Terapi Regeneratif (Stem Cell): Jalan Keluar Pemulihan Pasca Stroke

Elga Nurmutia, CNBC Indonesia
Selasa, 23/06/2026 11:18 WIB
Foto: Ilustrasi Terapi Regenaratif (Dok Istimewa)

Jakarta, CNBC Indonesia - Lebih dari 357 ribu warga Indonesia tercatat meninggal akibat stroke setiap tahun atau sekitar 21% dari total kematian nasional. Hal tersebut menempatkan Indonesia di urutan ke-11 kasus kematian akibat stroke di dunia. Dengan catatan itu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pun menjadikan stroke sebagai penyebab kematian tertinggi di Indonesia.

Menurut para ahli, tingginya angka kematian bukan hanya disebabkan oleh faktor risiko, tetapi juga karena sebagian besar pasien terlambat datang ke fasilitas kesehatan.

Beberapa jam pertama setelah serangan stroke, tindakan cepat dokter dapat menyelamatkan nyawa dan meminimalkan kerusakan otak. Setelahnya pasien rutin menjalani fisioterapi dan konsumsi obat-obatan.


Bagi sebagian pasien, perkembangan di awal terlihat menjanjikan. Namun, tidak sedikit pula yang merasa proses pemulihan berjalan di tempat di mana kemampuan motorik atau bicara tetap terbatas meskipun sudah berikhtiar berbulan-bulan.

Stagnansi ini berkaitan erat dengan karakteristik sel otak yang sangat sulit untuk memperbaiki dirinya sendiri secara alami. Terutama setelah mengalami kerusakan akibat penyumbatan atau pecahnya pembuluh darah.

Pendekatan medis konvensional selama ini lebih berfokus pada pencegahan stroke berulang, seperti mengontrol tekanan darah dan mengencerkan darah serta memaksimalkan sisa fungsi tubuh. Sayangnya, belum ada obat yang mampu menghidupkan atau memperbaiki jaringan otak yang sudah telanjur mati.

Di sinilah inovasi modern Regenerative Therapy (Terapi Regeneratif) atau yang lebih kita kenal dengan istilah stem cell membawa secercah harapan baru.

dr. Febby Astari, IFMCP, dokter functional medicine di Seraphim Medical Center Gading Serpong menjelaskan, prinsip dasar dari regenerative therapy adalah mendukung kemampuan alami tubuh untuk memperbaiki dan meregenerasi dirinya sendiri.

Dengan kata lain, terapi ini merupakan metode pengobatan yang dirancang untuk memperbaiki atau menggantikan sel, jaringan, atau organ yang rusak agar bisa berfungsi kembali seperti semula.

"Dalam dunia kesehatan dan kecantikan ke depannya, terapi ini fokus tidak hanya untuk memperbaiki gejala tapi mengembalikan fungsi tubuh. Selain itu, terapi ini juga dapat mendukung kualitas tidur yang baik, keseimbangan hormon, reverse aging dan lainnya," ungkapnya.

Melalui pemanfaatan sel punca (stem cell) atau terapi eksosom, kedokteran modern melatih sel yang tersisa dan mencoba memperbaiki lingkungan mikro di dalam otak yang rusak. Ketika material biologis aktif ini disuntikkan secara aman ke dalam tubuh, mereka bekerja dengan melepaskan zat kimia khusus yang memicu angiogenesis (pembentukan pembuluh darah baru) untuk meningkatkan suplai oksigen ke otak.

Lebih jauh lagi, terapi ini merangsang plastisitas otak kemampuan sel saraf untuk membentuk koneksi baru dan menekan peradangan kronis yang menghambat pemulihan pasca-stroke. Terapi regeneratif menawarkan berbagai keunggulan menawarkan berbagai keunggulan, seperti minim risiko penolakan karena menggunakan material biologis yang sering kali diambil dari tubuh pasien sendiri.

Kemudian prosedur biasanya hanya berupa suntikan lokal, sehingga tidak memerlukan sayatan besar atau rawat inap yang lama. Terapi ini juga memerlukan waktu pemulihan yang singkat.

 


(rah/rah) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Intip Gemasnya Rio, Bayi Panda Pertama RI Hasil Diplomasi Panda China


Related Articles