ASEAN Masuk Zona Bahaya, Gelombang Panas Bisa Berbulan-Bulan

Fergi Nadira, CNBC Indonesia
Senin, 29/06/2026 16:40 WIB
Foto: Bloomberg via Getty Images/Bloomberg

Jakarta, CNBC Indonesia - Asia Tenggara menjadi salah satu kawasan yang paling rentan menghadapi gelombang panas disertai kelembapan tinggi. Kondisi ini membuat cuaca terasa jauh lebih menyengat dan meningkatkan risiko gangguan kesehatan, bahkan ketika suhu udara tidak tampak terlalu ekstrem.

Laporan terbaru organisasi nirlaba Climate Central mengungkapkan, durasi cuaca ekstrem di dunia telah meningkat lebih dari dua kali lipat dalam lima dekade terakhir. Jika pada 1970-an rata-rata hanya berlangsung sekitar 10 hari per tahun, kini fenomena tersebut mencapai rata-rata 23 hari setiap tahun.

Laporan yang dirilis Rabu (24/6/2026) itu menunjukkan sebagian wilayah Asia Tenggara, Amerika Selatan, dan pesisir Afrika Barat kini mengalami sedikitnya enam bulan setiap tahun dengan kondisi "panas lembap berbahaya" (dangerous humid heat).


Peningkatan terbesar terjadi di kawasan tropis yang memang memiliki tingkat kelembapan tinggi. Dalam kondisi seperti ini, tubuh manusia menjadi lebih sulit mendinginkan diri karena kombinasi suhu dan kelembapan yang tinggi.

Ilmuwan iklim Climate Central, Zack Labe, menjelaskan istilah "panas lembap berbahaya" mengacu pada hari-hari ketika suhu bola basah (wet-bulb temperature) mencapai 25 derajat Celsius atau lebih.

"Saat ambang batas itu terlampaui, kemampuan tubuh untuk mendinginkan diri semakin terbebani sehingga risiko penyakit akibat panas meningkat," kata Labe dikutip dari South China Morning Post, Senin (29/6/2026).

Laporan tersebut menyebut perubahan iklim akibat aktivitas manusia menjadi penyebab utama meningkatnya panas lembap berbahaya. Secara global, hampir dua pertiga hari dengan kondisi tersebut dipicu oleh perubahan iklim, sehingga membahayakan jutaan orang.

Kelembapan juga memperparah dampak gelombang panas karena membuat tubuh lebih sulit mengeluarkan panas melalui keringat. Akibatnya, hari yang tampak tidak terlalu panas tetap dapat membahayakan kesehatan.

"Hal ini mengurangi efektivitas sistem pendingin alami tubuh dan memaksa jantung bekerja lebih keras untuk mengatur suhu tubuh," ujar Labe.

Labe mengatakan, sebagian wilayah pesisir Asia Tenggara pada pekan ini tengah mengalami kondisi panas lembap yang sangat berbahaya dan kemungkinan terjadinya meningkat akibat perubahan iklim.

Fenomena serupa telah dirasakan di sejumlah negara. Vietnam bagian utara dan tengah, termasuk Hanoi, mengalami gelombang panas dalam beberapa hari terakhir. Sementara itu, Thailand mencatat indeks panas atau suhu yang dirasakan (heat index) hingga mencapai 54 derajat Celsius di beberapa wilayah, termasuk Distrik Bangna.

Kondisi serupa juga melanda Asia Selatan. Di India, suhu di berbagai wilayah sempat menembus lebih dari 45 derajat Celsius pada bulan lalu. Lonjakan suhu tersebut menyebabkan konsumsi listrik meningkat tajam karena penggunaan pendingin udara, sekaligus menambah tekanan terhadap sistem kesehatan akibat meningkatnya kasus penyakit terkait cuaca panas.

Departemen Meteorologi India melaporkan suhu maksimum di sejumlah negara bagian seperti Uttar Pradesh, Haryana, Rajasthan, Madhya Pradesh, dan Bihar masih berada pada kisaran 40 hingga 43 derajat Celsius. Kota Banda di Uttar Pradesh bahkan mencatat suhu mencapai 44,2 derajat Celsius.

Labe menambahkan pekerja yang beraktivitas di luar ruangan menjadi kelompok paling rentan karena harus menghadapi kombinasi suhu tinggi, kelembapan, paparan sinar matahari langsung, dan aktivitas fisik yang berat.

Laporan McKinsey Global Institute yang terbit bulan lalu juga menyoroti tingginya kerentanan Asia Tenggara terhadap perubahan iklim. Salah satu penyebabnya, banyak sektor ekonomi di kawasan ini bergantung pada pekerjaan luar ruangan.

Di Kamboja, Indonesia, dan Thailand, sektor pertanian masih menyumbang sekitar 8-15% terhadap perekonomian, jauh di atas rata-rata global sebesar 4%. Padahal sektor tersebut sangat terdampak oleh perubahan iklim dan cuaca ekstrem.

McKinsey juga memperkirakan hampir separuh wilayah daratan dan populasi Asia Tenggara terpapar sedikitnya satu jenis bahaya iklim. Sekitar 10% wilayah berisiko mengalami banjir akibat luapan sungai, sementara 15% wilayah menghadapi tekanan panas (heat stress).

Untuk mengurangi dampak tersebut, investasi adaptasi iklim di Asia Tenggara diperkirakan perlu meningkat dari sekitar US$12 miliar per tahun menjadi US$37 miliar per tahun. Dana itu dibutuhkan untuk membangun berbagai infrastruktur seperti sistem peringatan dini, jaringan drainase, irigasi, hingga fasilitas pendingin udara.

Labe menilai langkah paling efektif untuk mengurangi risiko penyakit akibat panas adalah meningkatkan edukasi mengenai bahaya cuaca panas di tempat kerja, memantau suhu dan kelembapan secara berkala, serta memastikan pekerja memiliki akses terhadap air minum, waktu istirahat, tempat berteduh, dan pendinginan yang memadai.

Sementara itu, ilmuwan iklim Climate Central, Kaitlyn Trudeau, mengatakan panas lembap berbahaya kini bukan lagi peristiwa langka.

"Gelombang panas lembap yang berbahaya telah berubah dari kejadian yang jarang terjadi menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari di sejumlah wilayah, mendekatkan kondisi lingkungan pada batas kemampuan tubuh manusia untuk bertahan dengan aman," ujarnya.

Temuan tersebut sejalan dengan laporan World Weather Attribution yang dirilis pada Jumat lalu. Lembaga tersebut menyimpulkan gelombang panas yang melanda Eropa saat ini dipicu oleh perubahan iklim. Sekitar 45% dari 854 kota di 30 negara Eropa telah atau diperkirakan akan mencetak rekor suhu bola basah pada akhir Juni.

Peneliti cuaca ekstrem dari Imperial College London, Theodore Keeping, menegaskan bukti ilmiah mengenai dampak perubahan iklim terhadap gelombang panas sudah sangat jelas.

"Ilmu pengetahuan telah memastikan bahwa perubahan iklim memperburuk gelombang panas. Emisi bahan bakar fosil yang terus berlanjut secara langsung menyebabkan gangguan yang kini dirasakan masyarakat di rumah, sekolah, dan tempat kerja," kata Keeping.



(hsy/hsy) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Layanan Premium Klinik Estetik Hadapi Persaingan Tren Beauty