Banyak Anak Muda Hong Kong Pilih Menganggur, Ini Biang Keroknya
Jakarta, CNBC Indonesia - Fenomena anak muda yang memilih tidak bekerja, tidak sekolah, dan tidak mengikuti pelatihan atau dikenal sebagai NEET (Not in Education, Employment or Training) semakin menjadi perhatian di Hong Kong. Jumlah kelompok ini terus meningkat seiring perubahan pola pikir generasi muda, mahalnya biaya hidup, hingga sulitnya memperoleh pekerjaan yang sesuai.
Melansir Business Times, Kamis (25/6/2026), sebuah kajian terbaru dari Dewan Legislatif Hong Kong menunjukkan jumlah NEET mencapai sekitar 36.200 orang pada 2025, atau sekitar 6% dari total populasi muda di wilayah tersebut.
NEET merupakan kelompok usia 15-24 tahun yang tidak sedang menempuh pendidikan, tidak bekerja, dan tidak mengikuti pelatihan vokasi. Mereka umumnya juga memiliki pandangan yang pesimistis terhadap masa depan.
Ini sebenarnya bukan hanya terjadi di Hong Kong. Di Inggris, semisal, survei terbaru menunjukkan jumlah NEET telah melampaui satu juta orang, tertinggi dalam 12 tahun terakhir.
Laporan tersebut bahkan memperingatkan, dalam lima tahun ke depan, satu dari enam anak muda Inggris berpotensi berada dalam kondisi yang sama apabila tren tersebut terus berlanjut.
Di Hong Kong, meningkatnya jumlah NEET dianggap cukup mengkhawatirkan karena bertentangan dengan budaya masyarakat Tionghoa yang selama ini menjunjung tinggi kerja keras dan kemandirian sebagai jalan menuju kesuksesan.
Gen Z Tak Lagi Mengejar Karier Konvensional
Salah satu faktor yang mendorong meningkatnya jumlah NEET adalah perubahan karakter generasi muda, khususnya Generasi Z. Generasi yang tumbuh dalam kondisi ekonomi relatif lebih mapan ini dinilai tidak lagi menganggap pekerjaan tetap sebagai satu-satunya tujuan hidup.
Mereka lebih mengutamakan kebebasan, keseimbangan hidup, dan kualitas hidup dibanding menerima pekerjaan bergaji rendah dengan tekanan kerja tinggi.
Di sisi lain, gelar sarjana yang dulu dianggap sebagai tiket menuju pekerjaan kantoran kini tidak lagi memberikan jaminan. Bahkan lulusan magister pun kini harus bersaing memperebutkan posisi junior.
Masalah lainnya adalah kurikulum pendidikan yang dinilai tertinggal dibanding kebutuhan industri. Lulusan dari bidang humaniora, seni, dan manajemen umum dinilai terlalu banyak, sementara keterampilan praktis yang dibutuhkan perusahaan masih kurang.
Akibatnya, banyak lulusan mengalami kegagalan berulang saat mencari kerja hingga kehilangan kepercayaan diri dan akhirnya keluar dari pasar tenaga kerja.
Harga Rumah Selangit Bikin Anak Muda Menyerah
Biaya hidup yang sangat tinggi juga menjadi penyebab utama. Menurut laporan Demographia International Housing Affordability, harga rumah di Hong Kong memang telah turun sekitar 20% dari puncaknya.
Namun, kota tersebut tetap menjadi pasar perumahan paling tidak terjangkau di dunia selama 16 tahun berturut-turut. Rasio harga rumah terhadap pendapatan (median multiple) mencapai 14,1, yang berarti masyarakat rata-rata harus menyisihkan seluruh penghasilannya selama 14,1 tahun hanya untuk membeli sebuah rumah.
Kondisi tersebut membuat sebagian anak muda merasa bekerja keras pun belum tentu mampu memiliki rumah atau hidup mandiri. Dampaknya sebagian memilih menjalani gaya hidup "lying flat", yakni tidak mengejar promosi maupun kenaikan gaji, bahkan sengaja mempertahankan pendapatan rendah agar memenuhi syarat memperoleh rumah sewa bersubsidi dari pemerintah.
Pilihan tersebut perlahan membuat sebagian dari mereka masuk dalam kategori NEET.
Tinggal Bersama Orang Tua, Hilang Motivasi Bekerja
Faktor lain yang memperkuat tren ini adalah kondisi keluarga. Generasi baby boomer di Hong Kong umumnya memiliki tabungan yang cukup sehingga masih mampu menanggung kebutuhan anak-anak mereka yang sudah dewasa.
Karena kebutuhan dasar tetap terpenuhi, sebagian anak muda kehilangan dorongan untuk segera mencari pekerjaan. Orang tua yang pernah mengalami masa-masa sulit juga cenderung lebih memaklumi keputusan anak untuk beristirahat sementara atau "rebahan" di rumah.
Dalam sejumlah kasus, kondisi tersebut berkembang menjadi isolasi sosial. Sebagian anak muda memilih menghabiskan waktu di rumah selama bertahun-tahun, lebih banyak berinteraksi melalui internet, hingga perlahan menarik diri dari kehidupan sosial.
Perubahan sikap masyarakat juga turut berperan. Jika dahulu menganggur dalam waktu lama dan bergantung pada orang tua dianggap memalukan, kini masyarakat Hong Kong dinilai lebih menerima pilihan tersebut.
Fenomena jeda karier atau menganggur sementara di antara dua pekerjaan menjadi semakin lazim sehingga mendorong lebih banyak anak muda memilih gaya hidup NEET. Para ahli memperingatkan semakin lama seseorang berada di luar dunia pendidikan maupun pekerjaan, semakin besar risiko munculnya masalah kesehatan mental dan menurunnya kemampuan bersosialisasi.
Selain itu, membiarkan sejumlah besar tenaga kerja muda tidak produktif dalam waktu lama dinilai sebagai pemborosan sumber daya manusia yang dapat menekan produktivitas dan menghambat pertumbuhan ekonomi.
Hong Kong pun mulai membahas berbagai langkah untuk mengatasi fenomena NEET, mulai dari memperbaiki struktur industri, menyelaraskan dunia pendidikan dengan kebutuhan pasar kerja, hingga membangun kembali budaya kerja yang positif. Pemerintah menilai penyelesaian masalah ini tidak cukup hanya dengan mendorong anak muda mencari pekerjaan, tetapi juga memerlukan perubahan kebijakan yang menyeluruh.
(miq/miq) Add
source on Google