Awas! Kebiasaan Memijat Tulang Anak yang Patah Bisa Berakibat Fatal

Linda Hasibuan, CNBC Indonesia
Selasa, 30/06/2026 16:25 WIB
Foto: Ilustrasi anak. (Dok. Pixabay)

Jakarta, CNBC Indonesia - Hingga saat ini, masih banyak masyarakat yang percaya bahwa tulang anak yang patah dapat pulih lebih cepat jika dipijat. Padahal, kebiasaan tersebut justru dapat memperparah cedera dan meningkatkan risiko komplikasi serius.

Spesialis Orthopedi Traumatologi, dr. Gabriel Klemens Wienanda, M.Ked(Surg), Sp.OT, AIFO-K, mengingatkan bahwa tulang yang mengalami patah tidak boleh dipijat atau dimanipulasi tanpa pemeriksaan medis yang tepat.

Menurut dr. Gabriel, ketika terjadi patah tulang, struktur tulang dan jaringan di sekitarnya mengalami kerusakan. Tekanan atau pijatan pada area yang cedera dapat menyebabkan pergeseran tulang yang lebih parah, merusak pembuluh darah, saraf, hingga jaringan lunak.


"Memijat tulang yang patah bukanlah tindakan yang dianjurkan. Justru hal itu bisa memperburuk kondisi cedera, meningkatkan nyeri, bahkan menimbulkan komplikasi yang lebih serius," ujarnya pada acara Media Meet Up-Eka Hospital Cibubur di Jakarta Selatan, Senin, 29 Juni 2026.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa anak-anak memang memiliki kemampuan penyembuhan tulang yang lebih baik dibandingkan orang dewasa. Namun, proses penyembuhan tetap harus diawali dengan diagnosis yang benar melalui pemeriksaan dokter dan, bila diperlukan, pemeriksaan radiologi seperti foto rontgen.

Jika patah tulang tidak ditangani secara tepat, maka risiko yang dapat terjadi antara lain tulang menyambung dalam posisi yang salah (malunion), tulang gagal menyatu (nonunion), gangguan pertumbuhan tulang, hingga penurunan fungsi anggota gerak.

Selain itu, manipulasi atau pijatan yang tidak tepat juga dapat menyebabkan perdarahan, pembengkakan yang semakin berat, serta meningkatkan risiko cedera pada saraf dan pembuluh darah di sekitar lokasi patah tulang.

Pertolongan awal

Ia pun mengimbau kepada orang tua untuk segera membawa anak ke fasilitas kesehatan apabila mengalami cedera yang dicurigai sebagai patah tulang. Tanda-tandanya meliputi nyeri hebat, bengkak, perubahan bentuk pada anggota tubuh, kesulitan menggerakkan bagian yang cedera, hingga anak tidak mampu menopang berat badan jika cedera terjadi pada tungkai.

Sebagai pertolongan pertama, area yang dicurigai mengalami patah tulang sebaiknya tidak digerakkan secara berlebihan. Orang tua dapat melakukan imobilisasi sementara menggunakan bidai atau penyangga sederhana, mengompres dingin untuk membantu mengurangi pembengkakan, serta segera membawa anak ke rumah sakit.

"Penanganan yang cepat dan tepat sangat penting agar tulang dapat sembuh dengan baik serta meminimalkan risiko gangguan pertumbuhan maupun kecacatan di kemudian hari," kata dr. Gabriel.

Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak mudah percaya pada mitos bahwa pijatan dapat "meluruskan" tulang yang patah. Penanganan patah tulang memerlukan evaluasi medis untuk menentukan apakah cukup dengan pemasangan gips, reposisi tulang, atau membutuhkan tindakan operasi.

Dengan penanganan yang sesuai sejak awal, sebagian besar kasus patah tulang pada anak dapat sembuh dengan baik dan anak dapat kembali beraktivitas normal setelah menjalani masa pemulihan sesuai anjuran dokter.


(hsy/hsy) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Layanan Premium Klinik Estetik Hadapi Persaingan Tren Beauty