia bukan hanya menikmati pertandingan sebagai hiburan, tetapi juga gemar mengomentari bagaimana sebuah tim bertahan maupun menyerang. Sejak dekade 1970-an, Gus Dur rutin menulis pandangannya mengenai pertandingan sepak bola dunia.
Dalam gelaran Piala Dunia 1986 misalnya, Gus Dur pernah menulis ulasan panjang mengenai semakin seringnya pertandingan ditentukan melalui adu penalti. Menurutnya, sistem tersebut kerap menghasilkan hasil yang tidak adil karena tim yang tampil lebih baik justru dapat tersingkir dari turnamen.
"Tidaklah adil, kesebelasan yang penampilannya jauh lebih baik dan menggairahkan justru dikalahkan secara demikian. Itupun oleh kesebelasan yang dianggap tidak mengesankan. Kelebihan stamina dan kecerdikan siasat sajalah yang berperan, bukannya permainan bolanya sendiri," tulis Gus Dur di Harian Kompas pada 27 Juni 1986.
Menurut Gus Dur, semakin seringnya pertandingan ditentukan lewat adu penalti tidak terlepas dari perubahan sepak bola modern yang semakin mengutamakan pertahanan dibanding menyerang.
Pengetahuan dan kecintaan Gus Dur terhadap sepak bola kemudian membuatnya ikut menyoroti kondisi sepak bola Indonesia. Ketika menjabat sebagai presiden, dikutip dari Bali Post (22 Juni 2003), Gus Dur pernah mengibaratkan sepak bola Indonesia seperti manusia yang sudah berusia tua tetapi kehilangan jati dirinya sendiri. Harusnya, di usia yang tua, sepakbola Indonesia bisa berprestasi.
Menurut Gus Dur, jika Indonesia ingin mewujudkan mimpi tampil di Piala Dunia, maka yang pertama kali harus dibenahi bukanlah pemain ataupun pelatih, melainkan pengurus sepak bolanya.
"Menangani bola itu harus jelas. Jangan seperti PSSI. Wong PSSI menangani bola secara amatir. Bola itu harusnya profesional," kata Gus Dur dalam wawancara bersama Majalah Tiara pada 1996.
Menurutnya, jika pengurus dikelola secara baik dan profesional, maka pembinaan pemain, kompetisi, hingga prestasi akan mengikuti dengan sendirinya. Gus Dur bahkan mencontohkan bagaimana keberhasilan klub-klub besar Eropa seperti FC Bayern Munich dan AC Milan pada era 1990-an tidak hanya ditentukan oleh pelatih atau pemain bintang, melainkan juga oleh kualitas pengurus dan manajemen klub.
Kini, Gus Dur memang telah tiada, tetapi pandangan-pandangannya tentu masih terasa relevan di masa sekarang.
(mfa/mfa) Add
source on Google